
Melihat penampilan mencolok dari pria yang duduk di samping dio dan diaku sebagai bakal suaminya, nada yang penasaran pun bertanya “by the way, maaf ya gua penasaran, pacar lu kerja di mana di?” ucap nada. “di IT International!” dio menjawab dengan cuek. “wah kebetulan dong!, cowok gua juga kerja di sana!, dia divisi periklanan. Katanya sih mau naik jabatan!” ucap nada menjelaskan dengan ekspresi yang berlebihan. “ohh!” sahut dio dengan singkat seakan tak peduli. Nampak seorang pria muda masuk ke dalam warung dan menghampiri nada “sayang, kata temenku, pacarnya juga kerja di tempat kamu loh!” ucap nada pada pacarnya. “oh, ya?” sahut pria muda itu sembari menatap ke arah veno.
Alangkah terkejutnya pria muda itu, hingga rasanya ia ingin tersedak meskipun tenggorokannya dalam keadaan kosong. “bo, boss??” ucap pria muda itu dengan terbata – bata menatap veno. Nada terperanjat mendengar pacarnya menyebut pria di samping dio dengan sebutan bos. “dia bos aku di kantor!” ucap pria muda itu lirih pada nada. “hah!” nada terperanjat dan tak bisa berkata – kata. “dia pacarmu?” veno bertanya dengan datar pada pria muda itu. “ehm, iya bos!” sahut pria muda itu dengan sopan. Dio yang telah selesai makan segera beranjak dari tempat duduknya, dan menghampiri wanita paruh baya yang tengah sibuk membungkus nasi padang. “totalnya berapa buk?, sama nasi bungkusnya nada juga sekalian!” ucap dio dengan suara yang cukup keras agar nada ikut mendengar.
Mendengar ucapan dio, nada pun bereaksi “gak usah di, gak usah repot – repot!” sahut nada dengan rasa malu yang tak bisa ia tutupi. “gak papa nad, anggep aja cowok gua lagi nraktir anak buahnya!” sahut dio sembari tersenyum. Mendengar ucapan beserta senyuman dari dio, harga diri nada yang telah ia junjung tinggi seketika jatuh dan terinjak.
__ADS_1
Selesai membayar, dio dan veno segera keluar dari warung dan melanjutkan perjalanannya. “dasar perempuan sombong, rasa’in malu gak tuh!. Andai dia tau kalu gua istri bos pacarnya, semakin kebakaran jenggot dong dia!, haha!” ucap dio dengan heboh dan rasa bangga di dalam. “dia kan cewek, mana punya jenggot!” sahut veno menyela. “iya juga sih!” dio menyahut sambil berfikir sejenak. “tau ah, yang penting sekarang kita mau main kemana?” ucap dio sembari menatap veno penasaran. “lu maunya kemana?, apa mau ke Luar Negeri?” ucap veno dengan menantang. “gak kurang jauh apa?, sekalian ke Luar Angkasa aja gimana?, dio menyahut sambil menatap sinis ke arah veno.
“ya udah terserah kamu aja, emang kamu pengennya kemana?” sahut veno menawarkan. “ke mall aja deh, gua mau beli perhiasan!, biar gak kalah sama sosialita lainnya!” dio menjawab sembari memainkan jari – jari tangannya seakan menirukan gaya sosialita denga perhiasan mewah di tangannya.”hahaha, iya ayo!” dengan enteng, veno pun menyetujui permintaan dio dan mobil pun melaju menuju mall.
Sesampainya di mall, dio dan veno berjalan bergandengan menuju sebuah toko perhiasan mewah dengan berlianlah sebagai ikonnya . Begitu banyak perhiasan di depannya, seketika mata dio pun silau dan hanya kebingungan terhadap perhiasan yang akan dipilihnya. Pasalnya hampir seluruh model nampak cantik, hingga membuat dio menjadi celingukan dan tak bisa menentukan pilihan. “apa yang bisa kami bantu!” ucap salah satu karyawati sembari berjalan mendekat. “emm, masih bingung kak!” sahut dio dengan ragu – ragu sembari terus menatap berbagai banyak pilihan di depannya. “katanya mau beli yang hedon, biar kayak sosialita?” ucap veno menyela. “sstttt!!, siapa bilang mau beli yang hedon!, gua pengennya yang simpel aja!” sahut dio dengan kebingungan, sambil melotot ke arah veno.
__ADS_1
Dio tak menyadari jika veno telah beranjak dari kursi tempat tunggunya, dan hanya tinggal dirinya sendiri. “mbak, coba lihat yang ini!” dio menunjuk pada sebuah cincin bertatahkan berlian kecil di atasnya yang nampak simpel dan elegan. “ven, gimana cincin ini?” ucap dio sembari menoleh ke arah kursi tempat veno duduk. “lo, dimana veno?” ucap dio dalam batin sembari menoleh ke kanan dan kiri dengan kebingungan. “lu juga mau beli perhiasan ya?” ucap seorang gadis yang tiba – tiba muncul mengagetkan dio. Dio pun menoleh ke arah suara, “leli?” dio menyahuti perkataa gadis yang menyapanya itu.
“ya ampun, kenapa hari ini gua sial mulu sih!, tadi ketemu nada eh sekarang ketemu leli!, apes deh!” ucap dio menggerutu dalam batin. Leli adalah teman satu geng dengan nada saat masih duduk di bangku SMP. Watak leli hampir mirip dengan nada yakni suka pamer, suka bersaing, dan tak mau kalah dengan dio saat di sekolah. “gua pikir setelah keluarga lu bangkrut, lu bakal lebih berhemat. Tapi kayaknya lu sama seperti dulu deh, masih seneng belanja barang – barang mewah!” ucap leli sembari memandang sinis dio, dari ujung kepala hingga ujung kaki. “siapa lel?” ucap perempuan paruh baya berpenampilan modis sembari menghampiri leli. “ini ma, dio!, temenku SMP yang sering aku cerita’in dulu!” sahut leli dengan nada merendahkan. “ohh!” mama leli menyahut sembari memandangi penampilan dio.
“maaf, gimana kak jadi dibeli atau masih mau lihat lainnya?” ucap karyawati toko dengan sopan. “sebentar ya mbak, masih bingung hehe!” sahut dio sambil meletakkan cincin bertatahkan berlian itu kembali. “apa uangmu kurang di?, mau gua tambahin?, pffft!” sahut leli sembari menahan tawa, mencoba meremehkan. “sorry, gak perlu lel!, gua ada kok!” ucap dio sembari tersenyum, sambil menunjukkan Black Card miliknya pada leli maupun mamanya. Melihat sebuah Black Card di tangan dio, leli dan juga mamanya melotot kaget. Mulutnya mengaga seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
__ADS_1
“sayang, coba deh!, ini barang limited edition dan paling baru di toko ini, coba pakai!” ucap veno sembari keluar dari ruang VIP menuju tempat dio berdiri. Melihat pria tampan layaknya model tengah berjalan mendekat, leli dan mamanya nampak gugup. “sayang, coba deh!” ucap veno sembari memasangkan sebuah gelang rantai dengan hiasan beberapa berlian di atasnya. “waaah, cantik banget sayang!” sahut dio dengan sengaja memberikan ekspresi yang berlebihan. “mbak, saya mau yang ini!” ucap veno pada karyawati toko tersebut. Melihat penampilan veno yang begitu menawan, jiwa kegatelan leli pun meronta – ronta. “ehm, siapa dia di?” ucap leli sembari menarik senyum di bibirnya dengan malu - malu. “dia calon suami gua!” dio menyahut dengan cuek. “calon suami?” ucap leli dengan ekspresi yang nampak kecewa.