
Indah keluar dari dalam kelas, dan menghampiri dio dan kevin yang sedang tertawa terbahak – bahak di depan pintu. Merasa penasaran dengan topik apakah yang sedang mereka bicarakan, indah mempercepat langkah kakinya menghampiri dio dan kevin. “ada berita apa’an nih.?, kok kayaknya seru banget.??” Sembari mendekatkan telinganya pada mereka berdua, Indah bertanya penasaran. “gak ada sih.!!, cuma kevin barusan udah nyelametin gua dari malapetaka!, kalau gak dibantu kevin, gua sekarang pasti masih lari di lapangan basket tuh.!!” Dio menjawab dengan antusias, sembari menunjuk ke arah luar kelas.
“by the way, yang ambil raport lu hari ini siapa di??” Indah bertanya penasaran. Dio memandang serius pada indah, dio pun menjawab “emang hari ini pembagian raport?” dio bertanya dengan ekspresi bingung.
“jangan bilang kalau lu gak baca pengumuman di grup kelas?” Indah menyauti sinis.
“hehehe, enggak.!!” Dio pun menjawab dengan polos. “kalau saran gua sih, mending lu jual aja hape punya lu!, fungsinya hape tuh buat menyampaikan dan menerima informasi, eh elu nya punya hape, tapi informasi gak pernah tau!!”, “mubazir hape lu di.!!” Ucap indah dengan nada ketus. “yaelah, gak membantu saran lu.!!, lagi’an lu juga gak
ngasih tau gua kalau ada acara pembagian raport segala.!!” Saut dio.
“dioooo.!!!, gua ini bukan emak lu tauu.!!, masak iya gua harus ngingetin dan ngasih kabar lu terus – terusan.?” Saut indah dengan menahan emosinya. “baiklah, gua ambil sendiri aja deh raportnya.!!” Dio menjawab dengan bersemangat. “mana bisa.??, ya gak boleh lah.!!” Indah menjawab dengan ekpresi pasrah. Seakan kesal dengan pembicaraannya bersama dio, indah menghela nafas sembari memijat keningnya secara perlahan.
“tau ahh.!!, ribet deh lu.!!” Saut dio sembari berjalan masuk ke dalam kelas.
__ADS_1
Saat ini dio sedang duduk di bangkunya dengan ekspresi wajah yang nampak bingung dan gelisah.
“apa gua hubungi veno ya.??” dio bergumam dalam batin. “tapi nanti kalau ditanya, status dia siapa.?, gak mungkin
dong kalau gua bilang dia suami gua.!!”, “bisa mati konyol dong gua.!!” Dio bingung dengan kondisinya saat ini. “biarin deh, gua coba telfon veno aja.!. semoga dia masih bisa kesini.!!” Ucap dio dalam batin. Dio segera mengeluarkan ponselnya untuk menelfon veno. Sampai nada dering berbunyi lama, veno belum juga mengangkat panggilan dari dio. “duuh, veno kemana sih.?, apa jangan – jangan dia lagi meeting.??” Ucap dio dalam batin. Sampai tiga kali dio menelfon veno, belum satupun panggilannya di angkat oleh veno. Merasa gagal menghubungi
suaminya, dio tertunduk lesu. Ekspresi dio pun berubah menjadi murung dan sedih seketika. “terus raport gua siapa dong yang ngambilin.?” Dio menggerutu dalam batin. Tiba – tiba, “drrtttt, drrrtttt” ponsel dio bergetar, nampaknya seseorang sedang menelfon dio.
Bagai matahari yang keluar dari belenggu awan hujan, wajah dio yang nampak lesu dan muram itu langsung berubah cerah dan ceria. Ia tersenyum penuh kegembiraan melihat suaminya menelfon balik dirinya. “pucuk di cinta, ulam pun tiba.!!, betul – betul suami yang sigap deh..!!” Ucap dio dalam batin sembari terus kegirangan. Segera dio mengangkat panggilan dari suaminya itu, dan percakapan mereka berdua pun terjadi. “halo ven.??” , “iya hallo, ada apa di.??”, “hari ini lu ada waktu gak.??”. “ada sih, kenapa emang.? Mau nge date.?” Veno bertanya dengan polos. “bukan ven.!!, hari ini gua ada pembagian raport. Lu bisa dateng ke sekolah gua gak.???” Ucap dio dengan penasaran. “bisa sih, tapi gak enak juga kan, kalau ditanya gurumu nanti, mau ambil raport siapa ya.?, masak gua bilang mau ambil raport istri saya.!!” Ucap veno dengan polos. “ya jangan bilang istri lu dooongg.!!” Saut dio dengan nada yang nge gas. “lha terus siapa?, bapak lu.?, om lu?, apa sugar daddy lu.? Pffttt.!!!” Jawab veno sembari menahan tawa, dan mencoba menggoda dio.
“iya – iya istriku, suami mu ini bakal menghadiri pengambilan raport di sekolahmu.!!” Veno menjawab sembari terus mencoba menggoda dio. “tauu ahhh.!!” Jawab dio ketus. “gua agak telat dikit ya di, masih ada urusan yang masih gua urus.!!” Ucap veno serius. “terserah.!!” saut dio dengan ketus. “tuuutt.!!”, tanpa permisi, dio segera mengakhiri panggilan telefon dari veno. “lagi ngomong serius, malah ngajak becanda mulu tuh laki.!!” Dio menggerutu dalam batin.
“lha, dimati’in.??” Veno berkata dalam batin, sembari memandang ponselnya sembari terus tersenyum.
__ADS_1
Karena merasa puas telah menggoda istrinya, veno nampak tak bisa menahan senyum dari bibirnya. Riko dan salah satu karyawan di perusahaan veno yang menyaksikan kejadian langka di hadapannya itu, saling berpandangan satu sama lain. Melihat tingkah boss yang terkenal dingin tanpa senyum, saat ini tengah tersenyum malu – malu, bak seorang ABG yang tengah kasmaran, membuat riko dan karyawan itu bingung dan saling menatap heran. “ko, batalin acara meeting karyawan hari ini, gua ada acara penting soalnya.!” Ucap veno pada riko. “ada acara penting apa ven.??” riko bertanya penasaran. “mau ngambil raport istri gua di sekolah.!!” Jawab veno sembari terus tersenyum malu.
Bagai tersengat aliran listrik, riko dan salah satu karyawan itu diam mematung. “gua pikir ada urusan bisnis lain yang lebih penting.!!, eh ternyata ada urusan keluarga.!!” Riko berkata sambil menepuk keningnya, dan melepas nafas panjang dari bibirnya. Salah satu karyawan yang tengah terdiam itu masih belum bisa mencerna perkataan dari bossnya itu. Ia nampak bingung, dan masih penasaran dengan maksud dari perkataan veno. “istri boss.?”, “sekolah.?”, “istri boss masih sekolah.?, atau istri boss udah punya anak yang lagi sekolah.???” Salah satu karyawan itu tak bergeming, dan ia hanya menggerutu dalam batin karena penasaran. “biarin lah.!!, udah banyak beban pikiran gua.!!, kenapa gua susah – susah mikirin masalah boss.!, entah pacar, istri, atau apalah itu, gua gak peduli deh.!!” Karyawan itu mencoba berfikir positive, dan mencoba tak menghiraukan ucapan veno.
Merasa tak ada lagi yang harus ia laporkan, karyawan itu berpamitan untuk kembali ke ruang kerjanya. “Pak veno, saya pamit ke ruangan saya.!!” Ucap karyawan itu sembari berbalik meninggalkan veno yang masih terus tersenyum tanpa henti. “ok.!!” Saut veno singkat. “berkas – berkas yang harus gua tanda tangani mana.?” Ucap veno pada riko dengan nada yang tegas. Sembari menyerahkan beberapa berkas di tangannya, riko menjawab, “ini
ven.!!” dengan kecepatan ekstra bak sedang kesetanan, veno segera memeriksa dan menandatangani beberapa berkas itu dengan sangat cepat.
Setelah menyelesaikan semua tugasnya, veno segera berdiri dari tempat duduknya. “finally selesai juga.!!, gua mau berangkat ke sekolah dio.!!”, “ko, berkas yang abis gua cek barusan, tolong rapi’in ya.!!” Ucap veno pada riko, sembari menunjuk ke arah meja kerjanya. “ok.!!” Saut riko singkat. Riko memandang ke arah meja, dan alangkah terkejutnya riko, melihat seluruh berkas itu berantakan, dengan kondisi semua berkas yang terbuka tak beraturan di atas meja. “huuuufffft veno!!” riko menghembuskan nafas berat sembari menggerutu.
Veno segera menginjak pedal gas mobilnya, dan mobil pun melaju meninggalkan parkiran perusahaan menuju jalan raya. Mobil veno melaju dengan kecepatan yang cukup kencang, dengan tujuan perjalanan yakni sekolah dio yang lokasinya tak begitu jauh dari perusahaan veno berada. Sembari terus melirik ke arah jam tangannya, veno terus mempercepat laju mobilnya. “semoga acaranya belum selesai.!!” Ucap veno dalam batin.!!”
Di sekolah
__ADS_1
Semua wali murid maupun orang tua dari siswa kelas dio telah masuk dalam kelas, dan acara nampak sudah di mulai oleh Bu Ima, yakni wali kelas dio. Karena sekolah dio adalah sekolah favorit dengan biaya yang super mahal, sudah bisa dipastikan jika hanya anak para konglomerat lah yang bisa bersekolah di sekolah dio. Hampir seluruh tamu berpakaian elegan, rapi, dan juga fashionable. Sampai beberapa lama, veno masih juga datang. Dio kawatir dengan veno yang masih belum juga datang. Karena acara inti sudah hampir dimulai, dio nampak semakin gelisah. “ceklek.!!” Pintu kelas dio pun terbuka, nampak seorang berpenampilan rapi dan fashionable berjalan dari balik pintu. Bak seorang model profesional, ia berjalan masuk ke dalam kelas dengan membuat seluruh hadirin dalam kelas dio pun memandang dengan tatapan terpanah.