
Melihat pria yang telah ia bentak dan ia tunjuk – tunjuk kemarin duduk di kursi dengan pelakat bertulisakan “Direktur Utama” di atas mejanya, ayah dika tak bisa berkata – kata dan hanya bengong dengan mulut yang mengaga. Layaknya orang bodoh yang tak mengerti apa – apa dan tak tau harus berbuat apa, ayah dika hanya diam memandang veno dengan tatapan syok.
Melihat salah satu perwakilan perusahaannya yang hanya diam melongo, kedua perwakilan lainnya saling menyenggol satu lain. Tak ingin terus berada dalam posisi canggung, salah satu perwakilan lainya pun memecah keheningan. “selamat pagi Pak Veno!!, kami bertiga perwakilan dari Perusahaan Globalindo yang tempo hari meminta janji temu bersama Pak Veno!!” ucap salah satu perwakilan itu dengan ramah. “langsung ke intinya!!” ucap veno dengan ekspresi datar.
“kami dari Perusahaan Globalindo ingin melakukan kerjasama bersama Perusahaan IT International, mohon bapak berkenan membaca proposal yang telah kami susun!!” ucap salah satu perwakilan itu sembari merebut proposal yang dibawa oleh ayah dika, dan memberikannya pada veno. “silahkan duduk!” ucap veno dengan suara datar. “oke, mari kita bahas bersama!, tapi saya hanya mau membahas masalah kerjasama dengan kalian berdua saja!!, saya gak mau ada orang ini di kantor saya!!” ucap veno dengan tegas sembari menunjuk ke arah ayah dika.
Kedua perwakilan lainnya sontak kaget, kiranya masalah apa yang ada diantara veno dengan salah satu rekannya itu. Sehingga seorang Direktur Utama yang terkenal akan Profesionalisme kerjanya, bisa menolak dan mengusir secara langsung seseorang dari dalam kantornya. Pastinya masalah diantara mereka berdua bukanlah masalah yang sederhana saja.
Melihat jari telunjuk veno yang menghadap ke arahnya, badan ayah dika seketika menjadi kaku dan tegang bagaikan tersengat listrik bertekanan tinggi. Merasa tertampar dengan ucapan veno, ayah dika pun berpamitan untuk meninggalkan ruangan kerja veno “sa-saya pam-pamit undur dir-ri!!” ucap ayah dika dengan terbata – bata. Tak menjawab ataupun merespon, veno sengaja tak mempedulikan ucapan ayah dika, bahkan untuk melirik pun veno merasa enggan. Akhirnya ayah dika keluar dari kantor veno dengan raut wajah nampak kesal. Setelah ayah dika keluar dari ruangan veno, kedua perwakilan lainnya segera menyampaikan maksud tujuannya untuk datang ke kantor veno, hingga sebuah kesepakatan yang menguntungkan bagi kedua pihak pun tercapai.
__ADS_1
Di mall.
“di!!, coba lihat deh!!, lucu kan!!” ucap indah memanggil dio dengan bersemangat. Nampak indah tengah memilih beberapa jepit rambut model terbaru yang berjajar rapi rak di sebuah toko aksesoris dalam mall tersebut. “waah, iya lucu banget ndah!!” saut dio sembari menoleh ke arah indah, dengan sebuah boneka kecil berbentuk ulat bulu di tangannya. “kamu mau beli boneka?, kamu pilih aja mana yan kamu suka, biar gua yang bayarin!!” ucap kevin sembari mendekat ke arah dio. “lu pikir gua gak punya uang apa!!, dikit – dikit mau beli’in ini itu!!” saut dio mencoba menggoda kevin.
“ya bukan gitu juga maksud gua di!!, gua cuma berusaha jadi pria yang bertanggung jawab aja sama lu!” saut kevin. “what?, tanggung jawab? Menurut gua, mending lu nikahin dio deh vin!, lu bisa sepuasnya bertanggung jawab lahir batin sama dio!” saut indah bercetuk denga spontan. “apa sih ndah, jangan asal ngomong deh!!” saut dio dengan tegas.
Mendengar usul dari indah yang cukup menantang, kevin pun tersenyum sembari menjawab “hehe, ya kalau dio mau, gak usah nunggu lulus sekolah, hari ini pun gua gass lah!!” ucap kevin sembari tersenyum menggoda dio. meskipun raut wajah kevin nampak cengengesan menggoda dio, namun dalam hati kevin yang paling dalam, sejatinya telintas keinginan bagi kevin untuk menikahi wanita pujaan hatinya itu.
“dddrrrrtttt!!!” sebuah notifikasi pesan masuk mengagetkan dio. dengan segera, dio pun mengambil ponselnya dan membaca pesan singkat itu. “semangat ya sekolahnya” nampak sebuah pesan berisi kata semangat dikirim oleh suaminya. Seketika senyum cerah pun terpancar dari bibir dio. Nampak dengan malu – malu dio pun membalas pesan dari veno “gua lagi di mall, gak lagi sekolah!!”. Belum satu menit pesan terkirim, veno yang telah membaca pesan itu pun langsung menelfon dio.
__ADS_1
“hallo di, lu dimana?, kenapa bolos sekolah?” ucap veno dengan penasaran. “mana ada perempuan berprestasi kayak gua bolos sekolah!!, gua habis ikut kegiatan luar sekolah ven, ini gua lagi di mall deket kantor lu!!” ucap dio dengan nada yang cukup tinggi. “ohh, gua pikir lu bolos sekolah!, udah makan?” ucap veno penasaran. “belom!” saut dio singkat. “jangan lupa makan!, oiya di, gua nanti pulang telat, jadi tidur aja duluan, gak usah nunggu’in gua!, pffttt!” saut veno semari menahan tawa. “repot banget kalau harus nungguin lu pulang!, dari pada pada nyiksa mata gua, mending gua tidur!!” ucap dio dengan ketus guna menggoda veno.
Di rumah Om Fadli.
“aaaaaa!!, prang!!” terdengar suara teriakan keras di iringi benda jatuh dari dengan suara yang cukup keras. Nampak vas bunga di atas meja itu jatuh ke lantai, dan pecah menjadi bagian – bagian kecil yang tajam. “keluarga rafli semua pembawa sial!!, terutama anaknya, dio!!” ucap istri Om Fadli dengan suara yang cukup keras. “ceklek!!” tiba – tiba pintu kamar anak Om Fadli pun terbuka. Dengan raut wajah yang kesal, dan hanya memakai kaos singlet dan celana kolor, anak Om Fadli pun menghampiri mamanya yang tengah emosi. Melihat anaknya berjalan menghampirinya, istri Om Fadli nampak terkejut. “dimas?, kapan kamu pulang?” ucap istri Om Fadli dengan kaget. Melihat asbak berbahan porselen di atas meja, dimas pun meraih asbak tersebut dan menghantamkannya pada lantai dengan keras. “praankkk!!!” asbak tersebut pun pecah berkeping – keping.
Melihat ekspresi anaknya yang penuh amarah, istri Om Fadli seketika diam sembari ketakutan dibuatnya. Setelah membanting asbak tersebut, dimas yang tak berkata – kata langsung kembali masuk ke dalam kamarnya, dan meninggalkan mamanya yang ketakutan itu sendirian. Tangis pun tak bisa ia tahan, dan air mata pun mengalir deras pada pipi istri Om Fadli. “dio, tunggu pembalasanku!!” ucap istri Om Fadli dalam batin sembari mengepalkan tangan kanannya.
Dimas adalah anak Om Fadli beserta istri. Usia dimas saat ini menginjak usia 20 tahun, terpaut tiga tahun lebih tua dari dio. Karena usia mereka tak jauh berbeda, dio dan dimas selalu bermain bersama sedari mereka kecil. Namun keluarganya, khususnya mama dan papa dimas selalu memarahi dimas jika ketahuan bermain bersama dio. Namun lagi – lagi dimas tetap tak mempedulikan peringatan kedua orang tuanya untuk menjahui dio, dan tetap berhubungan baik dengan dio maupun keluarganya. Sudah hampir dua tahun ini dimas kuliah di luar kota, dan tinggal di asrama di kampusnya. Dan sudah hampir dua tahun pula, dimas belum bertemu dengan dio.
__ADS_1
Dibesarkan dengan harta yang cukup melimpah, tak menjadikan dimas sebagai seorang yang manja dan suka berfoya – foya. Karena dimas memiliki watak dan pemikiran yang jauh berbeda dengan kedua orang tuanya, dimas pun memilih untuk hidup terpisah dari orang tuanya, yakni tinggal di asrama. Karena beberapa kali libur semester semasa aktif kuliah dimas tak pulang, sembari menunggu yudisium, dimas berniat untuk pulang ke rumah. Mengetahui seluruh masalah akibat keserakahan kedua orang tuanya, dimas semakin hilang respect terhadap kedua orang tuanya, sekaligus membenci perbuatan yang telah kedua orang tuanya lakukan. Melihat papanya berseragam oranye dalam bui, tak ada ekspesi penyesalan maupun kesediahan dalam raut wajah dimas. Tapi, semenjak mengetahui status dio yang tiba – tiba berubah menjadi istri orang lain, dimas merasa begitu kecewa dan sakit hati.