Pernikahan Siswi SMA Yang Rahasia

Pernikahan Siswi SMA Yang Rahasia
Pertikaian


__ADS_3

Dengan rasa kawatir, dio terus memandang veno yang tengah menghubungi riko. “hallo ko!, gua mau bikin konferensi pers!” sahut veno dengan tegas dan jelas pada riko. Mendengar ucapan veno, dio pun nampak kebingungan dan takut jika pada akhirnya pihak sekolah akan mengambil keputusan untuk mengeluarkannya dari sekolah.


Dio mencoba berfikir mencari cara untuk menghentikan tindakan suaminya. Tak ingin veno melanjutkan perkata’annya, dio yang telah kehabisan akal itu pun mengambil jalan pintas yang tergolong nekat. Dio menghempaskan badannya di atas pangkuan veno, dan dengan berani dio pun mendaratkan sebuah cuiman mesra pada bibir veno. Alhasil dio pun berhasil membuat veno menghentikan perkataannya.


Seketika wajah dan telinga veno pun memerah. Veno pun tak mempedulikan ponselnya dan membiarkannya jatuh begitu saja dari genggamannya. “hallo ven, coba ulangi!!, hallo ven?, hallo?” terdengar suara riko memanggil - manggil. Tak mempedulikan suara riko, veno memandang dio dengan tatapan liar. Kedua tangan veno pun memegang pinggang dio dengan lembut. Dengan perlahan, veno menarik pinggang dio, dan membuat badan dio pun mendekat ke arahnya. Mendapat balasan yang lebih intim dari veno, dio nampak semakin kawatir, apalagi dengan posisinya saat ini yang mampu membangunkan gairah suaminya itu. “deg, deg!!” jantung dio terus terpacu lebih kencang. Pandangan mereka berdua pun bertemu.


Semakin kawatir dengan reaksi veno yang berlebihan, dio pun berusaha bangun dari pangkuan veno. “eemm, gua, gua haus ven, gua mau minum!” ucap dio dengan terbata – bata sembari berusahan bangkit dari pangkuan veno. Tak membiarkan istrinya bangun, veno langsung memeluk dio dari belakang sembari berkata, “jangan sampai kamu bersikap dingin lagi, atau jangan salahin gua, kalau gua berbuat lebih nekat lagi!” ucap veno dengan tegas.


“i iya ven!!” saut dio dengan terbata sembari berlari menuju dapur. Sesampainya di dapur, dio yang masih deg – degan itupun segera mengambil air meneral, dan meneguknya sampai habis. “gila!, kenapa veno jadi nekat gitu sih!, nih jantung juga geternya kenceng banget lagi, hampir copot rasanya!, huuuhh!!” ucap dio dalam batin sembari membuang nafas panjangnya.


Ke esokan harinya.

__ADS_1


Dalam kelas dio saat ini tengah belajar mata pelajaran Bahasa Inggris. Karena cuaca siang hari ini begitu panas, dan kondisi tubuh yang kelelahan, dio pun tak henti – hentinya menguap karena rasa kantuk yang terus menyerang. “hooammm!!” lagi – lagi dio menguap dengan cukup keras. Hampir tak kuat bagi leher dio untuk menyangga kepalanya yang seakan layu, dio pun meletakkan kepalanya di atas meja, dengan buku paket tebal miliknya yang ia letakkan berdiri di depan kepanya untuk menutupi.


Dio berharap semoga ia tak ketahuan dan bisa beristirahat meskipun itu hanya sejenak. “now, let’s move on to page 56!” terdengar guru Bahasa Inggris memberikan arahan pada murid – murid di kelas. Dio pun segera membalik halaman selanjutnya pada buku paket tersebut. Dio sedikit memiringkan posisi kepalanya, dan mencapai posisi yang lebih nyaman.


Namun matanya yang masih belum terpejam, tiba – tiba mengarah pada bangku kevin. Nampak kevin tengah memainkan ponselnya dengan sembunyi – sembunyi. Namun ekspresi kevin saat ini tengah memandang dengan penuh senyum sinis yang menakutkan, seperti pada saat di pesta ulang tahun chika. Rasa kantuk yang sedari tadi dio rasa, seketika hilang tak berasa. Mata dio yang hampir menempel pun kini terbelalak menatap kevin. “apa jangan – jangan ada sesuatu yang sedang kevin rencana’in?” ucap dio dalam batin.


Pelajaran tambahan sepulang sekolah akan dimulai 30 menit lagi. Para siswa pun diberi sedikit waktu untuk makan atau hanya sekedar istirahat. Dio dan kevin nampak mengemasi buku beserta alat tulisnya, dan bersiap menuju kelas jurusan IPS untuk mengikuti pelajaran tambahan. Nampak kevin yang telah selesai mengemasi perlengkapan belajarnya berjalan menghampiri dio yang nampak layu itu. Tak menunggu di suruh, kevin pun meraih tas milik dio yang berat, dan membawakannya hingga kelas IPS.


Mendengar jawaban menyolot dari kevin, dika pun menjawab “gua cuma mau nyapa dio aja kok!, hai di!” saut dika sembari melempar senyum. “oh, hai !” dio menyahut singkat. Melihat gaya berbicara dika terhadap kevin, maupun respon kevin terhadap dika, bisa dipastikan jika mereka berdua telah saling mengenal satu sama lain. ”Sepertinya mereka berdua udah kenal satu sama lain deh!” ucap dio dalam batin. “udah gak ada yang perlu dibicarakan lagi kan?” kevin menyaut. “emm, enggak sih!, ngomong – ngomong dio betah juga ya sama sifat kevin yang kasar?, jangan – jangan dio juga sama seperti kevin yang kasar? haha!” saut dika sembari berjalan meninggalkan dio dan kevin dengan menahan tawa.


Mendengar ucapan dika, emosi kevin pun tersulut. Kevin pun berjalan menghampiri dika dari belakang, dan dengan kasar menarik kerah baju dika hingga badan dika pun tertarik menghadap ke arah kevin. Dengan kekuatan penuh, kevin pun melayangkan pukulannya yang keras pada wajah dika. “buuk, buuk, bukk!!” kevin pun tak segan menghujani wajah dika dengan bogem mentahnya berulang kali. Hingga kelas pun menjadi tidak kondusif.

__ADS_1


“aaaa!!” nampak para siswi di kelas IPS itupun berteriak histeris menyaksikan dika dan kevin sedang mengasah kemampuan bertinju. Baku hantam pun tak terelakkan. Tak tinggal diam, dio pun menghampiri kevin dan berusaha melerainya. “vin, udah vin!” ucap dio sembari menarik tangan kevin agar menghentikan pukalannya.


Tak lama, guru pelajaran tambahan di kelas IPS pun tiba. Alangkah kagetnya Bu Maya, menyaksikan perkelahian diantara kevin dengan dika bak petinju dalam ring yang saling beradu pukulan. Pukulan jab, cross, hingga uppercut pun mereka keluarkan dalam perkelahian itu. “kalian berdua, hentikan!” ucap Bu Maya dengan nada membentak. “kevin!, dika!, hentikan!!” Bu Maya terus berteriak membentak. “kalian bertiga, ikut ibu ke kantor sekarang juga!!” ucap Bu Maya ketus.


Mengikuti ucapan Bu Maya, dio, kevin, dan dika pun berjalan mengikuti Bu Maya menuju kantor guru. Tak hanya mereka bertiga, namun orang tua atau wali dari mereka bertiga pun ikut serta dipanggil ke sekolah. Begitu juga veno, yang langsung meluncur menuju sekolah.


Veno sebagai wali dio, maupun orang tua dika pun telah tiba dan tengah duduk bersama di ruang guru. Namun sayangnya, orang tua maupun wali kevin tak kunjung datang. “karena orang tua atau wali kevin belum datang, saya belum bisa memulai percakapan ini. Jadi, mari kita tunggu bersama!” sahut Bu Maya dengan sopan.


“di, lu bikin onar apa sih?” ucap veno berbisik pelan pada dio. “gua tuh gak bikin onar ven, tadi dika tuh ngomong gak enak sama gua!, jadi kevin marah mukul dika deh!” dio mencoba menjelaskan dengan berbisik. “repot banget punya istri masih SMA gini!” veno menggerutu pelan. Takut ketahuan, dio pun memarahi veno sekaligus mencubit veno secara bersama’an. “ssttt!!, jangan ngawur kalau ngomong!” ucap dio sembari mencubit keras tangan veno “aaa, sakit tau!!” veno pun berteriak pelan karena kesakitan.


“tok , tok!” terdengar suara ketukan pintu, dan masuklah seorang pria paruh baya berpenampilan sederhana menghampiri kevin. “saya walinya tuan kevin, bu!” ucap pria paruh baya itu dengan sopan. “wali?, emang orang tua anak ini kemana?, bisa – bisanya dia mukul anak saya dengan brutal!” ucap ibu dika dengan ketus. “kenapa orang tua anak ini gak datang?” ayah dika menimpali. “maaf, tuan dan nyonya saya sedang sibuk, jadi tidak bisa hadir!” sahut pria paruh baya it dengan nada yang masih sopan. “halah!, kerja apa sampai anaknya bikin onar gini orang tuanya gak peduli!” ucap ibu dika mengomel. “brruuak!!” kevin menggebrak meja ruang guru itu dengan keras, hingga para guru dalam ruangan itu pun terkejut dibuatnya.

__ADS_1


__ADS_2