
Dio yang saat ini bertengkar hebat dengan om dan tantenya di ruang tamu, membuat Bu Ani maupun Pak Anton merasa gelisah dari balik pintu. Melihat majikannya yang masih remaja itu bertengkar dengan dua orang dewasa, dan lotaran caci maki dari dua orang itu terhadap majiankannya, membuat Bu Ani ikut kesal dan mencoba keluar untuk membantu dio. Namun Pak Anton segera menarik tangan Bu Ani, dan melarangnya untuk ikut campur urusan
mereka. “jangan bu!!, kita orang kecil gak sepantasnya ikut – ikut urusan mereka!!” Ucap Pak Anton. “tapi kasihan nyonya!!” Jawab Bu Ani dengan nada yang sedih. “biar aku telfon tuan, siapa tau tuan veno bisa bantu.!!” Jawab Pak Anton sembari mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. “hallo tuan..??”, “hallo, ada apa.??” Belum sempat Pak Anton menjawab, veno mendengar suara teriakan dan gemuruh. “bocah sialan!!, tutup mulut mu!!,” veno tercengang mendegar teriakan seorang pria dari dalam telepon. “kalian pergi sekarang juga dari rumah ini.!!” terdengar sautan suara dio dengan suara yang lantang. Veno yang kawatir akan keselamatan istrinya, segera bertanya pada Pak Anton. “dio dimana sekarang.?”, “di rumah tuan.!!” Ucap Pak Anton.
“cepat putar balik, kita ke rumah sekarang.!! cepaattt.!!” Veno berkata ketus pada sopirnya untuk segera bergegas memutar balikkan mobil menuju rumah. Veno yang berencana pergi ke bandara untuk melakukan perjalanan bisnis, akhirnya memutuskan untuk membatalkan penerbangannya. Ia pun memutar balikkan mobilnya, dan melaju kencang menuju rumah untuk segera menemui isrinya. “dio, pasti lu ketakutan sekarang.!!” ucap veno dalam batin.
Dalam perjalanan menuju rumah, veno nampak gelisah, dan tak bisa tenang. Dalam benaknya saat ini hanyalah keselamatan istrinya yang tengah ia pikirkan. Mobil melaju dengan begitu kencang. Dengan lihai, mobil yang veno tumpangi menyalip kendaraan yang ada di depannya. Begitu kawatirnya veno terhadap keselamatan istrinya. Mengingat kembali hanyalah dirinya lah satu - satunya tumpu’an dio saat ini. Jika terjadi apa – apa pada istrinya, veno tak akan mema’afkan dirinya sendiri. Hingga akhirnya mobil mereka melewati gerbang rumah veno, dan mobil pun berhenti di halaman rumah.
Veno yang begitu kawatir dengan istrinya, bergegas turun dari dalam mobil. Bahkan untuk menutup pintu mobilnya pun veno tak sempat. Veno pun berlari dengan kencang ke dalam rumah. Kaki veno yang jenjang itu membuat langkah kakinya panjang, dan tak membutuhkan waktu lama, veno pun tiba di ruang tamu. Dengan nafas yang terengah – engah, veno menghentikan langkahnya, dan berdiri di tengah pintu ruang tamu. Nampak istrinya tengah
__ADS_1
duduk, sambil sesenggukan menahan tangis. Begitu trenyuhnya veno melihat kondisi istrinya yang seperti ini. “dio.!!”, veno memanggil nama dio dengan lembut. Dengan segera, ia pun menghampiri istrinya dan memeluk dio dengan erat. Terasa tangan kekar veno tengah melingkari tubuh dio dengan begitu erat. Dio pun membalas balik pelukan veno. Ia melingkarkan kedua tangannya melingkari tubuh veno yang bidang, hinga kedua tangannya mampu meraba punggung veno yang begitu lebar itu. Merasakan pelukan dari veno yang hangat, membuat dio merasa tenang dan aman.
Tangis yang semula bisa dio tahan, kini tak lagi mampu untuk ia tahan. “huhuhu..!!” dio pun menangis dalam pelukan veno. “cup, cup,cup.!!, udah jangan nangis, ada aku d sini.!!” Ucap veno sembari mengelus lembut rambut dio. Tangis dio pun segera mereda. Dengan tatapan mata yang masih berkaca – kaca, dio menatap wajah suaminya dan berkata, “ven, bantu aku buat ngambil alih perusahaan milik papa ya.?”. “iya..!!” veno menjawab sambil menganggukan kepalanya guna menyetujui permintaan istrinya.
Kediaman om fadli.
“prraang.!!” Om fadli menarik taplak meja yang ada di depannya saat ini dengan kencang. Membuat gelas kaca di atas meja itu pun jatuh dan pecah berkeping - keping. Istri om fadli yang ketakutan segera menutup kedua telinganya dan berteriak “aaaa.!!!”. Nampak wajah om fadli memerah penuh emosi. Tangannya yang mengepal itu seakan ingin menjotos semua yang ada di depannya saat ini. “bocah sialan.!!, harusnya kamu ikut mati bareng ibumu itu.!!”, “bocah tengik.!!”. om fadli terus mengomel dengan emosi yangmmeledak – ledak. Kini dalam benak om fadli hanyalah dendam yang begitu dalam pada dio. “tunggu waktunya, dio.!!, tunggu waktunyaa.!!!!” Om fadli terus mengomel dengan penuh emosi.
“tiing.!!” Terdengar bunyi notifikasi pesan dari ponsel milik kevin. Kevin segera mengambil ponselnya, dan segera membuka pesan baru itu. Nampak kontak dari pengirim pesan itu diberi nama “pengawas 1” oleh kevin. Bukan seorang pengawas ujian yang sedang mengirimkan soal ujian, melainkan pesan dan beberapa foto hasil jepretan wajah dio saat ia sedang berada di toko buku tadi. Nampak kevin tengah tersenyum bahagia melihat hasil jepretan itu. Namun mata kevin mengarah pada potret terakhir dari pesan itu. Nampak seorang laki – laki berbaju hitam, tengah mengawasi dan mengambil beberapa potret dio. “kurang ajar.!!, siapa yang berani memantau dio selain gua.!!” Kevin meremas ponselnya, dan menggerutu dalam batin.
__ADS_1
Tak menunggu lama, kevin pun segera menghubungi kontak bernama pengawas 1 itu. “halo!!”, “hallo bos, ada apa.???” Kevin pun bercakap – cakap dengan orang di telefon itu dengan serius. “selidiki siapa yang sedang mantau dio secara diam – diam .!!” , “segera laporkan kalau udah ketemu.!!”, “iya boss.!!”. percakapan mereka pun selesai, dan kevin pun segera menutup panggilannya itu.
Nampak dari luar kelas, seorang perempuan dengan rambut panjang yang di kuncir, tengah berdiri di samping pintu. Dia adalah fira, murid kelas 2 sama seperti kevin, namun dengan jurusan yang berbeda. Yakni jurusan IPS. Fira terkenal sebagai pribadi yang pemalu, dan berparas cantik. Banyak pula siswa yang berusaha mengerjarnya, namun ia tak pernah menanggapi. Dan saat ini, ia memiliki perasaan yang tidak biasa kepada kevin.
Fira berdiri sambil memandang kevin dari samping pintu. Nampak ia sedang ragu – ragu untuk masuk ke dalam kelas kevin. Dengan sebuah kotak hadiah berukuran kecil di tangannya, ia pun memberanikan diri untuk masuk ke dalam kelas, dan menghampiri kevin yang tengah duduk di bangkunya itu. Melihat fira yang tengah menghampiri kevin di dalam kelas, membuat siswa yang masih berada dalam kelas itu berbisik, sembari melirik mereka berdua
secara diam – diam. “waah, fira nyamperin kevin.!!, tuh liat.!!” Terdengar percakapan beberapa siswa, sembari saling senggol satu sama lain. “waah, nambah lagi tuh saingan dina.!!” guna membuat dina tersindir, salah satu murid itu berbicara dengan penekanan nada, dan suara yang sengaja dibuat lantang. Hingga dari tempat dina duduk, suara itu terdengar dengan jelas.
Dina pun menoleh ke belakang, dan memandang ke arah kevin dan juga fira. Ekspresi dina nampak kesal. “beraninya dia ganjen sampai nyamperin kevin segala.!!” dina menggerutu dalam batin, sembari meremas bolpoin yang ada di tangannya kanannya. “pffftttt”, “ciyeee, ada yang lagi panas nih.??”, “kipas mana kipas.???” “hahahaha..!!!!” bagaikan sebuah lelucon, beberapa murid lain menertawakan reaksi dina saat ini. Mereka nampak lebih tertarik pada reaksi dina, dari pada memperhatikan fira maupun kevin. Setelah video pengakuan dari dina, hampir seluruh murid di kelas menjadi ilfil dan tak menyukai dina. Dan banyak siswa di sekolah akhirnya merundung dina, dan enggan berteman dengannya.
__ADS_1
“tuh liat.!!, fira kan cantik dan baik.!, jadi kalau emang jadian sama kevin, mereka cocok lah.!!”, “iya dong.!!, yang
penting bukan sama wanita serigala berbulu domba.!!” “hahaha!” sekelompok murid itu terus berusaha membuat percakapan, yang isinya terus membuat telinga dina menjadi panas. Dengan mengumpulkan sedikit demi sedikit keberanian, fira pun masuk ke dalam kelas, dan berjalan perlahan menghampiri kevin. Kevin tersenyum manis memandang hasil potret dio yang telah ia terima itu. Melihat ekspresi potret dio yang lucu dan imut, sesekali kevin menahan tawanya. “pffftt.!!” hingga ia pun tak sadar, jika seorang gadis cantik tengah berjalan ke arahnya. Fira berdiri tepat di hadapan kevin. “hai vin.!!” Ucap fira sambil melambaikan salah satu tangannya secara spontan. Veno pun menoleh ke arah fira. “ada apa.?” Veno menjawab singkat. Dengan wajah memerah, dan ekpresi malu, fira mengulurkan sebuah kotak kecil yang ada di tangannya. “ini buat kamu.!!” Ucap fira dengan lemah lembut.