
“jadi, selama ini kevin yang udah ngelindungi aku secara diam - diam?” ucap dio dalam batin seakan tak percaya dengan apa yang telah dilihatnya. “astaga, jadi dari gua kecil hingga sekarang, kevinlah yang udah membalas perlakuan jahat dari mereka semua?” ucap dio sembari terbelalak diikuti dengan kedua tangannya yang bergetar. Dio tak tahu harus berekspresi seperti apa. Menemukan malaikat pelindungnya selama ini, atau menemukan psikopat yang dingin dan jahat terhadap orang lain?, sungguh dio bingung dengan dua kenyataan berbeda yang harus ia terima secara bersamaan.
Begitu besar pengorbanan kevin terhadap dirinya selama ini, membuat sedikit celah dalam hati dio semakin terbuka. Tak bisa ia pungkiri, jika selama ini kevinlah orang yang berada di samping dio ketika ia mendapat masalah maupun musibah. Jika dibandingkan dengan perasaan sebelah tangan yang ia terima, sungguh tidak sebanding dengan dengan seluruh usaha maupun perngorbanan yang telah ia lakukan untuk dio. “apa seharusnya gua mulai membuka hati untuk kevin?” ucap dio dalam batin.
“ceklek!” terdengar suara pintu kamar mandi yang terbuka, disusul dengan kevin yang baru selesai mandi nampak keluar dari balik pintu. Melihat tempat tidur yang kosong tanpa dio di atasnya, membuat kevin menjadi panik dan segera menyusuri setiap sudut kamarnya untuk menemukan dio. Tak memikirkan keadaan tubuhnya yang hanya berbalut handuk untuk menutupi area terlarangnya, kevin berjalan ke arah jendela yang gordennya telah terbuka sepenuhnya. Menatap ke arah sudut kamarnya, kevin terbelalak kaget melihat dio tengah duduk dengan lemas di lantai.
“dio!” kevin segera menghampiri dio dengan ekspresinya yang penuh kekhawatiran. “sayang kamu kenapa?” ucap kevin dengan tiba – tiba, sambil jongkok di depan dio. Dengan perasaan syok yang masih belum sirna, dio menatap ke arah kevin yang tengah jongkok di depannya dan “aaaaaa!!” tak kunjung bangkit dari posisi bersimpuhnya, dio malah berteriak keras dan menjadi lebih histeris. “sayang kamu kenapa?” kevin mengulangi pertanyaannya. Kedua tangan dio kini berubah posisi, yakni menutup kedua matanya. “sayang, bilang sama aku kamu kenapa?, sini coba lihat aku!” ucap kevin penuh kekhawatiran sambil mencoba membuka tangan dio yang menutup rapat kedua matanya.
Merasakan tangan kevin yang mencoba menarik kedua tangan yang menutup rapat matanya, dio semakin histeris “aaaaa!, gak maauu!” dio menjerit seakan ketakutan. Tak mengerti dengan apa yang dio alami, kevin bertambah panik dan bingung harus berbuat apa. Tak kunjung pergi dari hadapannya, dio yang ketakutan itu pun menunjuk ke arah kevin. Tepatnya pada bagian terlarangnya yang tengah menghadap jelas tanpa sensor ke arah dio.
Melihat jari telunjuk dio yang mengarah pada area sensitifnya, kevin pun menangkap jari telunjuk dio dan berkata “jadi kamu udah lihat ya sayang?” kevin bertanya dengan lemah lembut. Dio pun menjawab dengan menggelengkan kepalanya. “jangan bohong!, kalau bohong nanti aku kasih pelajaran lo!” ucap kevin dengan nakal mencoba menggoda dio. Seketika dio pun mengangguk untuk mengiyakan pertanyaan awal kevin. “hahahaha!” kevin tertawa terbahak – bahak melihat reaksi polos dio yang lucu.
Kevin segera bangkit dari jongkoknya, dan berdiri tepat di depan dio. “sini aku bantu berdiri!” ucap kevin sambil mengarahkan tangannya mencoba membantu. Dio pun meraih tangan kevin dan segera berdiri. Karena masih penasaran, kevin pun bertanya “kamu kenapa duduk di bawah?” ucap kevin sambil membantu dio membersihkan dress putihnya dari debu yang menempel. Dio tak menjawab dan masih terdiam. Dio masih syok dengan dua hal mengejutkan yang baru saja ia lihat. “ya udah kalau sekarang kamu masih belum bisa bilang, aku gak akan maksa!” sahut kevin sembari berlalu meninggalkan dio yang masih termenung.
__ADS_1
“vin!” ucap dio memanggil kevin. Kevin pun berbalik dan menghadap ke arah dio “iya sayang?” ucap kevin dengan penasaran. “foto dan nama yang kamu coret, itu semua orang – orang yang jahat sama aku dan udah kamu bales kan?” dio bertanya dengan penasaran. Kevin pun berjalan mendekat “iya!” sahut kevin sambil menunduk penuh penyesalan. “jadi dari kita kecil, lu emang bener – bener udah ngelindungi gua?” dio meneruskan pertanyaannya dengan nada lebih tinggi. Dengan penuh penyesalan, kevin menjawab dengan mengangguk. Takut jika dio semakin marah dan kecewa terhadapnya, kevin memilih untuk diam.
“makasih ya!” ucap dio sambil tersenyum. Mendengar ucapan terima kasih dari dio, kevin yang tertunduk akhirnya mendongak menatap dio dengan kedua mata berbinar “jadi kamu gak marah?” ucap kevin dengan bersemangat. “udah sana ganti baju!” sahut dio sembari mendorong punggung kevin menjauh. “ganti in dong!” ucap kevin dengan manja. “ogah!, sana ganti baju cepet!” sahut dio dengan ketus. “siap bos ku!” kevin menyahut sambil bergegas untuk berganti pakaian.
Di ruang makan.
Pemandangan langka dan tak seperti biasanya, kevin ikut makan dengan tenang bersama kedua orang tuanya di meja makan. Kehadiran dio dalam kediaman Pak Rudi benar – benar membawa keajaiban bagi kevin maupun keluarganya. Melihat penampilan anaknya yang lebih rapi, dengan emosi yang terkontrol baik, serta berubah menjadi lebih sopan terhadap kedua orang tuanya, dio bagaikan karunia bagi kevin dan kedua orang tuanya.
“nak dio, kamu lebih baik pindah saja kesini!” ucap mama kevin mencoba membujuk. “untuk sementara ini dio mungkin akan tinggal di hotel atau penginapan dulu ma!” sahut dio dengan sopan. “lebih enak kamu di sini nak dio, dari pada kamu ke hotel, toh di sini juga ada kevin yang bisa nemenin kamu!” mama kevin menambahkan ucapannya, dan masih berusaha membujuk dio. “jangan dipaksa dong ma!, kasian dio nya kan jadi tertekan!” sahut Pak Rudi menyela. “hahaha, iya mama nih!” sahut kevin ikut menyela. “deg!” hati kedua orang tua kevin terasa bergetar.
Selesai makan bersama, dio diantar kevin menuju kediaman veno untuk mengambil barang – barang milik dio, pasalnya setelah perpisahan ini dio akan pindah dari rumah veno. Di tengah fokusnya kevin dalam mengemudikan mobilnya, sesekali kevin melirik ke arah dio. Nampak di sepanjang perjalanan, dio hanya termenung sembari menatap ke luar kaca jendela tanpa berkata apa pun.
Kevin tahu, jika sebenarnya dio masih memiliki perasaan terhadap veno, dan mungkin saja perasaan dio terhadap veno lebih besar dari pada untuk dirinya. Namun kevin tak berkecil hati, dan terus berusaha membuat dio bisa mencintai dirinya dengan sepenuh hati. Meskipun memang kenyataannya dio menyodorkan dirinya pada kevin hanyalah cara terakhirnya dalam bertahan, atau hanya keterpaksaan saja, bukan alasan bagi kevin untuk bersedih atau pun kecewa. Selagi dio mau maju satu langkah ke arahnya, kevin akan berlari menghampirinya sejauh mana pun dio berada.
__ADS_1
“ciiitt!” mobil kevin berhenti tepat di depan teras rumah veno, dengan bergegas dio dan kevin turun dari mobil dan masuk ke dalam ruang tamu. “vin, kamu tunggu di sini ya!” ucap dio sambil berjalan menuju kamarnya. “he’em!” sahut kevin dengan berdehem sambil mengangguk patuh. “ceklek!” dio membuka pintu kamarnya dengan ragu – ragu.
Di samping itu, veno nampak duduk di samping tempat tidur sambil membawa sebotol minuman keras di tanganny. Mendengar suara pintu terbuka, veno mendongak menatap pintu dan berharap dio lah yang muncul dari baliknya. Dan benar saja, dio muncul dari balik pintu dan masuk ke dalam kamar. Veno yang tengah duduk termenung itu bergegas berdiri dan menghampiri dio. Veno nampak kaget dan berdiri tepat di depan dio dengan matanya yang berkaca – kaca. Sungguh ingin sekali ia menangis sejadi – jadinya di depan dio.
Veno amat kecewa dengan dirinya sendiri yang telah gagal menjadi suami yang baik, dan gagal melindungi istrinya. Mengingat masa – masa saat ia baru menikah dengan dio, ia tak bisa menerima kenyataan bahwa ia memiliki istri yang masih duduk di bangku SMA. Namun siapa sangka, bahwa saat ini ia sungguh terpukul melepaskan dio dari hidupnya. Tak bisa ia bohongi, bahwa dalam hati veno saat ini telah sepenuhnya milik dio.
“sayang!” ucap veno dengan spontan sambil meraih kedua tangan dio. Dio tak menjawab dan hanya menunduk. Hati dio bergetar, kedua matanya berkaca, dan nafasnya sedikit terengah – engah. “sayang!” veno mengulangi perkataannya sambil meremas kedua tangan dio yang di genggamnya. Lagi – lagi dio tak menjawab dan hanya menunduk sedih. Dio menggigit bibir bawahnya cukup keras, berusaha menahan tangis yang sedari tadi terus mendesak keluar.
“mungkin selama ini aku gagal ngelindungi kamu!, mungkin aku bukan suami yang baik. Tapi kamu harus tahu, hanya kamu perempuan yang akan selalu ada di hanti aku dio!” ucap veno dengan kedua matanya yang me merah dan tak sanggup lagi membendung air mata. “jangan panggil gua sayang!, jangan bilang lu cinta sama gua!, kalau akhirnya ini pilihan yang lu pilih di antara kita!” sahut dio dengan membentak keras pada veno.
“kamu harus ingat percakapan kita kemarin!, kamu harus inget dio!, karena aku bakal bukti’in jika kata – kata yang udah aku ucap dan aku janjikan kemarin, pasti akan aku tepati!” ucap veno dengan tegas sembari menarik tangan dio dan membuat dio jatuh di pelukan veno.
💟Hai kakak semua💟
__ADS_1
semakin dekat dengan episode terakhir nih!. mana tim dio sama kevin?, dan mana tim dio sama veno?, komen dong man teman 😊😊