
Sebelum dika ditemukan tewas.
“kurang ajar, dapet keberanian dari mana lu?”, “ceplas!!” kevin berteriak pada seseorang yang kedua tangannya terikat rantai, dan dalam sebuah tempat tertutup sembari menampar wajah laki – laki di depannya itu. “uhuuk, uhuukk!!” laki – laki itu tak menjawab dan hanya terbatuk – batuk. “kenapa lu nyakitin wanita gua?” “ceplas!!” kevin membentak lagi dan mengayunkan tangannya yang langsung mendarat di wajak laki – laki itu. “hahahaha, wanita?, dia gak butuh lu!, dia udah punya pria lain!” laki – laki itu menjawab sembari tertawa terbahak – bahak, dan tak mempedulikan darah yang mengalir dari sela – sela giginya karena pukulan dari kevin sedari tadi yang bertubi - tubi.
“ceplas!!, ceplas!!, ceplas!!” pukulan dari kevinpun mendarat dengan bertubi – tubi pada wajah pria itu. “aarrrgghhh!!” laki – laki tersebut berteriak kesakitan. Nampak kepala laki – laki itu bergerak ke depan dan belakang dengan lemas, karena lehernya yang tak lagi kokoh untuk menyangga kepanya. “tapi gua puas, setidaknya gua hampir bikin wanita yang lu suka hampir mati!, hahahaha!!!” ucap laki – laki itu sembari tertawa jahat. “siksa dika!, setelah hampir mati dan gak sanggup bergerak, buang dika di jurang dengan motornya!” ucap kevin pada salah satu pria berbadan tegap yang berdiri di sampingnya. “siap bos!” saut pria berotot itu dengan tegas. “ceplas!!, ceplas!!” , “aarrggghhh!!” terdengar pukulan dari pria berbadan kekar itu dan di ikuti suara jeritan kesakitan dari dika.
Di kelas.
__ADS_1
Dio menatap kawatir ke arah kevin yang saat ini tengah fokus menatap layar ponselnya. “gak mungkin ini perbuatan lu kan vin?” ucap dio dalam batin sembari terus melamun memandang kevin. Melihat dio yang tiba – tiba melamun dan memandang ke arah kevin, indah yang kebingungan itupun berusaha menyadarkan dio “di, lu kenapa?” ucap indah sembari menepuk pundak dio dan membuat dio terkejut dan terhentak. “oh, gua gak papa ndah!!” saut dio dengan terbata – bata.
Disaat pelajaran berlangsung, secara diam – diam dio terus mengawasi kevin dengan terus mencuri – curi pandang ke arah kevin. Dio masih memikirkan insiden yang menimpa dika, dan menghubungkannya dengan kejadian janggal yang menimpa orang yang telah jahat terhadap dirinya. Terlalu janggal jika dikatakan sebagai kebetulan, membuat dio tak henti – hentinya berfikir keras untuk memecahkan teka – teki atas kematian dika dan terus memperhatikan kevin dari tempat ia duduk. “kriiingg!!” bel istirahat berdering nyaring. “haah, gua laper banget!” ucap indah sembari menghampiri dio. “di!!” terdengar suara kevin memanggil dio dengan lemah lembut. “ada apa vin?” saut dio dengan terbata – bata, dan nampak ketakutan. “gua pengen ngomong sesuatu!” saut kevin dengan suara yang cukup pelan.
Diopun mengikuti kevin berjalan menuju rooftop. disepanjang jalan, dio tak berani bersuara dan hanya diam sembari menundukkan kepalanya seakan tengah ketakutan. “ceklek!” pintu rooftop telah ditutup oleh kevin. Dio masih menunduk dengan ketakutan dan tak berani menatap kevin yang saat ini berdiri di depannya. “di, kenapa lu ketakutan gini?” ucap kevin sembari meraih tangan dio dan menggengamnya dengan lembut. “gu,gua gak takut!” dio menjawab dengan terbata – bata sembari menarik tangannya dari genggaman tangan kevin dan masih terus menunduk ketakutan. “please jangan gini’in aku di, gua gak bisa lu cueki gini di!” saut kevin dengan nada sedih dan matanya mulai berkaca – kaca.
“ini yang lu mau kan di?, lebih baik gua yang mati di!, daripada lu menghilang dari pandangan gua!!” ucap kevin dengan nada mengancam dengan ekpresi penuh keputus’asaan dan hampir haja melangkahkan kakinya. Bagi kevin, ia lebih memilih mati daripada harus hidup tanpa dio dalam jangkauan pandangannya. Kevin tak hanya menyukai dio, namun kevin telah benar – benar menggilai dio, dan cintanya yang teramat dalam itu telah menelan seluruh akal sehat dalam kepalanya. Melihat kevin yang benar – benar nekat, dio berlari menghampiri kevin dan segera memeluk tubuh kevin dari belakang.
__ADS_1
“vin, please sadar!, jangan laku’in hal bodoh kayak gini!!” ucap dio dengan ekspresi sedih yang bercampur dengan ketakutan. “bukannya gua orang jahat di mata kamu di?, biarin gua mati di!” saut kevin sembari mengangkat kaki kanannya dan mencoba melangkah. Dio yang begitu ketakutan, mencoba menarik tubuh kevin untuk menjauhi pembatas pada pinggiran rooftop. Sekuat tenaga dio menarik, tubuh kevin belum juga bergerak menjauh. “vin please, gua janji gak bakal menghilang dari pandangan lu!” ucap dio dengan wajah yang ketakutan. Kevin menurunkan kakinya dan menyimak perkataan dio. “vin please jangan kayak gini!, gua takut vin!” dio berkata dengan hampir menangis karena ketakutan. Kevin diam sejenak dan berkata “gua , mau lu di!!” ucap kevin dengan tegas. “ma, mau gua?” dio yang kaget itupun terbata – bata dan menatap kevin dengan kaget.
“gua mau lu di!!, gua mau lu, mau luuu!!!” kevin berucap berulang kali dengan suara yang cukup keras setengah berteriak. Dio terdiam dan tak bisa menjawab permintaan kevin. “lu gak mau kan di?” ucap kevin dengan tatapan penuh amarah. Lagi – lagi dio terdiam karena tak sanggup menjawab permintaan kevin yang sungguh bertolak belakang dengan wataknya yang setia dan berkomitment terhadap suatu hubungan yang ia jalani. “oke di, kalau gitu lebih baik gua mati!” saut kevin sembari mengangkat kakinya dan mencoba melangkah untuk mengakhiri hidupnya. Rooftop pada sekolah dio berada di lantai 5, jika tubuh manusia yang lemah itu terjatuh dari atas hingga dasar, bisa dipastikan orang tersebut akan mengalami pendarahan yang hebat yang tentu saja bisa langsung meninggal di tempat.
Nampak kevin telah bertekad untuk mengakhiri hidupnya didepan perempuan yang ia cintainya itu. Dio yang teramat takut itupun tak bisa membendung tangisannya yang terus keluar. “vin please ayo kita omongin baik – baik!!” dio terus membujuk kevin untuk menghentikan tindakan bodohnya itu. Kevin berdiri tepat di tepi rooftop, dan jika ia kehilangan keseimbangan ia bisa langsung terjun bebas dari atas rooftop. “vin, please mau lu apa, ayo kita bicarakan!! Huhuhu!!” ucap dio dengan suara yang terisak – isak. Mendengar perkataan dio, kevin membalikkan badannya dan menghadap dio yang masih memeluknya dari belakang. “gua mau lu di!” kevin mengulangi perkataannya lagi sembari menatap dio yang saat ini menangis ketakutan.
“tapi gua sama kevin udah...” belum selesai dio menjawab, kevin memotong perkataan dio “gua gak peduli!!, di depan gua lu harus jadi milik gua di!” ucap kevin dengan nada yang tegas dengan nada mengancam. “maksud lu gimana vin?” dio menyaut dengan terbata – bata. “maksud gua?, kayak gini di!!” ucap kevin sembari memeluk tubuh dio dengan erat ke arah tubuhnya hingga badan diopun tertarik ke arah tubuh kevin. Dengan tatapan liar, kevin mendekatkan kepalanya pada dio dan kevin mencium dio dengan mesra.
__ADS_1
Merasa telah berbuat hal yang melampaui batas, dio mencoba menarik tubuhnya dari pelukan kevin dan mencoba menarik bibirnya yang tengah dilumat oleh kevin. Menolak untuk melepaskan dio dari pelukannya, kevin menarik tubuh dio semakin kencang ke arahnya hingga tubuh diopun menekan tubuh kevin dengan cukup keras. Semakin liar pula bibir kevin ******* bibir dan lidah dio hingga diopun tak sanggup melepaskan diri dan dengan terpaksa mengikuti irama permainan kevin.