
“drrtt, drrttt” ponsel veno pun begeter karena ada sebuah panggilan masuk. Karena penasaran, veno segera meraih ponselnya yang berada di atas meja. “Pak Anton?, tumben nelfon, apa ada sesuatu yang penting?”
Veno bergumam karena penasaran. Tanpa menunggu lama, ia segera mengangkat panggilan dari sopir pribadi dio itu. “halo !, ada apa ?” veno bertanya dengan penasaran. “anu tuan, saya mau bilang, kalau nyonya mungkin sekarang sedang kesulitan di sekolah !” Suara Pak Anton terdengar sedang gugub. Dengan nada yang sedikit mendesak, veno pun bertanya “apa?, apa yang terjadi dengan dio di sekolah pak anton?”.mendengar atasannya nampak kawatir, Pak anton pun menyelesaikan ucapannya. “tadi ponakan saya yang satu sekolah dengan nyonya, ngirim pesan berisi artikel gosip tentang nyonya tuan !”, “pasti pesan itu sudah menyebar ke seluruh murid di sekolah !” ucap Pak Anton menjelaskan. “kalau gitu, kirim ke saya sekarang artikelnya!” Veno menyauti.
“iya tuan.!!” Jawab Pak Anton.
Veno membaca artikel mengenai istrinya itu dengan penuh emosi. Riko yang juga ikut emosi itu pun berkata “apa perlu kita bertindak?”, “kamu selidiki dulu, siapa dalang di balik artikel ini !” veno menjawab dengan singkat.
“baik !” Riko menjawab sembari berjalan meninggalkan ruang kerja veno. Veno yang masih emosi segera meraih ponselnya, dan segera menelfon dio. “hallo di?, kamu gak papa kan?”, “apa ada yang nge bully kamu di sekolah?”, “apa perlu kita ungkap hubungan kita, biar kamu gak terus – terusan jadi bahan gosip kayak gini?” , “apa lu pindah sekolah aja?”, “kalau ada yang berani bikin masalah, bilang sama gua!!” Veno menelfon dio dengan penuh kekawatiran. Tak bisa di pungkiri, bahwa ia takut bila istrinya mendapat perlakuan buruk dari temannya di sekolah. Akhirnya veno pun mengakhiri telfonnya.
“krriiiiiiiing !”, bel pulang sekolah berbunyi nyaring menandakan telah berakhirnya kegiatan ujian akhir semester di
sekolah dio untuk hari ini. Seluruh murid kelas dio pun perlahan keluar dari kelas untuk segera pulang ke rumah masing - masing. Dio yang masih mengemasi perlengkapan sekolahnya, melihat ke arah bangku kevin yang tengah kosong. “kevin kemana ya?, habis istirahat udah ngilang aja !” Dio berkata pada batin. Melihat dio yang memandang ke arah kursi kevin, indah yang telah dulu mengemasi barang – barangnya itu menghampiri dio sambil berkata, “kevin udah gak balik lagi sehabis istirahat tadi!”, “waah, enak ya jadi kevin !, gak ikut ujian pun nilai tetap aman !!” Indah berkata sambil menghela nafas panjang. "tapi pada dasarnya kevin tuh orang yang jenius !, mangkanya nilai kevin bagus terus!!" saut dio sembari tersenyum melihat ekspresi lemas indah.
__ADS_1
Di rumah sakit.
Saat ini dio berdiri tepat di samping tempat tidur papanya. Terlihat papa dio yang terbaring belum sadarkan diri, dengan alat ventilator yang terpasang melalui mulutnya. Dan untuk makanan harian, papa dio hanya mendapat suplay makanan cair yang masuk melalui selang, yang terpasang melalui rongga hidung langsung menuju lambung. Sungguh prihatin, melihat papanya yang selalu ceria di depannya, kini hanya bisa berbaring tidak sadarkan
diri.
Dio menyeka muka papanya menggunakan handuk kecil. Dengan perlahan, ia membasuhkan handuk dengan air hangat itu pada muka papanya yang tak lagi berekspresi itu. Mata dio nampak berkaca – kaca. Tangis pun akhirnya pecah. Dio yang hanya sendirian itu hanya bisa menangis sejadi – jadinya sembari memeluk tubuh papanya yang tengah terbaring tak berdaya itu. Nampak dari luar ruangan, seorang misterius tengah mengintip dio dari sudut
jendela ruang perawatan. Ia memperhatikan dio yang saat ini sedang menangis sesenggukan, sambil memeluk papanya. Nampak pria misterius itu mengelus kaca jendela di depannya, yang posisinya tegak lurus dengan posisi dio. Seakan ia tengah mencoba menenangkan dio yang tengah menangis, dari sudut ia berdiri saat ini.
“pa, dio pamit pulang ya!, besok lusa dio kesini lagi buat jenguk papa.", “bye bye papa !” dengan senyuman penuh keterpaksaan, dio melambaikan tangannya ke arah papanya yang saat ini terbaring tak berdaya. Dio pun segera keluar dari ruang perawatan, dan pulang menuju rumah.
Keluar dari rumah sakit, dio yang tengah menunggu Pak Anton untuk menjemputnya, memilih berdiri menunggu di sebelah gang di dekat gerbang keluar dari rumah sakit. Karena suasana yang sudah sore, jalanan nampak begitu sepi. Dio yang berdiri sendiri itu tiba – tiba di tarik oleh seseorang menuju gang sepi di dekat gerbang masuk rumah sakit itu. “aduuhh !” Dio yang kaget itu memandang pada seorang perempuan yang telah menarik tangannya.
__ADS_1
“lu yang tadi di kantin sekolah kan?” Dio mengenali perempuan itu adalah salah satu kakak kelas yang dio temui di kantin sekolah siang tadi.
Dua orang pria yang nampaknya teman dari perempuan itu, keluar dari sudut gang dengan tertawa terbahak – bahak. “jadi anak ini yang udah bikin lu kesel?” Salah satu pria itu bertanya. “iya kak !, sekarang kalian kasih paham ke dia, biar dia gak belagu lagi kalau di sekolah !” Jawab kakak kelas dio dengan angkuh. “eeh, maksud lu apa?,” dio bertanya dengan kesal. “lu tuh udah kere !, jadi pelakor !, masih aja belagu !” Kakak kelas dio itu mendorong dio hingga dio pun jatuh tersungkur. “aduuh !” karena lutut dan tangannya terluka hingga mengeluarkan darah, dio
berteriak kesakitan. Tak hanya diam, dio yang kesal itu segera bangun dan menarik rambut perempuan itu dengan sekuat tenaga menggunakan kedua tangannya, hingga perempuan itu berteriak kesakitan. “aaaaaa !”, “kaakkk, tolong !” gadis itu menjerit kesakitan.
Melihat adik perempuannya di jambak oleh dio, salah satu pria itu segera menarik kedua tangan dio. Akhirnya kedua tangan dio pun terlepas dari rambut perempuan itu. Dan “plaakk !!” perempuan itu membalas dio dengan menampar wajah dio dengan keras. “kurang ajar !!, nih rasa’in !!”, “plaaakk !!” perempuan itu menampar wajah dio lagi dengan penuh tenaga. Dio yang tangannya tengah di pegangi oleh kedua pria itu tak bisa bekutik. Terlihat
dari sudut bibir dio mengeluarkan darah karena terluka. Rambut dio di jambak oleh salah satu pria itu “aaaa !!” dio pun berteriak kesakitan. “kalian kurang ajaaarr !!” dio berteriak keras memaki mereka bertiga.
“duuaakk !!” nampak seorang laki – laki datang secara tiba – tiba dan langsung memberikan sebuah tendangan keras pada salah satu pria itu. “bruuakk!!” Lelaki itu jatuh tersungkur dengan keras. “ke,kevin!??” dio menyadari lelaki itu adalah kevin. “kurang ajar !, beraninya ikut campur urusan gua !!” Salah satu pria yang masih berdiri dengan tegap itu tak terima dan mengepalkan tangannya untuk memberikan bogem mentah pada kevin. Duel pun tak ter’elakan. Terjadilah perkelahian antara kevin dengan kedua pria itu. Namun karena ilmu bela diri kevin yang baik, kedua pria itu akhirnya sama – sama jatuh tersungkur dengan wajah yang penuh luka dan lebam. Mengingat kembali bahwa gadis pujaan hatinya telah mereka lukai dengan sadis, kevin terus menghajar mereka dengan brutal dan membabi brutal.
Saat ini mereka bertiga tengah tersungkur dengan begitu banyak luka sambil terus memohon ampun pada kevin. “tolong ampuni kami !!”, “kevin, please jangan pukul kami lagi, kami ngaku salah!!”, “tolong ampuni kami!!” Namun kevin tak menghiraukan permohonan mereka. Mata kevin masih penuh dengan kemarahan yang membara.
__ADS_1
Dio yang saat ini tengah ketakutan karena begitu banyak darah bercecer dari luka mereka bertiga, hanya bisa terpaku tak mampu berkata – kata. Kevin yang biasanya tersenyum dengan ramah kepadanya, saat ini berubah begitu brutal dan sadis. Kevin melirik pada tumpukan botol bekas yang ada di sebelah ia berdiri. Ia meraih salah satu botol bekas itu, dan mengangkatnya tinggi – tinggi untuk melemparkan botol itu pada mereka bertiga. Melihat itu, dio takut jika kevin melemparkan botol itu pada mereka bertiga. Mengingat kembali trauma dio akan suara kaca yang pecah. dio pun mencoba menghentika kevin.
Dengan kedua mata yang berlinang air mata, dio berteriak sambil memeluk tubuh kevin yang seakan tak terkendali itu. “viinn !! hentikan !!”, “huhuhu !!” suara tangisan dio terdengar lebih kencang. Kedua tangan dio yang melingkar para perut kevin itu terasa sedang gemetaran.