Pernikahan Siswi SMA Yang Rahasia

Pernikahan Siswi SMA Yang Rahasia
Chika yang Ganjen


__ADS_3

    Bu Ima hanya terdiam karena telah kehabisan kata – kata. Apalagi untuk menyangkal, bahkan menjawab pun Bu Ima bingung harus berkata apa. Dengan tangan yang masih saling terkait, dio memandang haru terhadap veno.


Dio merasa bersyukur memiliki suami yang begitu dewasa dan matang pemikirannya. Merasa tangannya tengah digenggam erat oleh dio, veno pun menggemgam balik tangan dio dengan erat pula. Dalam batin, diopun berkata


“makasih ya ven.!!, meskipun gua belum bisa menjadi sosok istri yang baik dalam kehidupan lu, tapi elu selalu berusahan menempatkan diri lu sebagai suami yang baik bagi gua.!!”. ucap dio dalam batin, sembari tersenyum manis terhadap veno.


  Merasa telah tersadarkan oleh ucapan veno, Bu Ima tak lagi kekeh memaksa dio untuk mengikuti sarannya.


Kini Bu Ima memberikan hak penuh terhadap dio untuk memilih apa yang ia inginkan. “baik.!! kalau begitu, semua pilihan saya kembalikan lagi pada dio.!!, saya akan menghargai apapun pilihan dio.!!” ucap Bu Ima. “Baik bu, terima kasih banyak.!!” saut dio dengan wajah yang sumringah. Setelah berdiskusi bersama Bu Ima, mereka berdua akhirnya keluar dari ruang kerja Bu Ima, dan melewati ruang guru untuk segera pulang. Karena resleting tas milik dio masih terbuka, dio berhenti tepat di depan pintu ruang guru untuk menutup resleting tasnya kembali. Dan di ikuti


veno yang juga ikut berhenti di sebelah dio berdiri.


  Melihat dari tempat mereka berdiri saat ini, nampak chika dan papanya tengah berjalan ke arah veno dan juga dio. Dengan senyum lebar tersungging di wajah chika, ia berjalan mengikuti langkah papanya untuk ikut menghampiri veno. “veno...??” ucap papa chika sembari tersenyum ramah. “loh, Om Devan.??” Veno menyauti kaget, sembari mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan. Mereka berdua pun bersalaman. “kamu ambil raport juga ya.?” Tanya om devan. “iya om.!!, om sendiri.?” saut veno singkat. “sama.!, om juga ngambil raport.!. ven, kenalin ini chika anak om.!!” Ucap om devan dengan ramah. Merasa sedang dibantu oleh papanya, chika langsung merubah

__ADS_1


gerak geriknya menjadi kalem dan lemah lembut. “oh, haii.!!, kenalin aku chika.!!” Ucap chika dengan suara yang lembut, serta tangannya yang mengulur ke arah veno untuk bersalaman. “oh, iya gua veno.!!” jawab veno sembari meraih uluran tangan chika untuk bersalaman.


  Melihat chika yang nampak tertarik dan terkesan caper pada suaminya, dio merasa kesal dan terus memperhatikan gerak – gerik chika. “dasar.!!, kayak gak ada laki – laki lain aja.!, bisa - bisanya goda’in laki gua.!!” Dio menggerutu kesal dalam batin. Dengan gerak - gerik yang sedikit salah tingkah, wajah chika nampak memerah karena tersipu. Nampaknya chika semakin tertarik dengan veno. “kamu habis ini apa mau langsung pulang ven.??” om devan bertanya penasaran. “iya om, kenapa.?” Saut veno singkat. “kalau kamu masih ada waktu, boleh dong kita mampir makan siang bareng – bareng.?” Om devan bertanya dengan nada yang ramah.”wah, boleh dong om.!!” Veno menjawab singkat sembari tersenyum. Veno masih belum menyadari, jika tujuan om devan yang sebenarnya yakni berusaha mencomblangkan dirinya dengan anaknya. Ia menganggap tawaran makan siang bersama itu, hanyalah acara ramah tamah karena mereka berdua telah selesai melakukan kerja sama bersama.


  Mendengar persetujuan veno atas tawaran untuk makan bersama, chika nampak tersenyum bahagia.


“yaelah.!! veno ini emang beneran gak tau, apa pura – pura gak tau, kalau tujuan papa chika tuh cuma mau


  Mereka berempat pun berjalan beriringan menuju tempat parkir. Melihat dio yang terus berjalan berdampingan dan menempel pada veno, papa chika nampak risih dan kurang begitu senang. “kamu gak langsung pulang juga ya nak dio.?” om devan bertanya dengan sok polos pada dio. Seperti sebuah basa – basi tipis untuk menyindir dio agar dio pulang duluan, dan tak ikut serta makan siang bersama mereka. “enggak om.!, aku ikut veno.!!, kan aku kemana – mana dianter sama veno.!!” ucap dio sembari tersenyum manis. Dengan sengaja, dio memberi kesan pada mereka berdua, jika hubungan dio dan juga veno bukanlah hubungan biasa. Meskipun dio bukan tipe wanita yang manja, namun menghadapi situasi menjengkelkan seperti saat ini, dio berusaha menempel dan bertingkah lemah lembut dan juga manja pada veno. Melihat istrinya yang terus – terusan menempeli dirinya, veno nampak menahan senyumnya. Veno paham, jika yang dio lakukan saat ini karena dio sedang merasa cemburu.


  Melihat ekspresi istrinya yang menggemaskan itu menempeli tubuhnya, veno pun berbisik pelan pada telinga dio. “di, kalau lu nempel terus kayak gini, jangan salahin gua kalau nanti di rumah, gua pengen unboxing.!!” Mendengar ucapan veno yang seakan mengancam kesuciannya, secara spontan dio mulai membuat jarak di antara mereka berdua. “pfffttt.!!” Veno tak kuasa menahan tawanya, melihat tingkah lucu istrinya itu.


Mereka ber empat telah sampai di parkiran sekolah. “veno, om titip chika biar dia bareng mobil kamu ya.!!, mobil om lagi bawa banyak berkas – berkas di kursi belakangnya.!!” Ucap om devan dengan santai. “iya om.!!” Jawab veno singkat. “kolaborasi bapak sama anak nih emang maut.!!, sama – sama gak punya urat malu pula.!!” Dio memandang sinis pada Om Devan, sembari menggerut dalam batin. Dio masih tak habis pikir dengan chika maupun papanya, yang seakan terang – terangan mencomblangkan mereka berdua di hadapan dio.

__ADS_1


  Sungguh situasi yang memuakkan bagi dio. Dengan berat hati, ia harus menahan amarah sekaligus kecemburuannya itu di balik senyum palsu yang sekarang tengah terukir pada bibirnya. Dengan sigap, dio


mempercepat langkahnya, dan segera masuk dalam mobil veno, dengan posisi duduk persis di sebelah kursi kemudi tempat veno duduk. Melihat dio yang telah dulu masuk dan duduk di samping kursi kemudi, chika nampak kesal. Ia pun masuk dan akhirnya ia duduk pada bangku belakang sendiri’an. “sial, gua kalah cepet sama


dio.!!” Chika menggertu kesal.


  Dari sudut tempat mobil om devan berada,.


  “nona chika gak ikut mobil kita ya pak.?” Ucap sopir dalam mobil om devan.  Namun om devan tak mendengar pertanyaan dari sopirnya itu, dan terus memandang ke arah mobil veno. melihat dio yang telah lebih dulu masuk dan duduk pada kursi di samping kemudi, dan chika yang hanya bisa duduk di belakang, Om Devan nampak


kecewa. “dasar anak lemot.!!, udah di kasih jalan, tapi gak di manfaatin, malah sekarang keselip dulu’an.!!” Ucap om devan menggerutu dengan nada yang kecewa. “siapa yang di kasih jalan pak.?” Sopir om devan bertanya dengan polos karena bingung. “kamu ini ikut – ikut urusan orang aja.!!” Ucap Om Devan ketus.


  Setelah melihat mobil veno mulai menyala, om devan segera masuk ke adalam mobilnya, dan duduk di sebelah kursi kemudi sopirnya. Karena sopir itu tau jika om devan membenci jika harus duduk di kursi depan, dan lebih memilih untuk selalu duduk di bangku belakang. Dan sekarang secara aneh, atasannya itu memilih untuk duduk di kursi depan, membuat sopir om devan merasa bingung dan penasaran. Tak bisa menahan rasa penasarannya, sopir itu pun lagi – lagi bertanya dengan polos “kursi di belakang kan kosong pak.!!, gak biasanya bapak mau duduk di depan.??”. “sssttttt.!!!!, jangan tanya.!!, sekarang cepet kamu ikuti mobil yang ada di depan itu.!!” ucap om devan dengan ketus, sembari menunjuk ke arah mobil veno yang ada di depan mobilnya. Tak berani berkata lagi, sopir om devan segera menginjak pedal gas dan segera mengikuti mobil veno yang ada di depannya.

__ADS_1


__ADS_2