
Penjaga stand boba telah selesai menghitung uang kembalian yang akan ia berikan pada dio. Sembari mengulurkan uang kembalian milik dio, penjaga stand itu berkata “ total kembaliannya 75 ribu ya kak, ini.!!”, belum selesai penjaga satand itu berkata, dan “praaaakk!!!” Dio membanting kantong kresek berisi boba pesanannya tadi dengan sekuat tenaga. Seketika cup es boba itu pecah, dan seluruh es boba itu tumpah membasahi lantai stand. Penjaga stand itu melongo melihat es buatannya itu telah tumpah dan menyegarkan lantai stand yang ada di depannya. Seketika empat gadis di belakang dio itu kaget dan memandang dio dengan rasa heran.
Dengan entengnya, dio berkata “kembalian’nya ambil aja mbak!!, barusan tangan saya licin dan kaget karena gonggongan anjing!!” Dio pun segera pergi meninggalkan stand itu dengan penuh emosi. “perempuan itu kenapa??”, salah satu dari empat perempuan itu bertanya heran. “dia bilang denger suara anjing menggonggong.??, kayaknya dari tadi gak ada suara anjing deh.!!” Mereka ber empat nampak bingung, dan tak menyadari jika penyebab dio seperti itu adalah karena ocehan mereka.
Dio menghampiri Pak Anton dan segera masuk ke dalam mobil tanpa membawa satu pun es
boba dalam genggaman’nya. Tak seperti biasanya yang penuh senyum, dio hari ini terus menguncir bibirnya. Nampak dari raut wajahnya, hari ini dio merasa sangat emosi. Sampai beberapa lama di dalam mobil, dio belum juga memberikan perintah pada Pak Anton untuk pergi kemana. Dan Pak Anton yang tak memiliki nyali untuk bertanya pada dio hanya diam seribu bahasa.
__ADS_1
“ddrrttt, drrttt, drrrrrttt!!” ponsel dio bergetar. Segera ia mengeluarkan ponselnya yang terus bergetar itu, dan
mengangkat panggilan dari nomor yang tak ia kenal. “hallo.??”, “ini dio.?” terdengar suara seorang laki – laki menyaut dari ponselnya. “hemm.? Siapa?’ dio menjawab ketus. “gua riko.!!” “ow, ada apa.?” Jawab dio singkat. “gua mau bilang kalau sekarang veno ada rapat mendadak. Dan setelah rapat veno langsung ke bandara buat perjalanan bisnis ke amerika.!!”. “ada suatu hal mendadak dan penting yang harus di selesaikan sendiri oleh veno!!, dan veno minta maaf gak sempat pamit, karena waktunya yang benar – benar mepet!!” Riko menjelaskan dengan panjang lebar pada dio, agar dio mau mengerti keada’an veno. Tak bertanya atau pun bereaksi berlebihan, dio hanya menjawab singkat, padat, dan terkesan tak peduli, “ow, ok !!” saut dio. “tuut, tuut!!” Tak menunggu jawaban dari riko, dio pun segera menutup panggila dari riko itu.
“what.??” Riko melongo dan syok mendengar jawaban dio yang amat singkat itu. Membutuhkan waktu beberapa lama bagi riko untuk merangkai kata, guna menjelaskan kondisi veno saat ini pada dio. Dan dengan harapan dio tak marah ataupun kecewa pada veno. Namun jawaban dari penjelasan yang panjang dan lebar itu hanyalah, “ow, oke??” Sungguh hal yang mengagetkan bagi riko.
“kita pulang pak.!!” Ucap dio singkat. Pak Anton segera menginjak pedal gas, dan mobil pun segera melaju meninggalkan pusat kota, menuju rumah. Sepanjang perjalanan, dio yang telah sadar akan perbuatannya itu pun terus menggosok – gosok rambutnya dengan keras. Mengingat kembali respon berlebihan dari dirinya. “duuhh, gua kenapa sih!, malu – malu’in aja!!”, “apa jangan – jangan gua cemburu, dan udah bener – bener nganggep veno sebagai suami gua!”, “acara ngebanting es boba segala!!, sekarang malah gak jadi nyegerin tenggorokan, eh uang 200 ribu melayang!!, duuhh mubazir banget deh gua!” Dio terus menggerutu sambil menggosok rambutnya hingga acak – acakan.
__ADS_1
“kenapa kalian kesini?” tanpa basa – basi, dio bertanya ketus pada mereka berdua. “katanya, kamu habis kena musibah?, om dan tante mau jenguk kamu!”, “tapi dilihat dari penampilan kamu, sepertinya kamu baik – baik aja.” Ucap om fadli dengan nada yang sedikit sinis. “hahahaha !!” dio tertawa terbahak – bahak mendengar jawaban om’nya. “setelah perusahaan milik papa berhasil om rebut, masih tebal muka om dan tante untuk bertemu sama aku sekarang.??” Ucap dio dengan ketus pada om nya itu. “lancang.!!!” Istri om fadli menyaut dengan berteriak sembari menunjuk dio menggunakan jari telunjuknya. “perusahaan itu om yang membangun’nya dari nol, jangan sembarangan menuduh.!!, kamu anak kecil tau apa.!!” Om fadli menjawab dengan penuh emosi.
Percakapan mereka nampak serius dan penuh emosi. Dio yang telah lama memendam amarah dan rasa bencinya itu, kini tak lagi sanggup mengontrol emosinya yang hampir meledak. Ia hanya berusaha mengungkapkan rasa kecewa dan kebencian hatinya terhadap om dan tantenya. Mengingat kembali saat ia kehilangan mamanya, dan kondisi papanya yang saat ini masih belum sadar, mereka berdua malah asik mencuri perusahaan milik keluarganya. “yang dio tau hanyalah, maling tak akan mengaku maling.!!” Dio meneruskan perkata’annya dengan penuh emosi. “kurang ajar.!!. tutup mulutmu.!!” Tante dio menyaut dengan berteriak penuh emosi.
Pak Anton dan Bu Ani sengaja mendengarkan pertengkaran yang terjadi di antara mereka dari balik pintu. Karena takut nyonya’nya mengalami hal yang tidak di inginkan, mereka berjaga – jaga dan tetap sabar menyimak dari balik pintu. “sudah merasa jadi nyonya besar ya.?, pantesan bisa angkuh kayak gini.??” Om fadli berkata dengan sinis. “paling – paling kalau udah bosen, kamu bakal di tinggal sama veno.!!, dan diusir terus jadi gelandangan deh.!!”, “hahahaha.!!” Saut istri om fadli dengan nada mengejek. “aku emang nyonya di rumah ini, jadi aku perintahkan kalian pergi sekarang juga dari rumah ini.!!” Ucap dio dengan suara yang lantang. “bocah sialan.!!, gak ngerti tata krama.!!”, ucap om fadli dengan wajah memerah penuh emosi. “ayo kita pergi dari rumah sialan ini.!!” ucap om fadli ketus.
“oiya, perlu kalian ingat.!!, apapun yang dicuri, suatu saat akan dicuri balik!!” seakan memberikan peringatan keras, dio berkata dengan nada yang mengancam, dengan kedua mata yang berkaca – kaca.
__ADS_1
“bocah sialan.!!, tutup mulut mu.!!, om fadli menyaut dengan penuh emosi. Karena emosi nya yang tengah meluap – luap, om fadli mengepalkan kedua tangannya dengan kencang bagaikan serigala buas yang akan menerkam mangsanya hidup – hidup. Melihat suaminya yang hampir tak bisa mengontrol emosinya, istri om fadli itu mencoba menenangkan suaminya, dan mengajaknya untuk segera pulang. “tenang pa, ayo kita pergi sekarang.!!” Mereka berdua akhirnya keluar dari rumah veno dengan wajah penuh amarah.
Dio yang saat ini berdiri dengan tangan gemetaran, langsung terduduk di kursi ruang tamu karena syok. Ia tak menyangka, bahwa dirinya mampu mengucapkan kata – kata seperti itu dari mulutnya. Wajah dio yang seakan menyala penuh dengan emosi itu, berangsur meredup dengan perlahan. Mata dio yang berkaca – kaca itu tak dapat lagi mengontrol air mata yang terus mendesak keluar. “huhuhuhu.!!!” Tangis pun akhirnya pecah. Pipi dio pun mulai basah karena tetesan eluh yang keluar dari kedua matanya. “gua harus kuat.!!, gua gak boleh lemah kayak gini.!!”. dio mencoba menahan tangisnya, dan terus menguatkan batinnya untuk tetap kuat. “gua harus kuat, yang papa punya sekarang cuma gua.!”, “tenang dio, buktikan kalau lu bisa.!!” Dio terus menyemangati dirinya untuk tetap kuat. Tiba – tiba, terdengar seseorang sedang memanggil namanya. “dio.!!” dio pun segera menoleh pada sumber suara itu. nampak seorang pria tengah berdiri di tengah pintu dengan nafas yang ter engah – engah.