Pernikahan Siswi SMA Yang Rahasia

Pernikahan Siswi SMA Yang Rahasia
Makan Bersama


__ADS_3

  Sepanjang perjalanan menuju restaurant, dio hanya diam dan menahan seluruh emosinya yang hampir tumpah. Mendengar chika yang terus menerus sok kenal dan sok dekat dengan suaminya, dio yang kesal mencoba mengalihkan perhatiannya pada ponsel yang sedang ia genggam. Dengan rasa percaya diri yang tinggi, chika terus mengajak veno untuk saling berbincang. Hingga nampak dari ekspresi veno saat ini, ia merasa kurang nyaman dengan adanya chika dalam mobilnya. “ven, kalau papa main ke rumah kamu, aku boleh dong ikut papa kesana.?” chika bertanya dengan penuh antusias. “iya.!” Veno hanya menjawab singkat. “ven, bulan depan di rumah ada acara ulang tahunku, aku boleh ngundang kamu kan.??” Chika bertanya sembari tersenyum. “lihat nanti.!!” Lagi – lagi veno hanya menjawab dengan singkat. Merasa pembicaraannya di respon oleh veno, chika tersenyum bangga, dan memandang sinis ke arah dio.


  “oiya ven, kita sekarang mau ke restaurant mana.??” Chika masih terus bertanya seolah – olah ia telah kenal baik dengan veno. “di dekat persimpangan sana.!!” Veno yang telah malas dengan percakapan itu, terus menjawab pertanyaan chika dengan singkat. “waah, pasti restaurant mewah itu restaurant favorit kamu ya?!” “ ucap chika dengan antusias. “bukan sih.!!, tapi favorit dio.!!” ucap veno dengan suara yang lumayan keras. “pffttt.!!!” Dio menutup mulutnya yang seakan – akan ingin mangap dan tertawa terbahak – bahak itu. “emmm gitu ya.!!” Saut chika dengan nada yang nampak kecewa. Setelah mendengar perkatan veno yang menusuk dan menembus jantungnya itu, chika akhirnya diam seribu bahasa. “dio, lu tunggu aja.!!, akan ada waktu dimana veno ada di samping gua, dan dia bakal ninggalin lu.!!” Chika menggerutu dalam batin.


  Karena chika telah duduk manis dan berhenti mengajak obrol suaminya, dio berkata dalam batin “hehehe, siapin kuping lu, kuatin batin, dan sadarin pikiran lu ya chik, gua bakal beri pertujukan yang wow buat elu.!!” Ucap dio


dalam batin, sembari tersenyum sinis. “sayang, kamu nanti gak usah balik kantor lagi ya.!!, anterin aku belanja.!!” Ucap dio dengan nada yang manja pada veno. “belanja apa sayang.??” Veno menjawab perkataan dio dengan nada yang juga manja. “kemarin brand VL ngeluarin tas limited edition yang kece parah, aku pengeeen.!!” Ucap dio dengan nada yang manja. “iya sayang, beli aja.!!” Jawab veno sembari tersenyum manis “Black Card yang aku kasih kan ada di kamu, jadi kamu pake sesuka kamu aja.!!” Ucap veno menambahkan. Emosi dari dalam diri chika saat ini semakin membara, bagaikan sebuah tungku yang terus di isi kayu bakar. “waah, gak nyangka.!!, ternyata dio matre juga ya.!!, masih pacaran udah berani minta – minta ya sama veno.!, upss.!!” Seakan mencoba memperkeruh suasana di antara dio dan juga veno, chika seakan memojokkan dio. “oh iya di.!!, jangan – jangan kamu pacaran sama veno karena tertarik sama uangnya aja.? Upsss.!!” Ucap chika dengan nada yang sinis.

__ADS_1


  Mendengar ucapan chika yang bersifat profokatif itu, emosi dio pun tersulut. Belum sempat dio membalas perkataan dari chika, veno menyauti perkataan chika dengan tegas. “dio bukan wanita yang se perti itu!!. kalaupun dio emang tertarik karena uangku, aku juga gak keberatan kok.!!” Ucap veno dengan nada yang tegas. Karena veno tau dengan pasti, meskipun ia membebaskan istrinya untuk berbelanja atau membeli apapun itu, dio tak pernah tertarik, malah dio hanya tertarik membeli jajanan di pinggi jalan, dari pada harus membeli pakaian atau mengkoleksi tas branded. Dio bukan seorang sosialita yang menyukai hal – hal glamour. Bahkan ia selalu berpenampilan biasa saja, tanpa menjunjung tinggi nilai kemewahan dalam kehidupannya.


  Bagaikan jatuh terjungkal ke dasar jurang, usaha chika untuk memojokkan  dan membuat image dio buruk di mata veno telah gagal. Bahkan secara langsung telah disangkal oleh veno. Dengan susah payah chika membangun kesan dan martabat yang baik di depan veno, namun dalam hitungan detik saja, chika merasa martabatnya telah jatuh tersungkur. Mendengar sangkalan yang telah veno ucap, chika nampak begitu terpukul. Matanya mulai berkaca – kaca, dan ia telah kehabisan kata – kata. “kurang ajar.!!, gua gak akan ngelepasin lu ven.!!, gua bakal terus berusaha ngerebut lu dari samping dio.!!!” ucap chika dalam batin.


  Mobil veno berhenti di parkiran salah satu restaurant mewah yang tak begitu jauh dari sekolah dio dan chika, di ikuti mobil om devan yang menyusul, dan berhenti tepat di sebelah mobil milik veno. Akhirnya mereka ber empat masuk ke dalam restaurant, dan memilih tempat duduk yang tak jauh dari tempat kasir. “chika, kamu duduk di...” belum selesai om devan memberi komando pada putrinya untuk duduk di kursi sebelah veno, dengan sigap dio telah lebih dulu duduk tepat di sebelah veno. Dan chika pun hanya bisa duduk di sebelah papanya. “hadeehh.!!, bapaknya chika nih lihai banget nyari celah buat deketin anaknya sama veno.!, mulai sekarang gua harus lebih waspada.!!” Ucap dio dalam batin.


  Setelah Selesai makan dan semua menu yang telah disajikan itu habis, om devan segera membayar bill yang telah pelayan itu berikan padanya. “makasih ya om, sudah traktir kita makan.!!” Ucap veno pada om devan dengan ramah. “bukan apa – apa, lain kali kalau ada waktu, kamu juga bisa traktir balik om dan chika kok.!, haha.!!” Ucap om devan menyauti perkata’an veno. “busyet, ngarep banget nih orang.!!” Saut dio dalam batin sembari memandang kaget ke arah om devan. “kalau gitu aku pamit pulang dulu ya om.!!” Ucap veno sembari berjalan bersama dio. “oh iya, nak dio kamu juga ikut pulang.?” Om devan bertanya penasaran. “iya om, rumah saya satu jalan sama veno, jadi saya pulang bareng veno.!!” saut dio. Nampak dari wajah chika maupun papanya, mereka kurang begitu suka melihat dio dan veno jalan berdua.

__ADS_1


  Mencoba memanasi chika maupun papanya yang masih memandang ke arah mereka berdua, dio sengaja mendekatkan badannya pada tubuh veno, dan menggandeng lengan veno saat mereka berjalan bersama menuju mobil. Jantung veno pun berdegub tak beraturan seketika. Veno memandang dio dengan tatapan yang penuh


kebahagia’an dalam matanya. Begitu hangat dan tenang hati veno saat ini. Karena selama ini, veno belum pernah mendapat perlakuan hangat dari seorang wanita dalam kehidupannya. Selama ini veno terus menutup rapat pintu hatinya, dan tak memiliki ambisi untuk memulai hubungan percintaan bersama seseorang. Namun saat ini, secara tak di duga – duga, veno terikat dengan seorang wanita, dan dengan perlahan pintu hati veno yang telah tertutup rapat itu mulai terbuka.


  Veno dan dio telah masuk ke dalam mobil merah milik veno. Pedal gas telah di injak oleh veno, dan mobilpun melesat meninggalkan parkiran restaurant itu. Merasa telah jauh dari pandangan chika maupun papanya, dio pun membuat jarak diantara dirinya dengan veno “kenapa gak nempel kayak tadi.??” Veno mulai bertanya pada dio. “yaa kan udah gak ada chika sama papanya.!!” jawab dio dengan polos. “berarti kalau ada mereka, kamu baru mau nempel sama aku.??” Saut veno tegas. “ya enggak gitu juga sih..!!” dio menjawab dengan nada bimbang dan bingung. Tiba – tiba veno meraih lengan dio, dan menariknya hingga badannya ikut tertarik. Karena dio belum memakai sabuk pengaman, badan dio mendekat dan menimpa sebagian badan veno. Dengan posisi badannya yang menempel pada sebagian tubuh veno, membuat jantung dio terpacu lebih kencang. “ven, lu lagi nyetir.!!”


Dio berkata sembari terbata bata. Veno tak menggubris perkataa dio. Merasa badan dio yang tengah menempel pada sebagian tubuhnya, aliran listrik seakan mengalir pada tubuh veno. Veno melepaskan tangannya dari lengan dio, dan segera melingkarkan tangannya pada pinggang dio.

__ADS_1


__ADS_2