Pernikahan Siswi SMA Yang Rahasia

Pernikahan Siswi SMA Yang Rahasia
Kerjasama


__ADS_3

Setelah proposal tersusun dan telah siap, dio, indah, dan leni segera meluncur menuju perusahaan veno mengendarai mobil milik dio yang dikemudikan oleh riko. “di, kayaknya sopir lu kemarin tua’an deh!, kenapa bisa berubah jadi ganteng gini?” leni bertanya sembari terus menatap riko dari kursi belakang, hingga riko pun merasa risih. “sial, kenapa tuh bocah ngawasin gua terus sih!, acara bilang gua sopir segala!, kalau bukan karena keselamatan dio, ogah banget gua mempertaruhkan harkat dan martabat gua!” riko terus menggerutu dalam batin.


“dia bodyguard gua, ganteng kan?” sahut dio sembari mengangkat kedua alisnya ke atas dan tersenyum ke arah leni. “gua ganteng? Yeeeaay!” riko berteriak dalam batin, mendengar ucapan dio yang tengah memuji ketampanannya. “astaga, gua ngimpi apa tadi malem, ternyata gua ganteng di mata dio, hahahaha!” tak henti – hentinya riko tertawa dalam batin, merasakan begitu bahagianya dirinya mendengar ucapan dio mengenai dirinya.


“ganteng sih, tapi cueknya minta ampun!” sahut leni. “emang cowok cuek tuh berdamage sih!” indah ikut menyahuti. “mas riko, kamu dibayar berapa sih sama dio? Gua tambahin, mending jadi bodyguard gua aja, haha!” sahut leni mencoba menggoda riko. “enak aja lu mau nyerobot bodyguard gua!, gua keples juga nih!” dio menimpali guyonan leni, dan tawa pun pecah diantara mereka ber empat. “kira – kira kita bisa ketemu sama direktur perusahaannya gak ya?” ucap indah dengan lesu. “meskipun gak ketemu, yang penting proposal kita di ACC !” leni menyahut. “iya juga sih!” indah menimpali.


“kira – kira, direkturnya udah tua apa om – om kece ya?” ucap leni dengan penasaran. “jangan bilang lu mau tebar kegatelan lu di depan Pak Direktur!” sahut indah sembil melotot ke arah leni. “hahaha kalau tua,, ogah banget gua!” leni menimpali. Dio tak menggubris percakapan leni dan indah di kursi belakang dan hanya fokus menatap jalanan di depannya. Riko melirik ke arah dio yang tengah duduk di samping kursi kemudinya sembari tersenyum.


Mobil telah berhenti di tempat parkir perusahaan veno. Dio, indah, dan riko telah lebih dulu turundan hanya tertinggal leni yang masih berada di dalam mobil dan tak kunjung keluar. Sampai beberapa lama mereka bertiga menunggu, leni tak kunjung keluar hingga mereka bertiga pun berinisiatif mengintip leni. Sungguh mengagetkan ketiganya, melihat leni yang masih asyik touch up, dengan meratakan wajahnya dengan bedak, dan mengoleskan liptint pada bibirnya untuk mempercantik tampilannya.

__ADS_1


“astaga len, belum tentu kita ketemu sama direkturnya, gak usah menor – menor kalau dandan!” indah memperingatkan dengan ketus. “ssttt!, siapa tau ketemu sama Asisten Direkturnya yang ganteng, kan lumayan!” sahut leni. Mendengar ucapan leni, riko yang menjabat sebagai Asisten Direktur ekspresinya seketika berubah tersenyum aneh dan menghembuskan nafas panjang. Melihat reaksi riko, dio pun tertawa sambil berkata “hahaha, kelihatannnya Asisten Direkturnya gak mau deh sama lu len!” ucap dio. “belum dicoba, jangan negative thinking dulu!” leni menyahut dengan percaya diri. “pfftt!” dio pun tak kuasa menahan tawanya melihat kepercayaan diri yang tinggi dari leni.


Tiba di lobi, indah dan leni terus menatap takjub pada sekeliling ruangan yang nampak canggih dan mewah. Saat ini indah dan leni tengah duduk di kursi tunggu, dan dio yang berpura – pura bertanya pada resepsionis. “kenapa anda tidak langsung masuk saja!” belum selesai resepsionis berkata, dio menyahut “ssttt, kita pura – pura gak kenal ya di depan temen – temen gua!” ucap dio dengan berbisik. “oh, baik!” resepsionis menyahut sembari mengangguk.


“guys, kata resepsionisnya kita harus tunggu sebentar!” ucap dio menghampiri kedua temannya. “apa direkturnya mau nemuin kita di?” indah bertanya sembari berdebar penasaran. “katanya sih tunggu sebentar, semoga aja proposal kita di ACC!” dio menyahut sembari tersenyum. “drrrtt!” ponsel dio bergetar, nampak sebuah panggilan masuk dari veno. “hallo ven?” dio menyahut. “kenapa gak langsung masuk aja buat nyerahin proposal?” ucap veno. “sstt, jangan terburu – buru, biar terkesan lebih dramatis kita harus pura – pura nunggu!, biar ada kesan kalau lu direktur yang sibuk ven!” dio berkata dengan berbisik pelan, agar kedua temannya tak mendengar percakapannya bersama veno. “ya udah, gua tutup dulu!” sahut dio sembari mengakhiri panggilan.


“nona – nona, kalian tunggu di ruang meeting di lantai 4, nanti akan ada tim humas yang akan menghampiri kalian!” ucap resepsionis tersebut dengan ramah. Mengikuti arahan, dio bersama dua temannya menaiki lift dan berjalan menuju ruang meeting. “ceklek!, permisi!” mereka bertiga masuk ke dalam ruang meeting dan menunggu bagian humas. Leni dan indah nampak gugup, dengan mengerakkan kedua kakinya terus menerus, indah memainkan jarinya untuk mengurangi gugup. Berbeda dengan indah, leni mengurangi rasa gugupnya dengan memainkan ponselnya, dan sesekali membuka aplikasi kamera untuk sekedar mengaca.


“ini proposal dari kami, semoga bisa dipertimbangkan kembali!” ucap dio dengan sopan sembari menyerahkan sebuah berkas proposal kepada Pak Hanan, Kepala Divisi Humas di perusahaan veno. Meraih berkas tersebut, Pak Hanan segera membaca proposal dengan cermat sampai selesai, hingga membutuhkan waktu cukup lama mereka menunggu.

__ADS_1


Akhirnya kesepakatan yang saling menguntungkan terjalin, dan sudah dapat dipastikan bahwa Perusahaan IT International akan ikut andil memeriahkan gelaran pameran pada sekolah dio. “Terima kasih banyak pak!, kami undur diri!” ucap dio sembari menjabat tangan Pak Hanan dengan bersemangat. Tak hanya dio, indah dan leni juga terlihat puas dan terus tersenyum bahagia.


“gua balik dulu ya, kalian hati – hati kalau pulang!” ucap leni berjalan pergi meninggalkan latar perusahaan veno. “gua juga balik dulu ya di, sopir gua udah lama nunggu soalnya!” indah pun berpamitan dan meninggalkan dio sendiri. Setelah kedua teman dio pulang, veno keluar dan segera menghampiri dio yang berdiri sendiri di dekat pintu masuk. “kita pulang yuk!” ucap veno berbisik. “emangnya udah selesai kerjanya?” dio menyahut. Mereka berdua pun masul ke dalah mobil, dan pulang bersama. Dari sudut yang cukup jauh, nampak seorang pria tengah mengawasi dio dan juga veno dari dalam mobil sambil mengambil beberapa potret mereka berdua.


Di rumah kevin.


Kevin yang baru selesai mandi tengah menatap kaca wastafel di kamar mandinya sembari terus tersenyum. Ia menatap bibinya, dan membayangkan adegan ciuman panasnya tadi dengan dio. “hahahaha” kevin tertawa terbahak – bahak sembari sesekali mengusap bibirnya dan memandang kedua tangannya dengan begitu bahagia.


Nampak papa kevin yang baru tiba tengah berjalan menuju kamarnya. Melewati ruang keluarga dan naik ke lantai dua, Pak Rudi atau papa kevin sengaja menghentikan langkahnya di depan kamar kevin. “hahaha” terdengar suara tawa kevin yang cukup keras dari dalam kamarnya. Membuat Pak Rudi terperanjat kaget, pasalnya baru kali ini ia mendengar kevin tertawa hingga terbahak – bahak. Dengan tergesa – gesa Pak Rudi berjalan kembali ke lantai bawah, dan berjalan menuju garasi untuk menemukan Pak Ali.

__ADS_1


“Ali!, Ali! teriak Pak Rudi dengan kencang memanggil nama Pak Ali berulang kali. “ada apa tuan?” sahut Pak Ali mendekat ke arah Pak Rudi dengan penasaran. “ali, kamu tahu kenapa kevin bisa tertawa keras di atas?” ucap Pak Rudi dengan penasaran sembari menatap Pak Ali dengan serius. “sepertinya berkaitan dengan nona dio pak!, karena dari sepulang sekolah Tuan Kevin terus tersenyum dan tertawa pak!” jawab Pak Ali menjelaskan. “apa seharusnya aku ikut campur urusan mereka ya?” Pak Rudi merenung dan bergumam dalam batin.


__ADS_2