Pernikahan Siswi SMA Yang Rahasia

Pernikahan Siswi SMA Yang Rahasia
Berkemas


__ADS_3

Sehari sebelum pesta ulang tahun kevin.


“ven, ayo kita tolak perintah Pak Rudi untuk pisah!, ayo kita hadapi masalah ini sama - sama!” ucap dio dengan memelas menatap veno. Veno tak menjawab, dan hanya duduk termenung di atas tempat tidur. “ven, apa lu rela jika hubungan kita berakhir?, apa lu rela jika gua bersama pria lain?” ucap dio dengan nada meninggi. “gua gak ingin lu melepas semua cita – cita lu selama ini di!, maafin gua!” ucap veno sambil menatap sedih ke arah dio.


“jadi lu setuju dengan perintah Pak Rudi?” dio membentak sambil menangis. “bukannya gua setuju, tapi gua pengen lu tetep bisa ngejar cita – cita agar semua yang lu perjuangin selama ini enggak sia - sia dio!. Gua gak mau masalah ini ngehancurin kerja keras lu selama ini!” veno menyahut dengan tegas. “tanpa harus berpisah gua juga akan terus ngejar cita – cita gua kok ven!, please ayo kita tetep bersama!” ucap dio sambil merengek sedih. “maaf di, pilihan gua udah bulat!, mari kita jalani hidup kita masing – masing dengan baik!” ucap veno dengan bergetar menahan sedih.


“oke, kalau itu yang lu mau!” dio pun menyahut sambil mengusap air matanya dan mencoba kuat. “tunggu sampai lu udah lulus kuliah dan berhasil wujudin semua keinginan lu buat ngambil alih perusahaan papa lu dio!, di saat semua sudah normal, kita akan bersama lagi!. Kita akan bikin resepsi pernikahan yang mewah, dengan banyak tamu undangan tentunya!” sahut veno sambil meraih pundak dio.


“ma’af jangan terlalu berharap ven, mungkin saja saat itu tiba aku sudah menjadi milik orang!” dio menyahut dengan ketus sembari berjalan meninggalkan veno di kamar. Seperti terkoyak hati dio merasakan kekecewaannya terhadap veno. Dalam kesulitan yang ingin ia lalui bersama veno seorang, namun dengan mudahnya veno memutuskan hubungan sakral yang telah mereka rajut hampir setahun ini.


Kembali pada dio dan veno di kamar.

__ADS_1


“perkataan lu yang mana?” sahut dio sembari mencoba menjauhkan diri dari pelukan veno. “yang gua inget lu kan pengen pisah sama gua!, lu gak mau bareng – bareng ngadepin masalah dan milih buat lari dari masalah ini, iya kan?” dio menyahut dengan nada meninggi. “bukan itu tujuan gua di!, gua gak mau lu dapet masalah yang lebih besar lagi, apa lagi ini menyangkut pendidikan dan masa depan lu!” sahut veno mencoba menjelaskan sebisanya.


Tak merespon ucapan veno, dio bergegas mengemasi baju dan barang – barang miliknya yang ia anggap penting untuk dibawa. Selesai mengemasi seluruh barang – barang yang akan dibawanya, dio menarik koper besarnya dan bergegas keluar dari kamar. “di, gua akan selalu berada di sekitar lu dan pada waktunya nanti, gua akan nepati janji gua!” ucap veno dengan nada tegas. Lagi – lagi dio tak menjawab dan tetap berlalu meninggalkan veno sendiri.


Menatap dio yang tengah menarik koper besar miliknya, kevin bergegas menghampiri dan membantu dio. “sini biar aku yang bawa!” ucap kevin sembari mengambil alih. “nyonya!” terdengar suara teriakan Bu Ani memanggil dengan tiba – tiba. Dio pun menoleh ke arah dapur. Nampak Bu Ani dan Pak Anton tengah menatap penuh haru ke arah dio. “Bu Ani?, Pak Anton?” sahut dio sembari berjalan menghampiri mereka bedua. “maafin dio ya Bu Ani, Pak Anton!” ucap dio dengan mata yang berkaca – kaca. Perpisahan pun terjadi dengan dramatis.


Selesai berpamitan, dio menghampiri kevin yang telah menunggunya sedari tadi, dan berdiri mematung di samping mobil. “vin, tunggu sebentar ya!, aku mau ngambil motor dulu!” ucap dio sambil meninggalkan kevin dan berjalan menuju garasi. “motor?” kevin tertegun mendengar jika dio ingin mengambil motornya.


“aaaa, sakit vin!” sahut dio sembari menepuk kedua tangan kevin. “gua jadi pengen dibonceng nih!” sahut kevin sambil melepaskan kedua tangannya dari pipi dio. “banyak deh maunya!, udah, ayo ikuti gua sekarang!” dio menyahut ketus sambil menarik gas motornya, dan di ikuti kevin mengekor di belakang. Di sudut lain, dengan penuh kekecewaan serta penyesalan, veno menatap dio dari balkon lantai dua, yakni di sebelah kamarnya berada. Melihat dio dan kevin yang begitu akur dan saling bercanda, hati veno terasa panas karena terbakar api cemburu yang saat ini menyala dan menguasai hatinya.


Perjalanan berhenti di tempat parkir sebuah apartemen mewah yang letaknya tak jauh dari pusat kota. Apartemen tersebut adalah milik keluarga dio yang telah disita oleh BANK, namun telah ditebus kembali oleh veno untuk ia berikan pada istrinya yakni dio. Dio dan kevin berjalan beriringan dan masuk ke dalam lift menuju lantai 6. Keluar dari lift, dio dan kevin masuk ke sebuah apartemen. Bisa diketahui dari tulisan yang tertera di samping pintu yakni A52, tak salah lagi, apartemen yang di tuju dio adalah unit A52. “ceklek!” pintu pun terbuka. “bruuk!” dio menghempaskan tubuhnya di atas sofa empuk di ruang tamu. ,”huuftt!, hampir setahun ini gua gak main kesini!” ucap dio sambil menghembuskan nafas panjang.

__ADS_1


“kalau enggak salah, terakhir kali kamu kesini seminggu setelah mama kamu berpulang kan?” kevin menyahut sembari duduk menyandingi dio. “iya!” dio menyahut sedih. “jangan sedih!, kan ada gua di sini!” ucap kevin sambil mengelus lembut rambut dio. Hampir setahun ini dio sengaja tak mendatangi apartemen milik keluarganya itu, karena begitu banyak kenangan manis keluarganya yang terjadi di apartemen ini. Dan saat ini hanya dio seorang yang bisa berkunjung, tanpa kedua orang tuanya yang ikut bersama. “vin, gua pengen sendirian, please tinggalin gua!” ucap dio dengan wajah yang terbenam di antara bantal dan sofa.


“iya sayang!, kalau kamu butuh apa – apa, hubungi gua ya?” sahut kevin sembari mengecup mesra rambut dio. “ceklek!” terdengar suara pintu tertutup, menandakan kevin telah meninggalkan apartemen dio. Kini hanya ada dio seorang, jadi dio bebas mengekspresikan emosinya “huhuhuhuu!” dio menangis tersedu dengan posisinya kepalanya yang masih terbenam di sela – sela bantal dan sofa. “huhuhuhu, kenapa lu jahat sama gua ven!, kenapa lu gak mau bareng– bareng sama gua!” ucap dio sambil menangis sejadi – jadinya. “mama, papa, dan sekarang kamu ven!” dio terus mengoceh penuh emosi.


Cukup lama dio melampiaskan amarahnya dengan menangis tersedu sambil mengoceh, kini dio nampak lebih tenang dan telah menghentikan tangisannya yang teramat histeris itu. Entah karena emosinya yang membaik atau mungkin karena kelelahan. Dio memutuskan untuk mengakhiri tangisan kencangnya, yang jika di dengarkan dari jauh terdengar hampir mirip dengan raungan. Jika apartemen dio tidak memiliki fasilitas kedap suara, sudah pasti seluruh penghuni unit di sekitar apartemen dio telah berkumpul, karena saking keras nya dio menangis.


“ting tong!, ting tong!” terdengar suara bel berbunyi. “siapa sih, pindah rumah aja belum sehari udah ada tamu yang dateng!” dio menggerutu sambil bangun dari posisi tidurnya. “ceklek!” pintu pun terbuka. “veno?” nampak veno muncul dari balik pintu. “ngapain kamu kesini?” ucap dio seraya memandang kaget ke arah veno. “ada sesuatu yang pengen gua anter buat lu di!” veno menyahut dengan dengan lemah lembut. “apa an?” dio menyahut berpura – pura ketus. “ijinin gua masuk, ada sesuatu yang pengen gua sampai’in sama lu di!” ucap veno dengan memelas memandang dio.


💟 Hai kakak semua 💟


Selangkah lagi menuju episode terakhir. Pasti kalian penasaran, dengan siapa dio bakal melabuhkan hatinya. Komen dong, kira - kira dio bakal sama veno atau sama kevin😊😊

__ADS_1


__ADS_2