
Seluruh rangkaian acara ulang tahun kevin telah selesai dilaksanakan. Ruang tempat diadakannya pesta di rumah kevin nampak sepi, karena sedikit demi sekit hadirin telah pulang ke rumahnya masing - masing. Begitu juga teman sekelas kevin yang pamit pulang, termasuk indah. “vin, gua balik dulu ya!” ucap indah berpamitan. “lu gak balik juga di?” ucap indah sambil menatap dio. “iya, gua juga...” belum selesai menjawab pertanyaan indah, mama kevin pun menyahut “dio, kamu jangan pulang!, udah tidur di sini aja!” ucap mama kevin dengan lemah lembut menatap dio. Begitu hangat perlakuan mama kevin terhadapnya, hingga menolak pun dio tak mampu, dan hanya menjawab dengan tersenyum. “iya sayang, kamu tidur di sini aja, besok aku anterin pulang!” sahut kevin menyela pembicaraan.
“ya udah, gua balik dulu ya di!, bye – bye!” ucap indah sambil melambaikan tangan ke arah dio. “dio, mulai sekarang kamu jangan sungkan ya sama mama!, anggap aja mama ini mama kamu sendiri. Karena semenjak kamu jadi pacar kevin, mama udah menganggap kamu seperti anak mama sendiri“ ucap mama kevin sambil membelai rambut dio dengan lembut. Begitu hangat perlakuan maupun perkataan mama kevin terhadap dio, membuat hati dio pun luluh. “iya ma!” sahut dio sambil tersenyum manis.
“sayang, kamu pasti capek!, ayo aku anterin kamu ke kamar!” ucap kevin dengan lemah lembut pada dio. “ehm, iya vin!” sahut dio sembari berjalan mengikuti kevin menuju lantai dua, dan masuk ke dalam kamar kevin. “lho, kok masuk ke kamar kamu vin?, jangan bilang kalau kita se kamar?” ucap dio sambil menatap kevin dengan curiga. Mendengar pertanyaan dio, kevin yang tengah duduk di kasur tiba – tiba menarik tangan dio ke arahnya hingga dio pun terduduk di atas pangkuan kevin, dengan posisi membelakangi kevin. “deg, deg, deg!” jantung dio pun berdegub kencang. Dio memang memiliki perasaan lebih dari sekerang teman terhadap kevin. Meskipun ia sadar bahwa perasaannya pada kevin tak sebesar perasaannya terhadap veno, namun dengan seluruh perlakuan hangat dari kevin beserta seluruh keluarganya, dio takut jika suatu saat nanti tak akan ada celah lagi untuk veno dalam hatinya.
Dengan hati yang berdebar dan suara yang sedikit terbata – bata, “vin, ki kita kan..” belum selesai dio berkata, “sssttt!, jangan diterusin!, gua tahu kok apa yang kamu maksud sayang!” ucap kevin dengan lembut sembari melingkarkan kedua tangannya pada perut dio. “sayang, jangan tinggalin aku ya?” ucap kevin dengan memelas sembari menguatkan pelukannya dari belakang. Merasakan pelukan dan ucapan kevin yang terdengar tulus, dio tak berani menjawab dan hanya menunduk tanpa jawaban.
“sayang, jangan tinggalin aku yaa!!” kevin mengulangi perkataannya sembari meletakkan kepalanya di pundak dio. Lagi – lagi dio yang takut untuk memberikan jawaban hanya diam tanpa suara. “sayangku, jangan tinggalin aku ya!” kevin lagi – lagi mengulangi perkataannya, dan dengan lembut menyentuh wajah dio sembari memelas menatap dio. “kamu tahu alasanku hidup?, itu karena ada kamu sayang!” ucap kevin sembari menatap mata dio dengan kedua matanya yang tengah berkaca.
__ADS_1
Kevin begitu bahagia, hingga ia tak dapat melukiskan seluruh warna warni dalam hatinya menggunakan kata – kata. Ia sungguh bersyukur, karena perasaannya terhadap dio sedari mereka kecil, hingga mereka berdua menjadi dewasa bisa terbalaskan. Ia tak menyangka jika dio yang selalu ia idam – idamkan itu kini telah resmi menjadi pacarnya. “kalau kamu belum bisa menjawab, aku akan membuat kamu mulai membuka hati buat gua di!” “dan jangan pernah lelah mendengar seluruh perasaanku yang bakal sering aku ucapin buat kamu!” ucap kevin sambil mengecup kening dio dengan lembut.
“kamu tidur di kasur, aku tidur di ruangan di balik situ!” ucap kevin sambil menunjuk ke arah pintu di samping ranjangnya. “di situ ada kamar?” sahut dio dengan penasaran. “bukan kamar sih, tapi ada tempat tidurnya kok!” sahut kevin sambil tersenyum. “sini duduk!” kevin menepuk kasur tepat di sebelahnya duduk. Dio pun turun dari pangkuan kevin dan duduk di tempat kevin menepuk. Sedikit bergeser, kevin menaikkan kedua kaki dio tepat di atas pangkuannya, dan dengan lembut memijat kedua kaki dio.
“kaki kamu pasti capek ya sayang, dari tadi berdiri dengan high heels!. Kenapa gak pakai flat shoes aja!” ucap kevin sembari memijat lembut kaki dio. “kan lebih cocok pakai high heels!” sahut dio dengan polos. “pantes atau enggak, cocok atau enggak!, kamu cukup pakai yang nyaman buat kamu!” sahut kevin menambahkan. Mendengar ucapan kevin, hati dio semakin terketuk. Sedikit malu – malu, dio pun menjawab dengan mengangguk patuh!. Di banding sebelumnya, kini dio lebih merasa nyaman berada di samping kevin. “kamu jago juga mijetnya, gua jadi ngantuk deh!” ucap dio sambil merebahkan tubuhnya di atas kasur. “kalau kamu capek dan pengen dipijet, jangan sungkan bilang ya sayang!” sahut kevin sambil tersenyum menatap dio. “siap!” dio menyahut dengan penuh semangat.
Di rumah veno.
Ke esokan harinya.
__ADS_1
“hoamm!” dio menguap dan mulai terbangun dari tidurnya. Menatap kamar tempatnya tidur terasa asing, dio pun menjingkat kaget. “astaga gua lupa, kalau semalem gua tidur di kamar kevin!” ucap dio sambil beranjak dari kasur, dan melangkah menuju jendela yang masih tertutup gorden. “sraakk!!” dio menarik tali mencoba membuka gorden. Perlahan, cahaya mentari mulai masuk memenuhi kamar kevin. Melihat begitu indahnya pemandangan dari jendela kamar kevin, membuat mood dio pagi ini membaik.
Seperti melihat lukisan alam, dengan pegunungan hijau yang berjajar rapi dengan sawah yang menguning terbentang di bawahnya. Ditambah pepohonan hijau yang rimbun, membuat hati maupun fikiran dio menjadi lebih baik. “waaah, indah banget!” ucap dio dengan penuh kegembiraan.
Setelah membuka gorden, dio berjalan untuk melihat – lihat kamar kevin. Menatap di setiap sudut terpampang potret wajahnya, dan seluruh kamar yang dipenuhi dengan hal – hal yang bercirikan dirinya, membuat dio merasa nyaman layaknya sedang berada di kamarnya sendiri. Dio berjalan menuju sudut kamar kevin yang nampak sedikit aneh menurutnya. Dengan rasa penasaran, dio pun mendekat untuk melihat.
Begitu banyak potret wajah dan nama – nama yang tercoret menyilang menggunakan spidol merah. Dio yang masih penasaran mendekatkan matanya untuk membaca lebih dekat. Dio membaca secara acak nama – nama tersebut “ silvi, risa, renal, dina” dio berfikir sejenak. “kok gak asing banget nama – nama yang kevin coret ini?” ucap dio dalam batin. Dio pun meneruskan pandangannya, dan menatap salah satu potret. “dina?” dio mengenali potret bercoret merah itu adalah potret dina, teman sekolahnya yang ditahan karena berbuat jahat kepadanya.
Dio menatap potret di sampingnya “om fadli?” ucap dio dengan terkejut. Mengingat kembali jika om fadli juga sedang berada di penjara, karena tindakan perencanaan pembunuhan terhadap dirinya. Dio pun melihat pada potret terakhir “dika?” dio terbelalak menatap potret dika. “semua ini, orang – orang yang berbuat jahat sama gua!” ucap dio dengan terbata – bata. Dio yang syok berat seketika terdiam dan menutup mulutnya dengan kedua tangan sambil bernafas terengah – engah. Kaki dio yang berdiri tegap seketika terasa lunglai, dan dio pun terduduk dengan lemas di lantai.
__ADS_1
💟 Hai kakak semua 💟
Terima Kasih atas dukungan, like, maupun komennya yaa 😊😊. Sedikit bocoran, mungkin gak lama lagi novel ini bakal tamat. jadi tetep ikuti sampai update episode terakhirnya nanti ya teman - teman semua 😍