
Malam sudah berganti pagi. Veno yang sedari pagi menerima banyak telfon,
baik dari asisten maupun rekan kerjanya itu, membuat veno terpaksa berangkat lebih dini ke kantor.
Veno terlihat tergesa - gesa ketika berangat ke kantor, hingga untuk minum segelas susu pun ia tak sempat. Sepertinya ada hal yang amat mendesak, karena bukan kebiasaan veno untuk berangkat dengan terburu – buru, seperti yang ia lakukan saat ini.
Tiba di kantor, veno langsung mengadakan rapat dadakan bersama dengan dewan direksi maupun tim manajemen di perusahaannya. Rapat berlangsung alot, dengan beberapa pembahasan mengenai masalah serius yang sedang menyerang perusahaanya. Tak hanya perusahaan yang veno pimpin saja, melainkan banyak perusahaan di luar sana yang ikut terkena imbasnya. Baik perusahaan skala Nasional ataupun berskala Internasional, semua ikut panik menghadapi pergolakan pasar modal yang tidak terarah itu.
Banyak perusahaan yang tak mampu menghadapi masalah serius ini, dan pada akhirnya bangkrut.
Salah satu perusahaan yang berada di ujung tanduk, dan terancam bangkrut adalah perusahaan yang dipimpin
oleh papa dio. Perusahaan besar yang seakan kokoh, hebat, dan sukses itu akhirnya tak mampu menyeimbangkan kestabilan ekonominya.
Beberapa masukan dari dewan direksi maupun tim manajemen perusahaan, menjadi bahan pertimbangan bagi veno untuk mengambil keputusan yang terbaik bagi perusahaannya.
“Pak Veno.!! dengan berat hati saya menyarankan bapak untuk segera menarik saham yang telah perusahaan kita tanam di Perusahaan Jaya Nindo, karena itulah jalan terakhir yang harus kita lakukan pak.!!”
Salah satu anggota direksi memberikan tanggapannya kepada veno. Veno tak memberikan jawaban atas pernyataan salah satu anggota rapatnya itu. Veno terus berfikir, kiranya ada jalan lain yang bisa di tempuh,
tanpa harus menarik saham yang telah ditanam itu.
Anggota manajemen juga ikut memberikan tanggapannya.
“mohon Pak Veno menghilangkan dulu istilah keluarga dalam posisi perusahaan kita saat ini.!!”
“saya tahu Pak Rafli adalah mertua bapak!!, namun berfikir ke depan ada begitu banyak karyawan yang bergantung pada perusahaan ini pak.!!” Mendengar masukan dari tim manajemen itu, veno memegang kepalanya dengan kedua tangan. Ia terlihat bingung dengan keputusan yang akan ia ambil.
“mohon Pak Veno mempertimbangkan keputusan ini.!!” anggota rapat lainnya mulai ikut bersuara.
Dengan berat hati, veno akhirnya mengambil keputusan yang sama dengan suara anggota rapat lainnya.
Ia pun secara resmi mengumumkan keputusan yang telah diambilnya itu kepada anggota rapat.
“karena terjadi pergolakan dalam pasar saham yang membuat suatu hal yang tidak di inginkan terjadi pada perusahaan kita, sesuai kesepakatan bersama, dan banyak pertimbangan yang sudah kita lakukan, dengan ini perusahaan kita berhenti menjadi investor dan menarik seluruh saham dari perusahaan Jaya Nindo.!!”,
“saya minta kalian fokus untuk memperbaiki sistem yang sudah hampir goyah ini. Mohon kerjasama antara pihak direksi maupun tim manajemen dengan serius menangani masalah ini.!!”,
“demikian rapat darurat kita hari ini.!!” veno menutup rapat yang telah ia pimpin selama hampir dua jam itu.
Tak seperti anggota rapat lainya yang membubarkan diri, veno malah terduduk dengan lesu.
__ADS_1
Ia sadar akan keputusan besar yang telah ia ambil itu akan berakibat fatal untuk perusahaan keluarga dio.
Namun karena kondisi darurat yang secara langsung berdampak pada perusahaan yang ia pimpin itu,
veno tak bisa mengambil jalan lain selain menarik semua modal pada perusahaan papa dio, untuk memperkuat fondasi perusahaannya yang saat ini sedang goyah.
Veno masih duduk di kursi tempat ia memimpin rapat.
Dari sudut ruangan, riko yang melihat veno tengah termenung itupun berusaha menenangkan pikiran dan perasaan veno yang tengah kacau. Riko pun berjalan mendekat ke arah veno, dan akhirnya berhenti dan berdiri tepat di depan veno yang tengah duduk. “pilihan ini adalah pilihan terbaik untuk perusahaan kita.!!",
"kamu sudah menjadi pemimpin yang baik.!!” Riko berkata pelan pada veno yang tengah termenung itu.
Veno mendongakkan kepalanya menatap riko, dan veno pun menjawab riko dengan ketus,
“seperti saat dulu gua lebih milih nyelametin lu.!! dan bukannya adek lu..??”,
“harusnya saat itu gua bisa nyelametin lu dan adek lu bersamaan.!, itu baru pilihan tepat.!”
Mengingat kejadia lampau saat veno masih duduk di bangku kuliah.
Veno sedang tersesat dan tak sengaja berjalan di sebuah pemukiman kumuh tempat riko tinggal.
Saat itu matahari sedang terik – teriknya, dan dibawah sinar mentari yang begitu panas, ia melihat sebuah rumah yang hampir separuhnya terbakar oleh api. Beberapa warga sekitar mencoba memadamkan kobaran api itu dengan alat seadanya. “tolongin di dalam ada korbannya!, ada dua orang di dalam!” Beberapa perempuan berteriak histeris. Namun sayangnya tak ada satupun orang yang menggubrisnya. Veno yang mendengar teriakan itu segera
Dengan terbatuk – batuk, dan juga asap tebal yang menutupi sebagian pandangannya,
veno membopong riko yang tengah pingsan itu menuju luar rumah.
Riko yang tiba – tiba tersadar, menjadi tidak terkendali dan berteriak histeris.
“adik..?, adikuuu.???, dimana adikku..??? riko berusaha masuk ke dalam rumah yang hampir sebagian bangunannya telah roboh itu. Namun warga sekitar mencoba menghadangnya demi keselamatan riko. “bruuaakk..!!” bangunan rumah riko pun ambruk, kobaran api menguasai seluruh rumah riko.
Riko hanya bisa lemas dan menangis sejadi – jadinya, karena keluarga yang riko miliki hanyalah adiknya.
Namun sekarang malah tidak selamat dan menjadi korban dari keganasan api yang membara itu.
Mulai saat itulah riko ikut tinggal bersama keluarga veno hingga saat ini. Dan hingga saat ini pula, veno masih menyesali pilihan yang dianggapnya kurang benar itu.
Di rumah,
Dio yang sudah selesai bersiap untuk berangkat ke sekolah itu berjalan santai menuju ruang makan.
__ADS_1
Melihat Bu Ani yang menghidangkan bakso di meja makan, dio terlihat gembira.
“waahhh..!!!,, akhirnya bisa sarapan sama bakso buatan Bu Ani.!!” dio berkata sembari mengambil bakso yang telah di hidangkan itu. “sesuai permintaan nyonya, saya khusus buatkan bakso yang rendah lemak buat nyonya dio.!”
Bu Ani berkata sambil tersenyum. “kalau nyonya mau minta dimasakan sesuatu, tinggal bilang saja ke saya.!!”
Ucap Bu Ani. Dio yang mulutnya tengah tersumpal penuh dengan pentol itu tak bisa menjawab, ia hanya
memberi kode dengan mengangguk sambil mengacungkan jempolnya ke arah Bu Ani.
Mobil yang dio tumpangi sudah sampai di depan gerbang sekolah. Ia segera turun dan berjalan masuk melewati pintu gerbang yang ada di depannya itu. Setelah melewati pintu gerbang, dio menoleh pada seseorang yang tengah berdiri di samping gerbang yang baru saja dio lewati. Ia melihat indah tengah berdiri sendiri di samping gerbang. Dan bisa dilihat dari raut wajahnya saat ini, ia terlihat gelisah. Sepertinya ada hal yang mengganggu pikiran indah
hari ini. Dio yang penasaran dengan apa yang telah terjadi pada indah itu, memutuskan untuk menghampiri indah. “haii indah.!!!” dio menyapa sambil melambaikan tangan kanannya.
“dio..!!!” indah yang kaget itu segera berlari menghampiri dio yang tengah berjalan ke arahnya.
“kamu baik – baik aja kan di.??”, “harusnya kamu jangan masuk sekolah dulu.!!”.
“apa kamu mau bolos sekolah aja.?, biar aku temenin.!!” Karena perkataan indah yang begitu banyak dan mendadak, dio menjadi bingung dan tak mengerti apa yang sedang dimaksud indah saat ini.
Dio pun berkata “wait.!!, maksud lu tuh apa sih ndah.?, tolong jelasin ke gua.!!, gua gak paham.!!”.
“jadi lu belum liat berita yang tranding di internet.?” Indah bertanya pelan di samping telinga dio.
“enggak..!!, berita apa emang.??” Dio menjawab santai sambil menggelengkan kepalanya.
“coba lu baca sendiri..!!” indah menjawab pelan sambil memberikan ponselnya kepada dio.
“Perusahaan Jaya Nindo bangkrut, dan beberapa aset yang tersisa terancam disita oleh BANK”.
Setelah membaca judul dari artikel itu, dio diam tak bersuara. Tangannya mulai bergetar karena syok.
“drrtttt.!!, drrrtttt..!!” ponsel dio bergetar, sepertinya ada panggilan masuk pada ponsel miliknya.
Melihat panggilan masuk itu ternyata dari mamanya, dio segera mengangkatnya. “ha, hallo ma.?”, “ma..??”
hanya suara gemuruh berisik yang mampu dio dengar.”halo.?, maa..??” dio mencoba memanggil mamanya. “nona,.!! saya susi..!!, saya telpon nona pakai ponselnya nyonya..!!”. Ternyata bukan mamanya yang menelfon,
melainkan susi yakni pembantu rumah dio. “iya bik susi, ada apa.??, mama kemana bik.??,
"papa gimana keadaannya bik.??” Dio terlihat cemas menunggu jawaban bik susi.
__ADS_1
Dio mendengar ucapan bik susi dengan seksama. Mata dio terbelalak seketika,
kedua tangannya bergetar hebat, dan akhirnya ponsel yang dipegangnya itu pun terjatuh membentur lantai. “prraakkk..!!.”.