
Dimas adalah anak tunggal yang tak memiliki saudara sekandung. Namun adanya dio dalam kehidupannya, membuat dimas merasa seakan memiliki saudara. Sosok dio di mata dimas bagaikan seorang adik sekaligus seorang kakak. Terkadang akur, saling menolong, dan seringkali mereka gelut. Dimas merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan merenung sejenak. Dalam benak fikiran dimas saat ini tengah memikirkan dio. Dimas pun mengingat kembali kejadian empat tahun yang lalu, saat dimas masih duduk di bangku SMA, dan dio masih menjadi murid SMP. Saat itu dio hampir dibully oleh beberapa siswi perempuan di sekolahnya. Dituduh sebagai perebut pacar orang, dio hampir saja dibully oleh beberapa kakak kelasnya di SMP. Namun berkat bantuan dimas yang berpura – pura menjadi pacar dio kala itu, membuat dio selamat dan tak jadi dibully.
Tak hanya itu, saat masih SMA dimas adalah murid berprestasi dengan wajah yang rupawan. Jadi tak heran jika dimas menjadi murid incaran para murid perempuan di sekolahnya. Hampir setiap hari ia menerima surat cinta dan juga hadiah yang terselip dalam kolong mejanya. Lelah dengan tingkah perempuan – perempuan itu, dimas pun berinisiatif mengaku jika ia telah memiliki pacar, dan foto bersama dio lah yang ia tunjukan sebagai buktinya. Sehingga para gadis yang terus mengejarnya perlahan berkurang. Sebuah rantai simbiosis mutualisme, dio dan dimas seakan saling mengambil keuntungan satu sama lain.
Saat itu dimas dicegat oleh beberapa teman perempuannya. Salah satu dari perempuan itu memiliki perasaan terhadap dimas, dan telah lama mengejar dimas, hingga dimas pun merasa muak. Salah satu perempuan itu bertanya “dim, apa dia pacar kamu?” ucap salah satu perempuan itu semmbari munjuk ke arah dio. “iya!” saut dimas cuek. “aku gak peduli kalau dia pacar kamu!, tapi siapa tahu kita berjodoh di masa depan!!” saut perempuan itu sembari berjalan meninggalkan dimas dengan lemas. “sorry, planning gua nikah sama pacar gua! Bukan sama orang lain!” ucap dimas dengan ketus. Mendengar ucapan dimas, dio yang menjilat ice cream cone di tangannya pun berhenti dan berfikir sejenak. Dio sedang menela’ah ucapan dimas mengenai ucapannya yang akan menikahi pacarnya itu. Mengingat jika saat ini dio tengah berperan sebagai pacar dimas, sontak dio pun terkejut.
Setelah beberapa perempuan itu pergi, dio yang tak terima dengan ucapan dimas, mengayunkan ice cream cone’nya ke arah hidung dimas. “nih rasa’in!, enak aja bilang mau nikahin gua!, nikahin tuh ice cream!!” ucap dio dengan ketus sembari menyodorkan ice nya ke hidung dimas, dan berjalan meninggalkan dimas. Hidung, pipi maupun mulut dimas pun basah dan belepotan oleh ice cream dio. Tak terima dengan perbuatan dio, dimas pun menjawab “gua bilang mau nikah sama pacar gua nanti, bukan sama lu!, jangan PD lu di!!, sini rasa’in pembalasan gua!” saut dimas sembari mengejar dio dan berusaha membalas dio dengan menyodorkan balik ice cream miliknya. Akhirnya mereka berdua pun kerjar – kejaran dengan wajah yang sama – sama belepotan.
__ADS_1
Di plataran mall.
Melihat dio masuk ke dalam taksi, entah mengapa fikiran kevin menjadi was – was. “di, lu beneran mau naik taksi?” ucap kevin dengan nada yang kawatir. “ya elah, gua bukan anak kecil lagi vin!!, lagi’an gua yang naik taksi, kok malah elu nya yang parno sih vin!” saut dio sembari tersenyum mencoba menenangkan kevin. “ya udah, kalau ada apa – apa, hubungi gua ya?” saut kevin dengan ekspresi wajah yang cemas.
Taksi pun melaju meninggalkan kevin sendiri. Dari sisi lain, nampak seseorang tengah berbicara melalui telefon dengan mencurigakan. “ada celah, saatnya kita beraksi!” ucap salah seorang pria dalam sebuah panggilan telefon. Tak lama, dua orang pria misterius mengendarai dua motor berbeda menggunakan helm full face, sedang mengikuti mobil taksi yang dio tumpangi secara diam – diam. Nampaknya kedua orang itu memiliki maksud dan tujuan yang jahat kepada dio.
Kevin yang masih merasa tak tenang dengan keselamatan dio, mengutus sopirnya untuk mengebut guna menyusul taksi yang membawa dio. Sampai beberapa jauh, taksi yang dio tumpangi belum juga terlihat. Namun ketika melewati jalanan yang cukup curam dan sepi, kevin terbelalak kaget, melihat sebuah mobil taksi mengalami kecelakaan, dengan kondisi mobil menabrak pembatas jalan, dan mobil pun hampir terperosok di dekat jembatan arah menuju kediaman dio.
__ADS_1
Berjalan dengan terseret – seret, kevin menghampiri pintu belakang taksi, tempat dio berada. Dengan tangan yang bergetar hebat, kevin membuka pintu taksi itu. “diooooo!!” kevin menjerit keras melihat dio yang pingsan dengan darah segar yang mengalir dari keningnya. Kevin pun menangis dengan sesenggukan layaknya seorang anak kecil sembari memeluk tubuh dio yang lemas tak sadarkan diri itu.
Kevin tak bisa mengontrol emosi sedih dari dalam hatinya. “di, sadar di!!, lu gak boleh kenapa – kenapa!!” ucap kevin sambil terus menangis dengan memeluk tubuh dio. Karena kesigapan sopir kevin yang dengan cepat menghungi ambulan, sehingga tak membutuhkan waktu yang lama, mobil ambulan pun segera datang.
Dio yang lemas itupun dilarikan ke Rumah Sakit yang tak jauh dari tempat tinggalnya, yakni Rumah Sakit tempat papanya dirawat. Rasa kawatir akan keselamatan dio membuat pikiran sehat kevin pun hilang. Tak kenal lelah, kevin terus menunggu dio yang tak kunjung sadar itu sembari mondar mandir di depan ruang UGD. “sudah tiga jam tuan kevin berdiri dan mondar – mandir, lebih baik tuan kevin duduk dulu,!” ucap sopir kevin dengan sopan. Tak mempedulikan ucapan sopirnya, kevin masih terus berjalan mondar – mandir dengan gelisah.
Menerima kabar jika nyawa anggota keluarganya tak terselamatkan, keluarga sopir taksi yang dio tumpangi, tengah menangis menjadi – jadi. Seakan tak percaya dengan kenyataan pahit yang harus diterima, para anggota keluarga sopir tersebut terus menyangkal jika nyawa kluarganya itu masih bisa diselamatkan. “dok, kakak saya pasti bisa diselamatkan!, tolong dokter berusaha sekali lagi!, saya mohon dok, huhuhu!!” ucap salah satu anggota keluarga sopir taksi itu pada dokter. “mohon maaf, kami telah berusaha semampu kami!” ucap dokter tersebut dengan sopan. Tak bisa menerima, perempuan itupun menangis sejadi jadinya. Mendengar kabar meninggalnya sopir taksi, kevin semakin gelisah dan perasaannya menjadi tak karuan. Seluruh tubuh kevin pun menjadi lunglai tak bertenaga, dengan kedua tangan yang terus gemetaran.
__ADS_1
Di kantor veno.
Veno baru saja selesai meeting bersama klien di kantornya. Saking pentingnya klien veno hari ini, ponsel veno pun di silent agar tak ada panggilan mengganggu meetingnya hari ini. Veno pun mengeluarkan dan melihat ponselnya dengan seksama. “ada panggilan masuk dari dio!, tumben dio telfon?” ucap veno dalam batin. Karena penasaran, veno pun menelfon balik pada nomor dio. “tuuut, tuuut!!”, “hallo!” saut kevin menjawab panggilan di ponsel dio. mendengar suara seorang pria yang menjawab, veno pun terkejut. “siapa ini?, dimana dio?” ucap veno dengan suara tegas. “di rumah sakit!, dio kecelakaan!” ucap kevin sengan suara yang sedikit membentak. Mengingat kembali pada saat dio ditemukaan dalam kecelakaan, dio tengah menggenggam erat ponselnya, dengan riwayat panggilan keluar atas nama veno.