Pernikahan Siswi SMA Yang Rahasia

Pernikahan Siswi SMA Yang Rahasia
Dio Semakin Tangguh


__ADS_3

Pagi ini mentari nampak begitu cerah. Veno yang telah sedari tadi terbangun, telah selesai berlari berkeliling perumahan, dan kembali ke rumah. Sembari mengusap keringat di sekitar dagu dan juga lehernya, veno berjalan menuju kamar untuk membangunkan dio. Veno telah menduga, jika istrinya saat ini pasti masih tidur dengan pulas. Selain berperan sebagai seorang suami, veno juga berperan sebagai alarm dio setiap harinya. Benar saja, dio belum juga bersiap untuk pergi sekolah, dan masih meringkuk dibalik selimut tebalnya. “sayang, ayo bangun!!” ucap veno dengan lemah lembut. Tak mendapat respon, veno menepuk pelan pundak dio sembari terus berusaha membangunkan dio. “woooiii yang banguuun, sekolaaahh!!!” veno menaikkan nada suaranya.


Tak kunjung bangun, veno menaikkan lagi nada bicaranya dan berteriak “woiii dio, banguunn!!!” mendengar sayu – sayu suara veno, dio tak kunjung membuka matanya, dan hanya menggerakkan tubuh untuk merubah posisi tidurnya. “astaga dio, kuping lu terbuat dari apa sih, sampe teriak kayak gini pun elu gak denger!!” veno menggerutu dalam batin. Hingga seluruh keringat di tubuh veno mengering, dio belum kunjung bangun. Tak ambil pusing, veno yang sejatinya sudah emosi itu melompat ke atas kasur. Dengan sengaja, veno melompat – lompat di atas kasur besar tempat tidurnya bersama dio. Karena lompatan veno yang kuat, membuat kasur yang dio tiduri terpental – pental cukup keras.


Merasa kasurnya bergerak dan terpental – pental cukup keras, membuat kepala dio seketika menjadi pusing, dan dio pun membuka kedua matanya. Melihat veno melompat berulang kali di sampingnya, dio pun berkata “duuh, kekanak – kanakan banget sih!!” saut dio sembari menguncir bibirnya. “harusnya bangunin itu halus!!, bukan lompat – lompat gak jelas kayak gini!!” dio mengomel sembari berjalan meninggalkan veno dan masuk ke dalam kamar mandi. Mendengar ucapan dio, veno seketika terdiam dan membanting handuk kecil yang menggantung di lehernya. “emang wanita selalu benar, dan lelaki selalu salah!!” ucap veno menggerutu kesal.


Setelah selesai bersiap, dio berpamitan pada veno. “gua berangkat dulu!” ucap dio dengan cuek. Mengingat jika mood dio yang buruk sejak bangun tidur, dio tak begitu memperhatikan veno dan hanya memberikan respon cuek. “sini gua cium!!” saut veno menyaut. “ogah!” saut dio ketus. Mendengar dio yang menolaknya, veno pun berlari menghampiri dio. Melihat veno berlari ke arahnya, dio ya panik itu pun berlari menjauh. Kalah cepat, dio pun ditangkap oleh veno dengan kedua tangannya.


Dengan gemas, veno menciumi kening, pipi, mata, dan hidung dio dengan berulang - ulang. “aaaa veno, lepasin!!” dio meronta – ronta mencoba melepaskan diri. “gua kasih tau ya, kalau besok – besok lu susah bangun kayak tadi, jangan salahin gua buat memperkaos lu!” ucap veno berbisik pelan di telinga dio. Dio pun terperangah mendengar ancaman yang dilontarkan oleh veno.

__ADS_1


Setelah tubuhnya lolos dari pelukan veno, dio segera berlari kencang menjauhi veno, dan menghampiri mobilnya yang telah siap berangkat. Jantung dio berdetak kencang, dan nafasnya terengah – engah. “hufftt, huufff dasar veno!, dikit – dikit ngancem gua!, liat aja besok gua bakal bangun lebih pagi dari pada dia!!” ucap dio menggerutu dalam batin sembari menghembuskan nafas panjang.


Sesampainya di sekolah, dio berjalan santai menuju kelasnya. “dio!!” terdengar teriakan indah tak jauh dari dio berdiri. Dio menengok ke kanan dan kirinya, mencoba mencari suara tanpa wujud itu. Nampak indah memanggil – manggil dari belakang semari berlari menghampiri dio. “lu mau olahraga? Acara lari – lari segala?” ucap dio dengan penasaran. “ehh di, cowok ganteng di belakang mobil lu tadi siapa? Sepertinya dia ngikutin lu deh!” saut indah dengan penasaran. “cowok ganteng?, dimana?” saut dio dengan kaget. “di belakang mobil lu!, cowok ganteng pakai mobil item di!” saut indah dengan antusias. “hadehh, semua cowok di mata lu emang ganteng semua ndah!, siapa tahu tuh cowok nganter pacarnya atau saudaranya!” saut dio dengan cuek.


Sesampainya di kelas, dio menjadi pusat perhatian bagi seluruh murid di kelas. Pasalnya hanya dio lah murid yang sering kali mendapat kesialan ataupun musibah. Baik itu kejadian buruk, gosip, hingga kecelakaan, semua menimpa dio secara silih berganti. Hingga tak sedikit dari teman di kelasnya menjauh dan enggan berteman dengan dio, karena takut tertular sial oleh dio. “eh di, kayaknya hidup lu penuh kesialan terus deh!, gua saranin lu buat rukyah atau pergi ke orang pinter!, biar kesialan lu gak nular ke kita!” saut chika dengan sinis pada dio. Mendengar ucapan chika, seluruh teman sekelas dio memandang aneh pada dio, dan ikut terprofokasi dengan ucapan chika yang seakan memojokkan dio itu.


Tak tinggal diam, dio pun menjawab “ke orang pinter?, bukannya disini yang paling pinter gua ya?, harusnya lu minta bantuan gua buat ngajarin lu belajar biar pinter!, dan pastinya belajar ngomong dengan sopan!” ucap dio dengan ketus. “mendengar ucapan dio, beberapa murid lainnya nampak menahan tawanya.


Tak hanya blak – blakan, dio yang sekarang lebih tangguh dan bisa membela diri atas penghinaan yang ia terima. Merasa tak bisa menjawab ucapan dio, chika yang kesal itu pun duduk dengan bibir yang terkuncir rapat. Melihat sahabatnya yang dengan berani membalas ucapan chika, seketika indah pun berdecak kagum. “ckckckck gila, head shot gak tuh!!” ucap indah sembari menggelengkan kepalanya dengan heran. “keren ya gua??” saut dio sembari tersenyum. “by the way, lu sekarang jadi songong gini ya di!, sini gua jitak kening lu!!” ucap indah dengan gemas pada dio.

__ADS_1


Jam pelajaran hampir dimulai, tapi kevin tak kunjung datang. Sesekali dio menengok ke arah bangku kevin. Tak biasanya dio memandang bangku kevin yang sedang kosong, membuat dio merasa aneh. Tiba – tiba tanpa diduga, kevin pun masuk ke dalam kelas dengan ngos – ngosan. Nampak dari penampilan kevin kali ini, ia terlihat sedikit acak – acakan.


Tak langsung duduk di bangkunya, kevin langsung menghampiri dio yang asyik berbincang dengan indah. “hay di!” ucap kevin sembari tersenyum manis. “oh, hai vin saut dio. “lu dari mana vin, kenapa baru dateng?” saut dio penasaran. “ehm, ada masalah yang harus gua urus di, jadi gua hampir telat!” saut kevin menjelaskan.


"kriiing!" Bel istirahat pun berdering.


Setelah makan siang di kantin, dio dan indah berjalan menuju perpustakaan guna mencari buku untuk mengerjakan tugas kelompok. “di, lihat deh!, ini bukan sih bukunya?” ucap indah sembari menunjukan salah satu buku di tangannya. “iya!” saut dio singkat. Setelah mengambil beberapa buku, dio dan indah segera duduk di kursi perpustakaan untuk mengerjakan tugas kelompok. Belum selesai dio dan indah berdiskusi mengenai tugas kelompok, segerombol siswi kelas bahasa yang duduk di belakang kursi dio nampak berbincang santai, dan bergosip asyik.


“lu tau dari mana kalau nama tuh cowok kevin?” terdengar salah satu perempuan itu bertanya dengan suara cukup keras, hingga dio dan indah pun menoleh penasaran. “tau lah, gua gitu loh!!”. “terus rencana lu mau ngajak kenalan atau gimana?” saut temannya yang lain. “kalau bisa sih pengen langsung gua ajak pacaran sih, hahha!!” saut salah satu perempuan itu dengan semangat. “anjay, PD banget lu!”, “kenalan aja belom, boro – boro mau langsung pacaran!” saut temannya yang lain. “planning gua sih mau ngajak kenalan dia, terus merancang hari – hari indah bersama dia, haha!!” terdengar riuh beberapa siswi kelas bahasa itu membicarakan laki – laki bernama kevin.

__ADS_1


Tak sengaja menguping, dio dan indah saling berpandangan satu sama lain. “jangan bilang kevin yang mereka maksud itu kevin kelas kita yang cinta mati sama elu!” saut indah dengan berbisik pelan di telinga dio. “gua berharap bukan sih!” ucap dio sembari menghembuskan nafas berat. Mengetahui jika dio tengah berada di perpustakaan, kevin yang tak bisa jauh dari dio itu pun memutuskan untuk menghampiri dio di perpustakaan.


__ADS_2