
Tepat beberapa hari sebelum dimulainya Olimpiade Matematika.
Rino mendapat teror misterius dari seseorang secara terus - menerus.
Ia mendapat teror pesan singkat yang berisi “semakin lu deketin dio, semakin berani gua bikin perhitungan sama lu”. Mengiranya hanya pesan singkat yang iseng, rino yang masih sering mendatangi dio di kelas itu, menerima pesan singkat yang mengancamnya lagi. “masih deketin dio? jangan harap hidup lu tenang”.
Setelah sampai di rumahnya, rino mendapat sebuah paket misterius dengan tujuan penerimanya adalah dirinya. Dengan perlahan, rino mulai membuka kotak misterius itu. “aah..!!” rino berteriak kaget.
Tangan rino langsung gemetar. Keringat dingin mengucur seluruh tubuh rino. Ternyata kotak misterius itu berisi bangkai tikus tanpa kepala, dengan sobekan kertas yang berisi tulisan “jangan dekati dio”.
Karena takut teror itu datang lagi, sampai dengan hari Olimpiade Matematika, rino tak lagi menemui dio ataupu
berusaha mendekati dio lagi.
Disisi lain,
Seorang laki – laki misterius memasuki kamarnya sambil membawa kamera.
Ia tak nampak seperti seorang wartawan. Ia pun meletakkan kamera yang masih menyala itu di atas meja.
Terlihat jelas, foto dio yang sedang tersenyum pada hasil potret kamera laki – laki misterius itu.
Setelah meletakkan kameranya, laki – laki itu meninggalkan kamarnya dan berjalan menuju kamar mandi. Mengejutkan, terlihat foto dio dengan ukuran besar juga terpampang di samping tempat tidur laki – laki itu.
Tak hanya itu, ia juga mengoleksi potret dio yang masih duduk di bangku SMP hingga saat ini dio yang sudah duduk dibangku SMA. Dan lebih ekstrimnya lagi, lelaki itu juga memiliki potret dio saat berkegiatan di luar rumah. Seperti sudah faham betul mengenai kegiatan dio, lelaki itu memiliki arsip potret hampir semua kegiatan dio.
Hingga potret terakhir yang di ambil oleh lelaki itu dalam kameranya yakni potret dio dalam kegiatan Olimpiade Matematika.
Semua foto dio terpampang rapi di tembok kamar laki – laki itu. Tak nampak seperti kamar untuk tidur,
__ADS_1
kamar laki – laki itu malah terlihat seperti pameran foto dalam sebuah galeri. Dan yang tak kalah mengejutkan, guling milik laki – laki itu sengaja berbentuk tubuh seorang wanita, dan dio lah sebagai wajahnya.
Seperti begitu tergila – gilanya laki – laki itu kepada dio, bahkan interior kamarnya semua berhubungan dengan dio.
Laki laki itu mulai mandi dan mengguyur badannya menggunakan shower. Terlihat dengan jelas ada sebuah bekas luka yang cukup besar pada pergelangan tangan laki – laki itu. Sepertinya, laki – laki itu pernah mengalami kejadian berdarah, melihat dari bekas luka yang masih membekas pada pergelangan tangannya itu.
Jam menunjukkan pukul 18.00 WIB.
“Di ayo ikut gua..!!” ucap veno kepada dio yang sedang asik bermain game.
Dio tak menjawab, ia pun hanya melirik sekilas ke arah veno yang terlihat serius itu.
“hmmm..??” dio berdehem singkat kepada veno. Veno pun berkata, “ayo cepet ganti baju dan pakai make up sana.!! Ayo ikut gua..!” sambil tetap fokus memainkan game di ponselnya, dio bertanya singkat “kemana.?”
Veno menjawab, “ke pesta.!!” Dio pun menjawab dengan datar, “gak ah..!! males.!!” Mengingat dio yang sudah sering kali mengikuti pesta bersama orang tuanya, pasti dalam pesta itu akhirnya dio akan merasa bosan.
Dengan acara pesta yang begitu formal dan dipenuhi banyak pebisnis maupun sosialita yang hadir, pasti di tengah – tengah mereka akan hadir pula gadis – gadis kaya yang amat sombong.
“lu boleh minta apa aja, tapi lu harus nemenin gua ke pesta.!!” dio memandang ke arah veno sambil menimbang –
nimbang keuntungan yang akan di terimanya itu. “mmm., okey deal..!!” dio berkata singkat.
Melihat dio yang masih duduk dengan santai, veno menarik tangan dio untuk segera berdiri.
“dah sana.!! cepet siap – siap, gua tunggu 30 menit lu harus udah selesai..!!”. dio pun berjalan ke arah kamar untuk siap – siap. Karena dio pernah mengikuti seminar make up dan kecantikan saat liburan akhir semester tahun lalu, bukan hal yang sulit bagi dio untuk ber make up dalam jangka waktu 30 menit saja.
30 menit kemudian,
Setelah selesai berganti baju formal, dengan setelan jas warna biru dongker dari brand terkenal dan terlihat elegan, veno pun menunggu dio di ruang tamu. Ia terlihat cemas memikirkan bagaimana penampilan dio malam ini. Karena pesta yang akan dihadiri veno dan dio adalah pesta kelas atas, akan banyak pengusaha sukses dan sosialita hadir dalam acara tersebut. Dan pastinya, akan banyak orang tua yang sengaja mencari kesempatan untuk mengenalkan anaknya kepada veno, seperti pesta – pesta sebelumnya.
__ADS_1
Pandangan veno mengarah pada dio yang tengah turun melewati anak tangga.
Dengan dress yang berwarna biru dongker mengkilat, dihiasi dengan mutiara dan beberapa permata yang sudah disiapkan oleh veno itu, dio terlihat anggun dan berkelas. Dengan keahlian ber make up yang dimiliki dio, membuat dio terlihat bagaikan seorang putri dari negeri dongeng.
Veno masih memandangi dio yang sekarang berdiri tepat di depannya itu. “nanti di pesta, gua harus gimana.?” Pertanyaan dio membuat veno tersadar. Dengan berpura – pura cuek, veno menjawab “lu bilang aja istri gua, gitu aja masih nanya..!!” jawab veno. Dio yang kaget mendengar jawaban veno itu menjawab, “jangan ngawur.!! Gua masih sekolah, masa gua bilang kalau udah nikah..??, kalau ketahuan, bisa di DO dong gua dari sekolah..!!”
setelah menjawab dengan ketus, dio segera pergi menuju mobil.
Sesampainya di aula salah satu hotel berbintang tempat pesta itu di adakan, veno dan dio yang masuk dengan
bergandengan itu mencuri perhatian para tamu lainnya. Beberap gadis terlihat cemberut dan tidak senang melihat veno yang bergandengan dengan dio. Hadir pula disana, lovita dengan dress warna merah sedang berjalan ke arah veno dan dio. “hai ven.!!” Sapa lovita kepada veno. “oh, hai vit.!!” Jawab veno. Meskipun lovita sudah mengetahui jika veno berpacaran dengan dio, lovita masih saja berusaha mendekat dan mencari perhatian pada veno. Dari sisi lain, seorang pria sedang berdiri di pojok pintu keluar. Pria itu mengarahkan poselnya ke arah dio, sepertinya pria itu sedang mengambil potret dio secara sembunyi – sembunyi. .
Dalam pesta yang berlangsung formal itu, dio sedang berdiri sendirian di dekat meja bundar dengan hidangan cake dan tart di atasnya. Karena veno sedang membahas masalah bisnis dengan rekan kerjanya, dio memilih
untuk menunggunya di dekat meja desert. Dio terlihat tenang dan bisa menempatkan diri.
Tepat dua meja dari meja dio berdiri, 3 orang gadis sedang memantau dio dari tempat mereka berdiri.
Sembari berbisik asik, sesekali mereka juga melirik ke arah dio. Entah apa yang sedang mereka bicarakan.
Dio merasa risih dengan perilaku ketiga gadis yang sedang memantaunya itu.
namun dio lebih memilih untuk tidak mempedulikan mereka, dan cenderung cuek. Akhirnya, tiga gadis itu menghampiri dio. “hai.!!” Salah satu gadis itu menyapa dio. “oh, hai.!!’ Jawab dio singkat. “kamu tadi berangkat sama kak veno ya? kamu siapanya kak veno.?” Salah satu gadis itu bertanya pada dio dengan nada yang ketus. Mendengar pertanyaan dari gadis itu, dio menjawab sembari tersenyum “kenalin.!!, aku calon istrinya veno..!!.
mendengar jawaban dio, gadis – gadis itu meradang. Ekspresi mereka berubah menjadi masam.
Bisa dilihat bahwa mereka sedang menahan emosi. Mereka bertiga pun akhirnya pergi meninggalkan dio dengan emosi yang hampir meluap.
Karena salah satu gadis itu tak bisa menahan emosinya, ia berjalan pergi sambil menyenggol tangan dio yang tengah memegang gelas. “praangg..!!” gelas dio terjatuh dan pecah berkeping – keping. Dio terpaku tak bergeming. Tak hanya tangannya yang dingin, keringat dingin dio juga mengucur dari seluruh tubuhnya. Sejak masih kecil, dio membenci suara kaca pecah, gelas pecah, dan apapun itu yang pecah. Karena dio memiliki trauma hebat mengenai suara kaca yang pecah sejak ia duduk di bangku Sekolah Dasar.
__ADS_1
Suara gelas dio yang jatuh itu membuat semua perhatian tertuju padanya. Dari jauh, terlihat seorang laki – laki berlari menghampiri dio. Melihat dio yang trauma, laki – laki itu menuntun dio untuk keluar dari auala pertemuan itu. Veno yang juga kaget oleh suara pecahnya gelas itu ikut terdiam. Namun, melihat istrinya sedang di tuntun oleh seorang pria lain, dan menjadi bahan pembicaraan para tamu lainnya, veno pun segera menghampiri dio.
Veno memandang ke arah laki – laki itu, dan ternyata veno mengenali laki – laki yang menuntun dio itu adalah salah satu teman sekolah dio.