
Melihat telur yang telah susah payah dimasak berakhir jatuh ke lantai, ekspresi dio pun kaget dan nampak kecewa. Begitu juga veno, rasa lapar yang terus menggelitik lambungnya seakan hilang secara mendadak, melihat telur dio yang terjun bebas dari teflon penggorengan. “yaahh, jatuh !!” ucap dio dengan ekspresi sedih. Tak mau melihat istrinya sedih, veno mencoba menghibur dio. “di, menurut gua perempuan tuh gak harus bisa masak. Jadi lu gak perlu sedih!, gua tambahin uang jajan lu, jadi lu gak perlu capek – capek masak kalau Bu Ani gak ada di rumah !!”ucap veno sembari menghampiri dio yang nampak sedih itu. Melihat rupa dapur yang berantakan, dan dengan hasil masakan yang zonk, veno hanya tersenyum dan berusaha menghibur istrinya yang telah berusaha itu. “udah sayang, kita pesen delivery order aja gimana?, lu mau makan apa?” ucap veno sembari merangkul dio dan pergi meninggalkan dapur.
“gua mau pesen rosemary chiken aja ven !!” saut dio dengan bersemangat. “oke, gua pesenin !!” saut veno sembari mengeluarkan ponselnya, dan memesan beberapa makanan. Setelah menunggu beberapa lama, makanan pesanan veno maupun dio pun tiba. Tak menunggu lama, veno dan dio yang telah kelaparan itu pun segera menghabiskan makanan yang telah dipesannya itu. Setelah menghabiskan seluruh makanan yang telah mereka pesan, veno pun berkata “di, gimana jawaban lu mengenai penawaran gua, soal bayaran buat ngajarin lu di rumah?” ucap veno sembari memandang dio dengan tatapan nakal. “em, masih, masih gua fikir – fikir dulu !!” saut dio dengan terbata – bata. Takut jika pertanya’an veno semakin intim, dio pun berjalan meninggalkan veno dengan raut wajah yang memerah. Melihat istrinya yang nampak gugub, veno semakin bersemangat untuk terus menggoda dio. “di, gua belum selesai bicaranya !!” ucap veno. “gak mau !!” saut dio sembari mempercepat langkah kakinya menuju kamar.
Jam menunjukkan pukul 01.00 dini hari. “ahh, tolong jangan , jangan !!” terdengar suara veno yang cukup keras membangunkan dio dari tidurnya. “veno mengigau lagi !!” ucap dio dalam batin. Karena beberapa hari ini veno selalu mengigau di tengah malam, dio pun selalu terbangun karena kaget dengan suara veno yang cukup keras. “mimpi buruk apa yang menghantui lu ven?, sampai – sampai setiap hari lu harus mengigau kayak gini ?” ucap dio sembari mengelus kening veno yang basah oleh keringat. Malam ini veno terus mengigau hingga cukup lama, dan membuat dio tak bisa tidur dibuatnya. Tak seperti hari – hari kemarin, malam ini veno mengigau dengan suara yang lebih keras, dengan ekspresi yang nampak ketakutan.
Baju veno pun basah karena keringat yang terus keluar dari seluruh badannya. “baju veno basah, kalau dibiarin dia bisa masuk angin !!” ucap dio dalam batin. Melihat baju veno yang teramat basah, dio pun memutuskan mengganti baju tidur veno. Dengan perlahan, dio pun melepas baju yang veno kenakan. Melihat badan veno yang kekar dan perutnya yang sixpack, pikiran dio pun travelling kemana – mana. Apalagi mengingat ucapan veno mengenai bayaran tubuh yang diminta veno darinya. Dio pun menelan ludahnya. “wah, gak nyangka gua bisa punya pikiran mesum kayak gini!!” ucap dio sembari mencoba memasang piyama milik veno. Dio pun tak sengaja menyentuh punggung veno. Alangkah kagetnya dio, melihat begitu banyak bekas luka yang hampir menutupi seluruh permukaan kulit punggung veno. “kenapa punggung veno banyak luka?” ucap dio penasaran.
__ADS_1
Melihat begitu banyak luka pada punggung veno, mengingatkan dio kembali akan sosok anak lelaki yang telah melindungi dio pada kejadian mencekam yang terjadi 8 th silam. Anak lelaki itu dengan berani menutupi tubuh dio, dan merelakan punggungnya penuh dengan kaca yang tertancap menembus permukaan kulitnya. Begitu jelas dio mengingat darah yang mengalir dari sela – sela kulit yang telah robek dengan kaca itu. “praank !!!” dio mengingat kejadian dimana wanita gila itu melempar sebuah botol kaca ke arahnya. Seketika tubuh dio pun bergetar ketakutan. Keringat dingin pun keluar mengguyur seluruh tubuh dio. Kedua tangan dio pun mencoba menutupi kedua telinganya. Dengan air mata yang tak bisa ia kontrol, hingga keluar membasahi kedua pipinya, “aaaa!!!” dio pun berteriak ketakuatan.
Mendengar suara dio yang menjerit ketakutan, veno pun tersadar dari tidurnya. “dio?, lu kenapa?” ucap veno dengan ekspresi bingung. Dengan sigap, veno segera memeluk tubuh dio yang tengah gemetaran itu, hingga dio pun terjatuh dalam dekapan tubuh veno. Merasa permukaan kulit dada dan perutnya menyentuh tubuh dio, veno pun terkejut dan langsung menatap tubuhnya. Dan benar saja, hampir seluruh piama yang veno kenakan hampir terlepas dari tubuhnya. Seketika wajah veno pun memerah. “apa dio yang sengaja buka baju gua?, apa jangan – jangan dio mau macem – macem selagi gua tidur?” ucap veno dalam batin.
Merasa lebih tenang dan ketakutan dalam fikirannya telah berkurang, dio pun menarik tubuhnya dari tubuh veno, dan membuat jarak di antara mereka. “maaf ya ven !!” ucap dio dengan penuh penyesalan. “iya!, udah jangan takut, ada gua disini!, ayo kita tidur lagi !!” saut veno menenangkan. Begitu banyak pertanyaan yang sebenarnya ingin veno tanyakan pada dio perihal bajunya yang terbuka, namun menyadari dio dalam kondisi kurang baik, veno pun menyimpan pertanya’an itu untuk ia tanyakan di esok harinya.
Jam menunjukan pukul 08.00 WIB. Saat ini dio sedang bersiap untuk mengunjungi papanya di rumah sakit. Veno yang selalu bangun pagi hari, secara tak terduga, ternyata saat ia masih belum terjaga dari tidurnya. Mengingat hampir semalaman veno tak bisa tidur nyenyak, dan terus bermimpi buruk, dio memutuskan untuk berangkat ke Rumah Sakit diantar Pak Anton, dan membiarkan veno untuk tidur lebih lama lagi. Setelah hampir seminggu dio tak mengunjungi papanya, dio pun memutuskan untuk mengunjungi papanya. Tak ingin membangunkan veno, dio hanya berpersan pada Bu Ani “bu ani, nanti kalau veno udah bangun, bilang aja kalau aku ke rumah sakit !!” ucap dio sembari berjalan menghampiri pak anton yang telah menunggu di halaman rumah.
__ADS_1
Di Rumah Sakit.
Sesampainya di rumah sakit, dio berjalan dengan penuh kewaspada’an menuju ruang perawatan papanya. Dengan sesekali menoleh ke belakang, dio yang mulai was – was itu pun merasa ada seseorang yang sedang berjalan mengikutinya dari belakang. Dengan perasaan yang tak tenang, dio mempercepat langkah kakinya agar segera sampai di ruang perawatan papanya. Dan benar saja, seorang pria misterius dengan sengaja mengikuti dio dari belakang, dan mengambil beberapa potret dio dengan sembunyi – sembunyi. Akhirnya dio telah sampai di ruang perawatan papanya. Melihat kondisi papanya yang masih belum sadarkan diri, dan hanya bergantung dengan alat – alat medis untuk kelangsungan hidupnya, dio tak bisa menghentikan tangis dari kedua matanya.
Di rumah.
“hooaam !!” terdengar suara veno menguap dengan cukup keras. Memandang ke seluruh penjuru kamar untuk mencari keberadaan dio, namun pandangan veno belum juga menemukan dio. Melihat jendela kamarnya yang dipenuhi sorot cahaya mentari, veno pun memandang ke arah jam dindingnya dengan spontan. “jam 10?, kenapa gua baru bangun?, dio kemana ya?” ucap veno menggerutu. Melihat piyamanya yang telah berganti, veno mulai mengingat dengan jelas jika semalam dio mencoba melepaskan piyama yang sedang veno kenakan. Seketika pikiran dewasa veno pun mulai berkembang. “dio mana ya?, gua goda’in ah !!” ucap veno dengan suara yang nakal.
__ADS_1
Veno pun berjalan berkeliling rumahnya guna mencari dio. Namun usahanya sia – sia, dio pun tak kunjung ditemukan. “tuan, tadi nyonya titip pesan ke saya, katanya nyonya mau ke jengguk papanya di Rumah Sakit!” ucap Bu Ani dengan tiba – tiba, dan mengagetkan veno. Mendengar ucapan Bu Ani, veno nampak kecewa. “oohh!!” ucap veno singkat. Karena merasa ditinggal, mood veno yang ceria itu pun berubah memburuk, dan veno terus mengomel karena kesal “kenapa dio gak ngajak gua sih!, liat aja nanti, gua bakal bikin perhitungan sama dia !!” ucap veno menggerutu kesal.