
Wajah dio langsung berseri – seri mendengar bahwa Black Card itu sekarang menjadi miliknya.
Meskipun dio lahir dari orang tua yang kaya, ia belum pernah menggunakan Black Card. Indah yang melihat adegan dramatis itu menunjukkan wajah sedihnya sambil berkata, “kapan gua di kasih Black Card sama cowok
gua..?” dio yang melihat ekspresi indah itu langsung tertawa. ”udah jangan sedih.!! nanti kita jalan – jalan yuukk..! biar gua yang traktir.!” Ucap dio sembari mengipaskan Black Card miliknya
Di kantor veno,
“ceklek.!”
Pintu kantor veno mulai terbuka. Seorang wanita muda dengan paras yang cantik muncul dan masuk ke dalam ruang kerja veno. Ialah lovita, selebriti papan atas yang menjadi salah satu Brand Ambasador sebuah produk milik veno yang akan segera rilis.
“hai ven.!!” Lovita menyapa lembut kepada veno.
“ada apa vit.?” Veno menjawab datar. “nanti sore peluncuran produknya di mall, kamu dateng kan.?” Tanya lovita. “dateng kok.!! Emang kenapa.?” Lagi – lagi veno menjawab dengan datar. “emm, boleh gak aku berangkat bareng kamu ke mall nya?” seperti memanfaatkan gosip veno yang sedang tranding, lovita sengaja ingin menunjukkan kepada khalayak umum, seakan – akan ia memiliki hubungan yang dekat dengan veno.
“sorry vit, aku gak bisa ngasih tumpangan.!, tapi kalau kamu mau, kamu bisa naik mobil riko.!!”.
Riko yang berdiri di dekat meja kerja veno itu menatap kaget kepada veno.
Mendengar perkataan veno, wajah lovita menjadi kurang bersemangat. Namun dengan tetap tersenyum ia menjawab, “oh ya udah kalau gitu, nanti aku biar bareng sama riko.” Ucap lovita.
“by the way, kamu udah makan siang.??” “udah..!!” veno menjawab singkat.
“ohh, ya udah sampai ketemu di mall ya..!!” ucap lovita sambil melambaikan tangannya sembari keluar dari ruang kerja veno. Veno membalas dengan senyuman.
Meskipun menyadari bahwa ia adalah seorang laki – laki yang mampu menarik perhatian para wanita, namun veno adalah seorang pria yang setia dan bertanggung jawab. Sejak masih duduk di bangku sekolah, veno memang terkenal cuek kepada perempuan. Sempat dikira penyuka sesama jenis, karena memang veno belum pernah pacaran dengan gadis manapun. Ia lebih fokus pada pendidikan dan masa depannya. Apalagi mengingat papanya yang jatuh bangun merawat veno sendirian tanpa adanya seorang istri. Menjadikan veno pribadi yang tidak terbiasa dengan adanya seorang perempuan dalam kehidupannya.
__ADS_1
Akhirnya jam pulang sekolah sudah tiba.
Dio dan indah segera masuk ke dalam mobil hitam milik dio.
“pak, anterin kita ke mall baru di dekat pusat kota itu ya..!!” ucap dio kepada Pak Anton.
“ooh, yang di dekat kantor tuan veno itu ya non.?” Jawab Pak Anton. “lho.! Emang kantor veno di dekat pusat kota ya pak.?” Dio penasaran. “iya non, perusahaan IT yang besar banget itu non.!! Jawab Pak Anton.
indah dan dio yang otaknya sedang conect itu, tiba – tiba saling memandang. Mereka langsung menebak, “perusahaan IT International..?” mereka berdua bertanya bersamaan. “iya non.!! apa sekalian mau mampir ke kantor tuan veno juga non.??” Dio terlihat kaget. “wah lumayan juga ya, veno bisa kerja disana.!!".
Jadi apa emang veno disana pak.??” Dio masih penasaran. “tuan veno kan Direktur Utama di sana non.!” Mendengar jawaban Pak Anton, dio dan Indah terbelalak kaget.
“astaga.!! di, cowok lu gak cuma cakep, dia juga sukses..!, lu beruntung banget bisa dapetin dia!”
Ucap indah sambil memegang tangan dio. Dio hanya tersenyum membalas perkataan indah mengenai suaminya itu. Pak Anton yang melihat ekspresi dua penumpangnya yang heboh itu hanya bisa menahan senyum.
Dio tiba – tiba termenung, dalam hati dio berkata, “pasti banyak perempuan ngantri buat dapetin veno, apa jangan – jangan dia punya cewek lain di luar ya..??” “hmm, semoga aja enggak.!!” dio mencoba berfikir positive.
Mereka berdua berjalan bersama dengan gembira. Dengan bersemangat, akhirnya mereka masuk ke dalam sebuah toko sepatu. Mereka berdua memilih sepatu dengan model yang sama, alias kembaran.
Setelah asyik memilih, dio dan indah berjalan ke arah kasir untuk membayar. “berapa totalnya mbak..?” dio bertanya pada salah satu kasir. “totalnya Rp 15.500.000,00 dek.!!” Ucap salah satu kasir. Dio mengeluarkan
Black Card miliknya untuk membayar sepatu yang telah ia dan indah pilih. Melihat seorang murid SMA mengeluarkan sebuah Black Card, kedua karyawan toko yang berada di kasir itu saling berpandangan kaget. Setelah membeli sepatu, dio dan indah segera berjalan keluar toko.
“thank you ya di.! Udah bayarin nih sepatu.!!” Ucap indah sambil tersenyum puas.
“lu apaan sih ndah.!! 3 bulan yang lalu lu juga habis bayarin gua baju..!, santai aja lah..!!” jawab dio dengan santai. Hubungan pertemanan dio dan indah memang begitu rekat. Mereka berdua tak hanya berbagi senang maupun susah bersama, namun menjadi teman yang tidak perhitungan satu sama lain.
__ADS_1
Pandangan mereka berdua tertuju pada salah satu acara yang diselenggarakan dalam mall itu.
Terlihat ramai dan meriah, mereka berdua pun terlihat tertarik dan berjalan mendekati acara yang sedang berlangsung itu. Mata mereka berdua tertuju pada salah satu pria yang berdiri gagah, dan berpartisipasi dalam peluncuran salah satu produk itu. “itu kan cowok lu di.!” Ucap indah sambil menunjuk veno.
Dio tak menjawab, ia hanya mengamati gerak gerik veno dari tempat mereka berdiri. Namun, wanita di sebelah veno itu terlihat begitu tertarik kepada veno. Ia selalu menaruh pandangannya yang menggoda itu kepada veno. Tak hanya itu, ia terus mengajak veno mengobrol, sembari mendekatkan badannya begitu mepet dengan
tubuh veno. Hingga bisa dilihat, veno begitu risih dengan kelakuan wanita itu yang berusaha menempel padanya.
“wanita itu kan lovita si selebriti terkenal itu.!! Kenapa dia ganjen banget ke cowok lu..?”
indah bertanya pada dio sambil menunjuk ke arah lovita. Dio yang masih tak menjawab perkataan indah itu,
menggigit bibir bawahnya sambil terlihat kesal. Bisa dilihat, saat ini ia sedang cemburu.
Melihat kelakuan wanita lain yang berusaha menempel pada suaminya, akhirnya dio tidak tahan. Ia pun segera berjalan mendekat ke arah veno.
Dari sudut veno berdiri, veno melihat dio yang tengah berjalan ke arahnya.
Veno terlihat senang melihat dio yang biasanya cuek itu mau menghampirinya sambil tersenyum.
Dio berdiri tepat di depan veno dan wanita itu. “sayang..!!” dio memanggil veno dengan manja.
Veno terkejut mendengar dio memanggilnya “sayang” di depan umum. Jantung veno berdegub tak beraturan.
Dengan sedikit gugup, ia membalas panggilan dio. “iya..sayang..?”. Melihat veno memanggil mesra gadis SMA di depannya itu, lovita kaget dan hampir tak percaya. “siapa adek SMA ini ven.?” Lovita bertanya pada veno.
Dio yang sudah tak tahan itu langsung memperkenalkan diri. “kenalin, aku dio calon istrinya veno.!!”.
__ADS_1
“calon istri..?” lovita mencoba terlihat tenang dan berkata pada dio. “kayaknya kamu masih terlalu kecil deh dek, belum waktunya buat ngomongin nikah.!!”, “kamu juga masih sekolah kan..?”, lovita berkata dengan santai, sembari menahan tawanya dengan tangan. “dia emang calon istriku kok..!!” veno berkata datar pada lovita.
Veno pun menarik tangan dio dan pergi meninggalkan lovita. Jantung dio yang sudah berdegub kencang karena emosi itu, kini berdegub lebih kencang lagi. Bukan karena semakin emosi, namun karena tangannya yang sedang di genggam erat oleh veno.