Pernikahan Siswi SMA Yang Rahasia

Pernikahan Siswi SMA Yang Rahasia
Rekan Kerja Veno


__ADS_3

Mendengar jika istrinya menjawab “smackdown”, veno pun menyahut “kalau mau latihan smackdown, gua bisa ngajarin di rumah!!, pfffttt!!” ucap veno sembari menahan tawa. Seketika pikiran dewasa dio pun bertraveling membayangkan hal – hal dewasa bersama veno, dan dio pun menyaut “hiiii, apa’an sih!!” ucap dio sembari bergidik geli.


“susah banget sih punya istri anak – anak kayak lu di!” ucap veno dengan pasrah. “gua udah dewasa!, bukan anak – anak lagi!!, enak aja kalau ngomong!” dio menyahut dengan ketus. “lu bilang udah dewasa, emang lu udah ngelaku’in hal – hal dewasa?” veno bertanya dengan menantang. Mendengar pertanyaan veno, dio seakan dijebak dengan pertanyaan yang menjurus ke arah hubungan mereka berdua.


“ya, belum sih!!” saut dio dengan suara yang pelan. “hahaha!!” tiba – tiba veno tertawa dengan keras. “gua cuma becanda kok sayang!!, ututu istri gua mah cantik, pinter, gemesin lagi!!” veno mencoba menggoda dio.


merasa dipermainkan, dio pun bercelutuk “emang dasar lu pria tua yang menyebalkan ven!!” ucap dio dengan ketus. “tua?, tua dari mananya sih di?, masih fresh dan strong gini kok dibilang udah tua!” veno seakan tak terima. “Emang lu udah tua kan?, udah tua tapi sikapnya masih kekanak - kanakan!, dasar!!” dio mengomel ketus. “kapan sih gua bertindak kekanank – kanakan?” veno bertanya dengan menantang. “kemarin, lu pura – pura jatuh terus pingsan!, apa orang dewasa ngelaku’in hal koyol kayak gitu?” saut dio dengan ketus. “emang gua kemarin beneran jatuh di!!” veno menyahut. “jatuh apanya?” dio menyaut balik. “jatuh hati sama lu, hahhaha!!” ucap veno sembari tertawa lepas. Merasa terus dipermainkan, dio yang kesal itupun memukul tangan veno dengan cukup keras.


Di rumah kevin.

__ADS_1


“bruumm, brruumm!!” terdengar suara knalpot motor kevin yang kencang memasuki garasi rumahnya. Setelah memarkirkan motornya, kevin berjalan menuju kamarnya. “ceklak!” pintu kamar pun mulai terbuka. Seperti biasa, kevin selalu melemparkan tasnya ke lantai setelah pulang sekolah. Kevin pun berjalan menuju sudut kamarnya, yakni tempat tembok bercoretkan spidol merah. Lagi - lagi kevin kevin meraih spidol merah miliknya, dan menuliskan sebuah nama, dan langsung mencoretnya dengan kasar. Nampaknya kevin telah membalas seseorang yang telah ia incar. Veno pun segera menuju kamar mandi setelah menuliskan nama “FADLI” pada tembok kamarnya itu.


“ddrrttt, drrttt!!” ponsel veno bergetar, nampak panggilan masuk dari riko. Dengan segera, veno mengangkat panggilan masuk dari riko itu, dan menghubungkan panggilan tersebut dengan mobilnya, sehingga dio pun bisa ikut mendengar percakapan mereka. “hallo ko ada apa?” saut veno dengan tegas. “ven, lagi – lagi ada seseorang yang sudah lebih dulu menyerahkan bukti atas kejahatan Om Fadli, beliau sekarang sedang diperiksa di kantor polisi!” riko menjelaskan. “apa?, lagi – lagi ada yang ngumpulin bukti – bukti lagi?” veno terperanjat kaget. Mendengar perkataan riko, dio pun mengingat kembali pada saat tadi siang di kelas, kevin tak henti – hentinya memainkan ponselnya. Dan kejadian ini sama persis dengan kejadian sebelum adanya penangkapan terhadap dina.


“apa jangan – jangan kevin yang berusaha ngumpulin bukti dan saksi buat masukin om fadli ke penjara?” ucap dio dalam batin. “mungkin sebentar lagi polisi akan menghubungi lu dan dio untuk di interogasi deh ven!” saut riko menyelesaikan ucapannya. “ok, kalau gitu!” veno pun mengakhiri panggilan dari riko. Melihat istrinya lagi – lagi melamun, veno yang penasaran akhirnya bertanya “apa kamu tau siapa orang dibalik pengumpulan bukti itu di?” veno bertanya dengan penasaran. “aku belum yakin siapa orang itu ven!” dio menjawab dengan ragu – ragu. “ya udah kamu jangan berfikir berlebihan, yang penting kamu fokus belajar dan jadi istri yang baik buat gua!” saut veno sembari tersenyum.


“emang gua kurang baik?” dio menyahut ketus. “baik lah!, baik banget loohh!!” sahut veno sembari mengangguk penuh keterpaksaan. “kalau mau yang lebih baik, cari aja cewe lain!” ucap dio dengan ketus. mendengar perkataan dio, veno mencengkeram tangan dio dengan cukup keras, hingga dio pun merasa kesakitan. “aduh ven sakit!” dio merintih kesakitan. “jangan sekali – kali berkata seperti itu lagi, atau sampai berfikir buat ninggalin gua!” ucap veno denga tatapan tajam kapada dio. “i,iya!!” dio pun menjawab dengan ekspresi wajah nampak ketakutan. “sejak kapan veno jadi kasar kayak psikopat gini?” dio menggerutu dalam batin.


Belum sempat dio menjawab, veno pun menyaut “siska?!!” ucap veno dengan tiba – tiba. “kenapa kamu datang ke rumahku?” veno berkata dengan nada datar. “dua hari lagi gua harus terbang ke London, takutnya gua gak sempet bahas masalah kerjasama kita, jadi hari ini aku sempetin untuk mampir kesini sebentar untuk membahas masalah kerja sama kita!” ucap siska dengan ramah.

__ADS_1


Dio pun memandang sinis ke arah veno. “lanjutin kalau mau diskusi masalah kerja’an!” ucap dio dengan ketus. Dio pun berjalan menuju kamarnya dan segera berganti pakaian. Setelah berganti pakaian, dio terus mengintip veno dari lantai atas untuk mengawasi suaminya dari lantai dua, dan memastikan bahwa suaminya itu tidak melakukan tindakan yang tak bermoral. Tiba – tiba dio memiliki ide untuk mengganggu suaminya yang sedang bersama wanita seksi itu. “ahaa!!, gua punya ide!, hahaha rasa’in kalian berdua!” ucap dio dengan tertawa penuh kejahatan.


“ting – tong!” terdengar suara bel rumah veno pun berbunyi. Mendengar suara bel rumahnya berbunyi, dio segera berlari menghampiri pintu. Suara langkah kaki dio pun membuat veno dan siska menjadi terganggu. “siapa di?” ucap veno penasaran. “kurir delivery order ven!, gua beli chiken wings!” dio menyahut dengan santai. Setelah mengambil pesanan, dio segera naik ke lantai dua sembari terus membuat suara keras dari langkah kakinya untuk menggannggu veno dan juga siska.


Belum sepuluh menit, bel rumah veno lagi – lagi berbunyi. Dengan sigap, dio pun turun dan menghampiri kurir pembawa minuman pesanannya. “ting, tong, ting, tong!!” sudah hampir tujuh kali dio berlarian menghampiri kurir di depan rumahnya. Hingga siska maupun veno merasa terganggu. Namun veno memilih untuk diam untuk menghindari perselisihan diantara dirinya dan juga dio.


Chiken wings, ayam geprek, sosis bakar, coffe latte, minuman soda, dan masih banyak camilan lainnya telah dio beli. Karena veno maupun siska tak kunjung peka, dan masih terus berduaan membahas pekerjaan, dio yang sedang kekurangan pekerjaan itu pun terus menghamburkan uangnya untuk berbelanja. Tak hanya membeli makanan, dio juga membeli beberapa sepatu dan baju.


Namun lebih ekstreme lagi, hingga dio pun memesan sebuah motor jenis vespa matic secara online, dan dikirimkan langsung pada malam itu juga. Meskipun sejatinya veno maupun siska merasa terganggu, namun mereka berdua harus tetap tenang dan menyelesaikan pekerjaan mereka secara profesional. Disepanjang pembahasan pekerjaan mereka berdua, sering kali siska berperilaku centil dan mencoba menggoda veno. “stop, stop turunkan di situ saja!” terdengar teriakan dio di luar rumah yang mengagetkan veno maupun siska.

__ADS_1


Seketika veno dan siska pun keluar karena penasaran dengan apa yang sedang di lakukan oleh dio di luar rumah. Nampak dio tengah memberi arahan pada karyawan dealer yang sedang menurunkan sebuah motor jenis vespa matic berwarna maroon di halaman rumahnya. Tak biasa melihat dio yang selalu hemat tiba – tiba mau berbelanja dengan sedikit boros, veno pun mencoba menerka – nerka alasan dibalik belanjaan dio yang membeludak itu.


“kamu beli motor di?, emang bisa naikin?” saut veno penasaran. “bisa lah, besok gua bonceng keliling perumahan!” dio menyahut cuek. “oh, ini adek kamu ya ven?” siska bertanya dengan tiba – tiba karena masih penasaran. “bukan!, dia calon istri gua sis!” saut veno dengan datar, sembari merangkulkan tangannya pada pundak dio “calon istri?” siska terperanjat kaget dengan ekspresi yang nampak syok.


__ADS_2