
Rasa gugup yang sedang kevin rasakan membuat kevin tak menyadari jika tujuan dio mendekatkan wajahnya yakni untuk mengoleskan kuas liptint pada bibir bawah miliknya. “udah!!” ucap dio sembari melepaskan cengkraman tangannya pada jaket kevin. “pfftttt!!, hahaha” diopun tak kuasa menahan tawanya melihat bibir bawah kevin yang berwarna merah akibat perbuatan jahilnya. Sadar ada yang tak beres dengan dirinya, kevinpun segera menatap kaca. “di, kok diwarnai sih?” saut kevin dengan suara pelan. “bukan diwarnai vin, tapi dipercantik!” saut dio tanpa rasa bersalah.
Mendengar suara tawa dari dio yang cukup keras, membuat indah yang penasaran itu memutuskan untuk menghampiri dio dan juga kevin. Melihat bibir bawah kevin yang merah merona, indahpun tertawa terbahak – bahak hingga membuat pengunjung lainnya menatap dengan spontan ke arah kevin dan ikut tertawa. “vin, lu mau aja sih dikerjai dio!, hahaha!” ucap indah sembari terus tertawa terbahak – bahak. Melihat dio yang nampak tertawa bahagia, kevin merasa lega dan tak mempermasalahkan keusilan yang dio lakukan terhadapnya. Bagi kevin, bisa membuat dio tertawa bahagia saat berada di sampingnya sudah lebih dari cukup.
Selesai membayar seluruh belanjaan, mereka bertiga berjalan menuju tempat parkir secara beriringan. Nampak Pak Anton dan sopir indah tengah berbicang santai di samping mobil. Melihat bibir bawah kevin yang merah, Pak Anton dan sopir indahpun menatap keheranan sembari tersenyum. “lho vin, lu kesini tadi naik apa?” saut dio sembari membuka pintu mobilnya. “gua bawa motor di, ada di parkiran bawah!” saut kevin dengan tersenyum manis. “oh, ya udah kalau gitu gua duluan ya!, indah gua duluan ya!” ucap dio sembari melambaikan tangannya pada kevin dan juga indah.
Mobil dio melaju meningalkan mall dan melewati jalan raya yang cukup ramai. Setelah melewati jalanan yang cukup padat, mobil dio masuk ke dalam area perumahan elite timpat tinggalnya bersama veno. Cukup jauh dari mobil dio, nampak kevin mengendarai motor sportnya yang sedari tadi mengikuti mobil dio dari belakang. Tak tenang bagi kevin jika dirinya tak memastikan sendiri dan melihat langsung mobil yang dio tumpangi itu pulang dengan keadaan selamat. Setelah mobil dio masuk halaman rumah, kevin segera putar balik dan meninggalkan rumah dio dengan perasaan yang tenang. Seperti itulah kevin setiap harinya. Mungkin orang lain menganggap kevin seperti seseorang yang kurang kerjaan. Namun bagi kevin meskipun harus bolak – balik 100 kalipun akan ia lakukan jika itu menyangkut keselamatan dio.
__ADS_1
Dengan wajah memelas dio memandang ke arah ponselnya berharap ada kabar dari suaminya. Namun lagi – lagi tak ada satupun pesan masuk atau telefon dari veno. Bahkan pesan dio tadi pagipun belum terbaca oleh suaminya. Dio berjalan masuk ke dalam rumahnya dengan lemas dan langkah yang terseret seret. Jam dinding menunjukkan pukul setengah tujuh malam, dan semua lampu dalam rumah diopun telah menyala. “ceklek!” dio membuka pintu kamar dan berjalan menuju kamar mandi.
Selesai mandi dan ganti baju, dio menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur dengan cukup keras. “huuhh, kenapa veno ngilang sih!, apa jangan – jangan ada sesuatu yang terjadi dengan veno!, apa jangan – jangan veno punya wanita lain disana?” dio terus menerka – nerka kiranya alasan apa yang membuat suaminya tiba – tiba menghilang dan tak bisa dihubungi.
Jam menunjukkan pukul 23.00 WIB. Selesai membaca buku – buku bertemakan ekonomi bisnis, dio bersiap untuk pergi tidur mengingat besok pagi ia harus pergi ke sekolah. Dio berusaha memejamkan kedua matanya, namun sampai beberapa lama ia tak kunjung tertidur. Dio memiringkan badannya dan belum menyerah untuk terus mencoba tidur. Sampai bergonta – ganti posisi tidur berulang kali, dio tak kunjung tertidur. Bukan semakin mengantuk, namun dio merasa matanya malah terasa lebih terang. Seperti melawan hukum alam, dio berusaha memejamkan matanya yang terasa ingin terbelalak itu.
“huuhh, kenapa gua gak bisa tidur? Apa gara – gara veno yang tiba – tiba ngilang?” dio menggerutu dalam batin. Jam menunjukkan pukul 23.50 WIB dan tepat sepuluh menit lagi jam menunjukkan pukul pukul 12 malam. Tiba – tiba lampu kamar dio mati. “aaaa!!” dio berteriak kaget. “kenapa harus mati lampu di jam segini sih!, gak biasanya disini mati lampu!!” dio bergumam sembari menyalakan lampu senter pada ponselnya. Dio meraih lilin aroma terapi yang terletak di atas meja rias dan segera menyalakannya untuk menambah penerangan. Selesai menyalakan lilin aroma terapi, dio kembali berbaring dan berharap bisa segera tidur.
__ADS_1
Dio melongo kaget memandang pria itu adalah suaminya yang membawa sebuah kue tart dan sebuah buket besar yang bunganya terbuat dari lembaran uang. “selamat ulang, selamat ulang tahun kami ucapkan!” veno berusaha menyanyi meskipun dengan nada yang amburadul dan lirik yang kurang tepat. “venooooo !!” dio berteriak dengan heboh lalu melompat dari tempat tidurnya dan memeluk tubuh veno dengan erat. “ceritanya lu seharian ngilang tuh mau bikin gua galau??” ucap dio dengan ketus sembari terus memeluk tubuh veno. “hehehe, iya maaf! Gua cuma berusaha bikin surprise buat kamu sayang!” ucap veno dengan lemah lembut.
“nih tiup lilinya! jangan lupa berdoa dulu ya sayang!” ucap veno sembari mengulurkan kue tart yang ia bawa ke arah dio. “sayang ini buat kamu!” ucap veno menyerahkan sebuah buket berukuran besar yang tiap bunganya terbuat dari lembaran uang bermata Dollar AS dan uang seratus ribuan, dan jika ditotal jumlahnya mencapai ratusan juta. Dio memandang ke arah buket pemberian veno dengan tatapan yang biasa saja. “kok cuma uang?” saut dio. “lho, kamu gak mau uang ya sayang?” veno menimpali. “kalau cuma uang mah blackcard kamu udah cukup ven!” saut dio dengan nada kecewa. “ya udah kamu bisa pilih usahaku yang mana aja, aku akan ngasih sebagian saham aku buat kamu sebagai hadiah!” ucap veno sembari memeluk dio dengan hangat. “huuufftt!!” dio tak menjawab dan hanya menghembuskan nafas panjang.
Veno mengelus rambut dio sembari memandang takjub terhadap istrinya. Entah apa karena usia istrinya yang masih muda, sehingga dalam fikiran dio masih belum tertarik dengan harta maupun saham perusahaan sekalipun. “sini duduk dulu!” ucap veno mengarahkan. Diopun menurut dan segera duduk di atas tempat tidur sembari memandang penasaran ke arah suaminya.
Veno merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna hitam dan membukanya di hadapan dio. Alangkah terkejutnya dio memandang sebuah kalung dengan sebuah berlian berukuran cukup besar yang sesuai dengan seleranya. “waaahhh, cantik banget!!” dio bersorak kegirangan. “makasih ya sayang!” ucap dio sembari mengecup pipi veno. Venopun segera memasangkan kalung cantik dan simpel sesuai dengan selera dio itu pada leher dio.
__ADS_1
Dio terus tersenyum memandang cermin. “udah dong sayang ngacanya!, nanti kacanya bisa pecah!” saut veno mencoba menggoda dio. “kalau pecah buket uang dari kamu itu yang bakal aku pakai buat beli kaca yang baru!” saut dio dengan ketus sambil menunjuk ke arah buket uang. “hehe, ketus banget sih anak kecil ini!” ucap kevin sembari melingkarkan tangannya pada perut dio, dan memeluk tubuh dio dari belakang.
“anak kecil ini kenapa jadi cerewet gini ya?” veno menulangi perkataannya dan mencium rambut dio dengan mesra dari belakang. “kenapa bapak tua ini jadi genit gini ya?” dio menyauti pertanyaan veno. “bapak tua?, dimatamu apa aku keliatan seperti bapak tua sayang?” veno merespon ucapan dio dengan ketus. Merasa tak terima dikata’i bapak tua, veno menguncir bibirnya dan memandangi wajahnya pada cermin di depannya. Melihat respon berlebihan dari suaminya, diopun ternyum puas. “apa jangan – jangan istri gua yang cantik ini pengen suaminya jadi seorang bapak ya?” saut veno sambil memandang dio dengan tatapan nakal.