
Kevin adalah seorang murid yang sangat cuek di sekolah. Tak mau banyak bicara kepada siapa’pun,
termasuk teman se bangkunya. Namun anehnya, ketika di depan dio ia terlihat begitu ramah dan murah senyum. Kevin terkenal arogan dan tak dapat mengontrol emosinya. Seperti bom yang meledak, tak ada seorang pun yang mampu menahannya. Hingga banyak orang menjulukinya “monster” karena ke agresifan dan sikapnya yang membabi buta tanpa ampun, kepada siapa’pun yang mencari masalah dengannya.
Sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar, ia pernah mematahkan salah satu tangan milik temannya.
Ketika ia duduk di bangku SMP, ia sering ikut tawuran bahkan sudah tak kaget, jika sering kali orang tua kevin di panggil ke sekolah karena kevin telah membuat keributan, maupun telah menghajar murid di sekolahnya.
Karena keluarga kevin adalah keluarga konglomerat yang memiliki kekuasaan, sebesar apapun masalah yang telah dibuat oleh kevin, pasti dengan mudah diselesaikan oleh orang tuanya dengan menggunakan uang.
Sudah banyak perkelahian yang telah kevin lakukan, hingga tak ada satu murid pun yang berani mencari gara – gara dengan kevin. Bahkan ia adalah seorang yang begitu disegani di sekolah. Bukan tanpa sebab, karena kevin merupakan anak dari Direktur pemimpin yayasan, yang menaungi sekolah bertaraf Internasional.
Salah satunya yakni sekolah tempat mereka belajar saat ini.
Mendengar dina berkata ketus kepada dio, telinga kevin terasa panas.
“duuhhh.!!, kalian apa’an sih.!!, berisik banget.! Kalau mau....!” belum selesai dina berkata ketus pada dio, “BRUAAKK..!!!” dengan salah satu kakinya, kevin menendang kursi kosong yang ada di sampingnya itu hingga terpental cukup jauh dari bangku kevin berada. Kevin memandang ke arah dina dengan tatapan tajam dan penuh amarah. Ia pun berkata pada dina “lu berisik banget..!!” melihat kevin yang memberikan ekspresi marah terhadap
dirinya, dina terdiam seketika.
Kevin berdiri dan berjalan menghampiri dio. “hai di..!!, akhirnya kamu bisa masuk sekolah lagi.!”.
Dengan senyum yang begitu sumringah, kevin menyapa dio. Melihat ekspresi kevin yang tengah marah bisa
berubah menjadi lemah lembut di depan dio dalam hitungan detik, teman satu kelas mereka hanya saling beradu pandang tanpa berani berkomentar. “haii vin..!!” dio membalas sapa’an kevin.
Memasuki jam makan siang, dio dan indah berjalan menuju kantin. Setelah mereka mengambil makanan dan juga minuman, mereka berjalan menuju tempat duduk favorit mereka, yakni kursi di sebelah pojok. Alangkah kagetnya, melihat segerombolan siswa laki – laki yang sengaja mengambil alih tempat mereka biasa duduk itu.
“hei kalian, ini kan tempat duduk kita.!!” indah berkata ketus pada segerombolan laki – laki itu.
__ADS_1
Salah satu laki – laki itu pun menjawab, “tempat kalian.??”, “emang nih kursi lu yang beli.??, dio sekarang udah bukan orang kaya kan.!, upsss,, masih mau beli nih kursi.??!” Dengan nada mengejek, laki – laki itu berkata kurang sopan pada dio “eh, tapi bayar sekolah ini kan mahal, lu masih ada uang buat bayar gak.?, apa mau gua pinjemin.?”, “ha..ha..ha..!!”. Segerombolan laki – laki itu sengaja mengejek dio di depan umum.
Beberapa anak lain ikut tertawa, dan ada juga yang iku kesal melihat segerombolan pecundang yang memancing amarah dio itu.
Dio tak menjawab perkataan menyebalkan laki – laki itu. Dio yang merasa sebal, kemudian mengayukan tangan kanannya yang sedang memegang gelas berisi es teh, ke arah muka laki – laki itu.
“byuurr.!!” Es teh dalam gelas dio membasahi wajah sekaligus seragam anak laki – laki itu. Semua siswa yang melihat kejadian itu langsung tercengang. Pasalnya, dio adalah seorang yang selalu sopan ke setiap orang, namun saat ini ia berani membalas seseorang di depan umum seperti saat ini. “waahh, rasa’in tuh.!!”, “wah., dio keren.!”, “eh, udah jadi miskin masih sombong.!!” Beberapa siswa terdengar berkomentar atas apa yang dilakukan dio kepada salah satu laki – laki itu.
Tak terima dengan perbuatan dio kepadanya di depan umum, laki – laki itu beranjak dari tempat duduknya dan mencoba mengayunkan tangan kanannya hendak memukul dio. Namun laki – laki itu mengurungkan niatnya, dan segera menyembunyikan tangannya itu di balik badan. Ia terlihat tegang dan tak bersuara. Ternyata laki – laki itu kaget dan ketakutan melihat kevin yang tengah berjalan mendekat ke arahnya sambil melotot.
Saat ini kevin berdiri tepat di depan laki – laki itu. tanpa basa – basi, Kevin mencengkeram leher laki – laki yang bernama ronal itu menggunakan tangan kirinya, hingga ia nampak kesulitan untuk bernafas.
Tangan kanan kevin yang kosong itu meraih gelas yang ada di tangan dio. Ia mengangkat tangannya tinggi – tinggi, untuk membanting gelas yang di pegangnya itu ke arah kepala ronal. Semua siswa yang menyaksikan kejadian mencekam itu berteriak histeris. “viinn..!!!!, pliss hentikan..!!” dio memegang tangan kevin dengan erat dan
mencoba menghentikan kevin. Nampak dari ekspresi dio saat ini, ia sedang merasa takut.
Kevin merasakan tangan dio yang sedang gemetar itu meraih dan menggenggam erat tangannya.
telah membuat dio ketakutan itu segera melepas cengkeraman’nya, dan meletakkan galas yang ia pegang itu di atas meja. Dengan masih gemetaran, dio menggandeng kevin pergi meninggalkan kantin.
Mereka berdua akhirnya menghenhentikan langkahnya di samping lapangan bola basket.
Kevin tertunduk lesu, menyadari tindakannya yang arogan itu bisa membuat dio menjadi membencinya.
Melihan kevin yang hanya tertunduk lemas, dengan kedua mata yang terlihat sedikit berkaca – kaca, dio
pun berkata “lu tadi sok jagoan, sekarang kenapa jadi cengeng gini.?” Ucap dio.
Mendengar perkataan dio yang tak membencinya itu, kevin mengangkat pandangannya ke arah dio.
__ADS_1
“kamu gak marah..??” kevin bertanya pelan. “tindakan lu barusan emang salah.!!, tapi gua tau lu cuma niat nolongin gua kan..??” dio bertanya balik pada kevin. Kevin mengganggukkan kepalanya untuk meng iyakan.
Sambil menjewer telinga kevin, dio berkata “beraninya lu ya.!! udah bikin gua hampir mati karena takut..!!”,
“lain kali kalau bikin jantung gua mau copot kayak tadi, gua bakal bikin perhitungan sama lu..!!”, ucap dio sembari memicingkan kedua matanya, dan memanyunkan bibirnya.
merasakan telinganya yang tertarik itu, kevin merengek meminta ampun pada dio.
“iya di..!! ampun.!!, gua khilaf..!!”, aduh di sakit..!!” melihat kevin yang kesakitan itu, dio pun melepaskan tangannya dari telinga kevin.
Di dalam kelas.
“anak – anak, ujian akhir akan di laksanakan tepat satu bulan ke depan.!”.
“jaga kesehatan, dan belajar dengan giat, agar nilai yang kalian dapat bisa maksimal.!!”. “hari ini ibu akan bagikan kertas minat ini untuk kalian, dan di isi di rumah.!!”. “pastikan kalian berdiskusi dengan orang tua kalian dulu, sebelum kalian mengisi kertas ini.!!” kertas pun akhirnya dibagi satu – persatu pada semua murid.
“kkrrriiinnggg..!!” bel pulang sekolah akhirnya berbunyi. Dan kelas pun akhirnya bubar.
Dio dan indah berjalan berdua menuju gerbang untuk pulang. Dalam perjalanan itu,
mereka saling penasaran dengan minat apa yang nanti akan mereka tulisakan di kertas minat itu.
Kevin yang berjalan tepat di belakang dio dan indah itu tanpa sengaja ikut mendengar pembicaraan mereka
berdua. “setelah lulus sekolah, lu mau kuliah jurusan ilmu matematika kan.??”
Indah bertanya pada dio dengan yakin. dio pun memandang ke arah indah sembari menjawab,
“enggak..!!” dio menjawab singkat. Indah dan kevin yang sama – sama mendengar jawaban dari dio terbelalak kaget. Kevin memandangi dio dari belakang. “apaa..????” indah berteriak seakan tak percaya.
__ADS_1
“jangan becanda deh di..!!”, “lu kan udah banyak menjuarai banyakmkompetisi dan olimpiade matematika.!!, katanya lu mau nerusin keinginan almarhumah mama lu jadi dosen ilmu matematika.??” indah masih tak percaya. Dio tertunduk sambil menjawab dengan tegas, “gua punya tujuan baru yang sekarang lebih penting dari itu.!!” langkah kevin terhenti seketika mendengar jawaban tegas yang keluar dari bibir dio itu.