
Dio menundukkan pandangannya sembari berkata “bagi gua, kejadian saat gua masih kecil itu adalah kejadian paling na’as dari semua kajadian yang pernah gua alami!. Bagi gua, kejadian itu nyakitin tubuh serta mental gua hingga sekarang!” ucap dio dengan ekspresi sedih yang terpancar dari wajahnya. Mendengar perkataan dio, kevin dan riko pun terdiam seakan ikut merasakan kesedihan atas perkataan dio mengenai traumanya itu. Riko memandang sedih ke arah dio. Ia tak menyangka jika dio yang memilik wajah cerah dan hampir tersenyum sepanjang hari, ternyata memiliki masa lalu yang kelam dan memberikan sebuah bekas luka dengan berselimut trauma dalam kehidupannya.
Melihat ekspresi sedih dari ketiga pria dalam mobil yang dio tumpangi, dio pun berkata “lha, kenapa jadi sedih gini sih suasananya?, udah dong jangan sedih!, gak seru tau!!” saut dio mencoba merubah suasana. Mobil pun masuk ke dalam halaman rumah veno, dan berhenti di depan pintu masuk. Dengan segera, kevin dan riko berebut untuk memapah dio masuk ke dalam rumah. Tak mau kalah satu sama lain, kedua pria muda itu saling dorong guna mencoba menjauhkan lawan yang menempel pada dio. Merasa risih dengan kedua pria yang tarik menarik tak mau mengalah, dio yang kesal itu pun berkata “gua mau jalan sendiri!!, kalian berdua mending bantu gua bawa’in barang – barang yang ada di bagasi deh!!” saut dio dengan ketus.
Dengan sedikit tertatih, dio berjalan di depan riko maupun kevin yang nampak kawatir. “nyonya dio!!” ucap Bu Ani dengan suara yang cukup keras dengan tiba – tiba. Dengan segera Bu Ani memapah dio berjalan masuk, dan duduk di kursi ruang tamu. “nyonya dio, gimana keadaan nyonya?, saya sampai syok dengar berita kalau nyonya kecelakaan!!” ucap Bu Ani dengan kawatir. “hehe, aku baik – baik aja kok Bu Ani!!, tenang aja!” saut dio sembari tersenym. “oiya, kalian mau minum apa?” ucap dio pada riko dan kevin dengan penasaran. “terserah kamu aja di!!” saut riko. “iya terserah di, apapun itu gua mau!!” saut kevin menimpali. “emm, sore – sore gini enaknya minum jahe anget nih!, buatin jahe anget 3 ya Bu Ani!!” ucap dio sembari menatap Bu Ani. Tanpa arahan, kedua pria di depannya itu saling berpandangan satu sama lain sembari mengerutkan kening secara bersamaan.
__ADS_1
Menunggu cukup lama, minuman jahe anget pun disajikan oleh Bu Ani di atas meja ruang tamu. “kalian coba deh, jahe anget bikinan Bu Ani tuh enak dan ngangetin tubuh!” saut dio dan mengambil salah satu gelas dan meneguknya perlahan. Riko dan kevin saling berpandangan seakan tak yakin jika minuman di depannya itu cocok dengan selera mereka. Membulatkan tekat, kevin meraih gelas berisi jahe anget itu, dan segera menyeruputnya. Mata kevin pun terbelalak kaget, dan memaksa minuman yang asing dalam mulutnya itu untuk masuk melewati tenggorokannya. Dengan ekspresi wajah yang kurang meyakinkan kevin pun bereaksi “wah enak!!, gua rasa riko harus coba juga deh!!” saut kevin sembari tersenyum.
Dengan ragu – ragu, riko pun meraih gelas di depannya. Mendengar pernyata’an enak dari kevin, riko semakin curiga dengan minuman yang sama sekali belum pernah ia cicipi itu. bermodal tekad dan semangat yang kuat, riko mengarahkan gelas berisi jahe anget tersebut ke sela – sela bibirnya dan menyeruputnya pelan. “sluurrp!!, uhuk – uhuk!!” seketika riko pun tersedak. Bagaikan bara api yang masuk sekaligus membilas seisi mulut beserta tenggorokan riko. Terasa begitu panas dan pedas, hingga lidahnya bagai tersengat mendadak. Inggin rasanya ia memuntahkan minuman aneh dalam mulutnya itu. Namun melihat ketulusan dio menyuguhkan minuman kepadanya, dengan berat hati riko akhirnya terpaksa menelannya. Rasanya seperti hembusan angin keluar dari kedua telinganya.
“gila, ini mah bukan minuman anget lagi!” ucap riko menggerutu dalam batin. melihat reaksi aneh dari riko, kevin pun menahan tawanya “pfftt!!”. “lu gak papa ko??” saut dio penasaran. “ehm, enggak papa kok di, saking semangatnya gua nyeruput, jadi keselek deh!!” ucap riko sembari tersenyum. “waah, jadi kalian suka ya?, gua bilangin Bu Ani kalau gitu, gua suruh bikinin lagi buat kalian!” ucap dio bersemangat. “enggak usah di!!” saut kevin dan riko bersamaan. Mereka berdua saling bertukar pandang seakan mencoba berkomunikasi dari jarak jauh.
__ADS_1
Di suatu tempat.
“apa memang tidak ada kontak keluarganya yang bisa dihubungi lagi?” ucap veno dengan serius kepada seorang pria tua yang terduduk di kursi kayu. “Setelah keluarganya bangkrut, saya dengar istri pengusaha itu meninggal. Dan pengusaha itu juga sakit!, mulai deti itulah semua orang berbondong – bondong menghapus kontak pengusaha itu, dan seketika melupakan pertemanan yang telah terjalin!!” saut pria tua itu dengan ekspresi sedih. “kalau nama anak perempuannya, apa bapak masih ingat?” saut veno dengan penasaran. “saya sudah lupa!, tapi kalau tidak salah, saya ada satu foto saat dia masih kecil!, coba saya cari dulu!” saut pria tua itu.
Menunggu pria tua itu mengambil potret perempuan yang sedang ia cari, veno nampak gelisah. Ia memikirkan nasib buruk yang manimpa perempuan kecil yang dulu berusaha menyelamatkannya itu. “nak veno, ini ada satu foto bersama gadis kecil yang dulu nyelamatin kamu!” saut pria tua itu mengangetkan lamunan veno. Dengan bergegas, veno meraih selembar foto usang yang masih jelas itu dengan tangan kanannya. Sebuah potret gadis kecil yang cantik dan manis bersama seorang anak laki – laki yang sudah beranjak SMA. Dan anak laki – laki dalam foto tersebut adalah anak dari pria tua yang duduk di depan veno saat ini. Veno memandangi wajah perempuan kecil itu dengan seksama.
__ADS_1
Telah lama mereka tak saling bertemu, hingga veno pun sedikit melupakan wajah kecil dan mungil itu. Hingga adanya selembar potret gadis kecil itu di tangannya, kevin bisa mengingat kembali wajah polos yang menghampirinya dengan berani saat disekap di rumah kosong 8 tahun yang lalu. Wajah veno memandang sedih terhadap potret perempuan itu. Melihat senyum manis terukir di bibirnya, dan mengingatkan kembali kejadian pada saat perempuaun kecil itu menangis ketakutan dengan pecahan kaca yang tertancap pada kaki dan juga tubuh mungil itu, veno pun menunduk sedih. “apa gua salah, jika merindukan perempuan lain, disaat gua udah memiliki istri?” ucap veno dalam batin.