Promise

Promise
Promise Eps 10


__ADS_3

pagi harinya, pukul 08.00 WKS


Hyerin telah bersiap untuk pergi ke minimarket untuk membeli bahan-bahan masakan. saat ia keluar kamar ia melihat Jimin yang telah tapi dengan stelan jasnya. ia berdiri di cermin besar diruang tamu sambil memasang jam mahal ditangannya.


pria ini melihat Hyerin dari pantulan cermin dihadapannya. tatapannya tajam, matanya teduh dan mencekam.


ia berbalik melihat Hyerin yang berdiri tak jauh darinya.


"aku ada rapat sampai sore nanti, keluarga Anna akan datang sekitar pukul 7 malam" ucap Jimin.


"iyaa, aku tau. ibu Anna sudah menelfonku malam tadi dan akan ada seseorang yang akan datang juga bersama mereka"


"baguslah jika kau sudah tau, jadi aku tak perlu memberitahumu lagi"


"oh iya Jimin, aku ijin untuk pergi ke minimarket. aku akan membeli bahan makanan" ucap Hyerin.


"pergilah"


"terimakasih"


Jimin tak menawari tumpangan pada istri kecilnya itu. Hyerin bergegas keluar rumah setelah mendapatkan ijin dari Jimin. jarak dari apartemen menuju minimarket sangat jauh. Hyerin terpaksa menggunakan bus untuk sampai disana. karena jaraknya lumayan jauh, Hyerin terpaksa berhenti di mall kota yang besar untuk berbelanja disana agar menghemat waktu dan juga biaya transportasi.


sepanjang jalan, Hyerin hanya terdiam. memikirkan nasibnya yang tiba-tiba berubah dalam satu detik. hatinya ingin menangis dan menjerit sangat kuat tapi ia tak bisa melakukannya. selain Anna ia tidak bisa mengeluh pada siapapun lagi. harapan dan impian ya untuk menikah dengan pria yang dia cintai sudah benar-benar terkabul, hanya saja si pria tidak mencintainya dan justru membencinya.


setelah sampai didepan mataku Hyerin langsung buru-buru masuk membeli banyak bahan makanan untuk stok dirumah.


"labu, sawi putih, wortel, kentang, cabai, ahh iya daging dan ini dia.. yoghurt" satu persatu Hyerin mengambilnya dengan teliti dan tak lupa mengecek masa expired nya.


saatnya menuju kasir untuk membayar semua belanjaannya. tapi saat tengah mengantri, ia bertemu dengan Miranda. wanita ini bersama seseorang disampingnya.


"ohoo.. lihatlah siapa dia.." ucap Miranda membuat semua orang menoleh karena suaranya.


wanita yang bersama Miranda menatap Hyerin pekat.


"hallo Nyonya Park, sedang apa kau di mall sebesar ini heum?"


"oh, nona Miranda. kau ada disini" sapa Hyerin ramah.


"kenapa bisa wanita miskin sepertimu ada disini? dan apa itu? belanjaanmu sangat banyak, wah wahh sepertinya sudah berhasil memeras uang Jimin ya??" ucap Miranda keras.


seluruh pengunjung bertatap mata dengan Hyerin dan berbisik-bisik. apalagi ia sedang mengantri untuk membayar belanjaan.

__ADS_1


"ini.. Jimin yang memberikan kartunya padaku. untuk membeli kebutuhan rumah, kebetulan akan ada tamu yang datang jadi aku belajar bahan makanan untuk memasak hidangan dan stok dirumah" ucap Hyerin tenang.


"itu hanya alasanmu saja agar Jimin memberikan black card itu padamu. aku yakin sekali wanita miskin sepertimu pasti mencari kesempatan untuk menguras harta Jimin" ucap Miranda semakin merendahkan.


"Jimin itu, dia adalah suamiku. tidak ada kata menguras harta karena miliknya juga milikku. dia yang memberikan segalanya padaku" bantah Hyerin.


"tunggu dulu, sebenarnya dia ini siapa Miranda? Jimin? Jimin siapa?" wanita disamping Miranda mulai membuka suara. Hyerin menatapnya seketika dan mengetahui bahwa dia adalah Astrid.


*wanita ini.. apakah dia Astrid? sangat mirip dengan di fotonya* batin Hyerin.


"Astrid, dia adalah kang Hyerin, istri dari Park Jimin. mantan pacar dari adikmu yang telah meninggal itu" ucap Miranda.


Astrid menatap Hyerin dan begitupun sebaliknya.


**ternyata dia Astrid batin Hyerin.


*ternyata dia Hyerin, istri Jimin* batin Astrid**.


"jadi kau adalah Hyerin? istri Jimin?" tanya Astrid menatap Hyerin dari atas sampai bawah.


"iya benar, jadi kau adalah Astrid? kau sangat cantik. akhirnya bisa bertemu denganmu. salam kenal yaa.." ucap Hyerin mengulurkan tangannya pada Astrid untuk bersalaman.


"harusnya kau sadar diri, bahwa kau tidak pantas berada disamping Jimin apalagi menjadi istrinya. wanita murahan sepertimu pasti menggunakan cara kotor untuk membuatnya menikahi mu. dan karena jal*ng sepertimu adikku menderita selama beberapa tahun belakangan ini dan meninggal karenamu!"


"sebaiknya persiapkan dirimu karena sebentar lagi Jimin akan menendangmu keluar dari rumah mewah itu dan mengambil kembali mata Anna!!"


damn!! Hyerin tercekat, lehernya seperti dicekik erat oleh Astrid. ia menatap Hyerin penuh benci yang mendalam. semua yang dikatakan Astrid terngiang langsung dipikirannya.


"sebaiknya kau sadar diri bahwa kau tidak pantas bersama Jimin! sebelum Jimin menendangmu kau harus sadar lebih awal! karena sebentar lagi, dia akan menceraikan mu!" tambahnya.


"selain Anna, yang pantas bersamanya hanya aku! bukan kau!"


"dasar perebut!!"


Astrid menendang belanjaan Hyerin hingga beberapa belanjaannya berhamburan.


"ayo Mir, kita tidak seharusnya bersama wanita murahan sepertinya" ucap Astrid berjalan mendahului Miranda.


"aku tak tau kalau kau pernah menyinggung Astrid, ternyata dia membencimu juga yaa.. pfftt.. kasihan sekali" ucap Miranda menyenggol bahu Hyerin keras dan menyusul Astrid.


Hyerin terdiam menatap Astrid dan Miranda yang menjauh. ia beralih menatap belanjaannya yang berhamburan. ia bisa mendengar beberapa pengunjung yang ikut mengolok-olok dan membicarakannya. ia sangat malu, setelah membayar semua belanjaannya ia langsung pergi dari sana dengan buru-buru.

__ADS_1


ia sampai di halte bus dan duduk menunggu disana. air matanya tiba-tiba saja mengalir dipipi putihnya. hatinya sangat sesak dan benar-benar terluka.


ternyata banyak orang yang membencinya karena menganggap dialah pemicu meninggalnya Anna.


"bukan hanya suamiku, ternyata banyak orang lain yang membenciku. apa salahku pada mereka, aku juga tidak ingin mengalami hal seperti ini" gumamnya menangis dan menghapus air matanya kasar.


"hiks.. sakit sekali dihina dihadapan banyak orang"


"air mata ini kenapa tidak mau berhenti hiks!" kesalnya dan menghapus air matanya berkali-kali dengan kasar.


"sebenarnya apakah hidupku ini salah?!"


"hidupmu tidak salah, kau hanya terlahir dilingkungan yang selalu menghakimi"


ucapan seseorang membuat Hyerin menoleh kearah samping. ia melihat pria berkulit putih pucat yang ntah sejak kapan ia duduk disana.


"M-min Yoongi"


mereka saling bertatapan lama kemudian Hyerin beralih pandangan untuk memecahkan tatapan mereka.


"sudah lama tak melihatmu, ini kedua kalinya aku melihatmu setelah beberapa tahun terakhir" ucap Yoon-gi.


Hyerin hanya tertunduk dan memegang erat tas belanjanya.


"Yoon-gi maafkan aku, aku tidak bermaksud meninggalkanmu dulu"


"tak apa Hyerin, aku mengerti hidupmu pasti sangat berat. jika saja dulu kita langsung menikah, semua ini tak akan pernah menghampiri kehidupanmu" ucap Yoongi.


"tuhan memintaku menikah dengan Jimin, bukan denganmu" ucap Hyerin mengangkat kepala dan menatap Yoon-gi sendu.


"kedepannya semoga selalu bahagia, jangan sampai terluka atau aku akan membunuh suamimu" ucap Yoongi menatap Hyerin dengan wajah datar.


"busmu sudah datang, sampai ketemu lain hari Hyerin.." ucap Yoongi berdiri dan menjauh kemudian masuk kedalam mobil yang akan membawanya menuju rumah.


Hyerin masih terdiam memandangi mobil yoongi yang semakin menjauh.


"heii nyonyaaa apa kau mau menunggu bus berikutnya??" seseorang meneriaki Hyerin membuat lamunannya pecah dan langsung masuk kedalam bus.


"membuat lama saja, kenapa tidak ikut dengan suamimu tadi" seseorang berbicara ketus pada Hyerin.


"dia hanya temanku, bukan suamiku" ucap Hyerin sambil menatap keluar jendela.

__ADS_1


__ADS_2