Promise

Promise
58


__ADS_3

Di penghujung bulan ini hujan masih terus turun dilangit yang sama, malam mulai merambat tapi hujan kian deras seakan tak ada capeknya terus berlomba membasahi pijak bumi.


Devan baru saja keluar dari apartemennya membawa sebuah tas hitam, langkahnya kian dia percepat untuk menghindari percikan hujan. Tepat sebelum Devan membuka pintu pintu mobilnya sebuah tangan kecil begiti dingin menahannya.


"Lunar? Apa yang kau lakukan disini?" Devan, begitu terkjut kala melohat gadis itu sudah basaj kuyup. Bibirnya mulai memucat dan bergetar. "Ayo ikut aku!" Devan menarik tangan Lunar kembali ke apartemennya.


"Semua masih sama seperti dulu Vano, apartemen ini. Kau tidak mengubahnya sedikitpun" Tutur Lunar, suaranya mulai bergetar karena kedinginan.


"Keringkan bajumu!! Aku sudah memesankan mu taksi." Suara Devan begitu dingin.


Lagi, sakit dihati Lunar kian mengoyak merasuk sukmanya. Inikah pria yang dulunya begitu hangat padanya sekarang sangat dingin, diakah pria yang begitu mudah di genggam kini terasa sangat jauh bahkan aromnya kini tak mampu kucium.


"Vano, kumohon maafkan aku ! Maafkan semua kesalahanku Vano. Dulu aku salah meninggalkan mu tapi, kini aku kembali dan kita bisa bersama kembali"


"Lunar" Bentak Devan, mata pria itu kian berkabut akan emosi. "Hentikan omong kosongmu! Perihal memafkan mu aku sudah memaafkan mu, membencimu tidak ada gunanya. Kau yang tidak menginginkanku, tapi jangan pernah berfikir kita akan bersama lagi."


"Tidak Vano! Jangan berkata seperti itu! Aku mencintaimu" Lagi, Lunar memeluk Devan menyalurkan seluruh resah dan penyesalannya, hingga langkah pria itu terhenti.

__ADS_1


"Vano..." Lirih lunar masih dalam isaknya. "Sebentar saja biarkan aku melepaskan kerinduanku Vano."


Bagai sambaran petir nan dahsyat bersamaan dengan buliran air matanya ikut tumpah melihat pria yang dia cintai berpelukan dengan wanita lain. Devan yang menyadari saat ini istrinya berda di hadapannya buru-buru melepaskan tangan Lunar yNg melibgkar kokoh di pingangnya.


"Riana..." Panggilnya lirih.


Riana berbalik tanpa menghiraukan panggilan Devan yang terus menggema di gendang telinganya, otaknya seakan berhenti bekerja, dunianya seakan runtuh. Kenapa sesakit ini jika mencinta? Riana terus melangkah gontai hingga dia tidak sadar kini dia membelah ganasnya malam, menerobos derasnya hujan.


Sebuah tarikan kuat memaksnya berbalik, Riana mendongak mendapati wajah suaminya pebuh kekawatiran, pelan Riana melepaskan cengkraman Devan. Dia kembali berbalik memulai langkahnya menjauh sejauh mungkin.


Merasa tidak ada respon dari Riana, Devan memmbalikkan tubuh Riana.


"Ayo kita ke mobil! Kamu akan sakit nanti" Devan, menarik tangan Riana namun gadis itu tak bergerak sedikit pun


" Riana aku mohon sayang, kita ke-mobil kamu akan sakit jika seperti ini"


Riana mendongak menatap tajam wajah pilu Devan.

__ADS_1


"Kau masih memikirkan kesehatanku tapi, tidak hatiku Devan? Apa yang ingin kau tunjukkan padaku ha? Kemesraan mu dengan mantan kekasihmu? Apa kau ingin membuatku seperti orang bodoh yang mencintaimu tapi, kau masih terjebak dengan masa lalumu? Kau berhasil Devan, aku sudah seperti orang bodoh yang mencintaimu secara sepihak. Delusiku terlalu tinggu untuk memilikimu seutuhnya.


"Tidak sayang, kau hanya salah paham. Ku mohon ayo kita pulang"


"Salah paham? Setelah aku melihatmu berpelukan mesrah dengan wanita lain. "


Ini sudah diambang batas Devan, bicara baik-baik dengan wanita yang sedang diselubung emosi tidak gunanya. Sekali hentakan Devan membopong tubuh Riana tanpa menghiraukan pemberontakan gadis ini.


"Buka tidak pintunya? Aku bisa pulang sendiri!" Tanpa menghiraukan permintaan Riana, Devan melajukan mobilnya membelah derasnya hujan malam ini.


"Pakai ini! Kau pasti kedinginan" Ucap Devan, seraya memberikan jasnya menutupi tubuh basah Riana.


Riana yang masih kesal menilik wajah dingin Devan.


Apa ini? Aku marah dengannya tapi hatiku berkhianat, aku semakin mencintainya. Riana memilih membuang wajahnya keluar jendela, emosinya terkoyak merasuk jiwanya sekilas ingatan yang baru saja terjadi memaksa buliran beningnya kembali tumpah membelai pipi putihnya.


......................

__ADS_1


__ADS_2