Promise

Promise
56


__ADS_3

"Riana..."


Langkah kaki gadis itu harus terhenti mendengar namanya dipanggil, dia memutar badannya seiring dengan itu rambut panjangnya yang beergelombang ikut terhempas mengikuti arah putaran kepalanya.


"Kenapa kak Agus?"


"Boleh minta tolong nggak? Ini laporan mingguan, tolong ya kamu bawa ke ruang nya pak Devan!"


"Kenapa bukan kak Agus aja?"


"Duh Ri, kali ini aja bantuin saya ya! Panggilan alam Ri ngerti dong!"


Agus, mulai meraskan perutnya kembali bergejolak didalam sana.


"Ohh... Baik kak itu lebih penting"


Riana, terkekeh melihat wajah pucat seniornya itu.


Gadis itu kembali melangkah menyusuri setiap lorong yang akan membawanya keruangan Devan, rambut panjangnya ikut bergoyang seiring langkahnya.


......................


"Vano, aku minta maaf aku! benar-benar minta maaf, aku salah meninggalkan mu dihari pernikahan kita Vano. Tapi, aku sudah kembali, aku akan kembali padamu lagi Vano"


Lunar, terus menangis dalam pelukan Devan.


"Cukup Lunar!" Devan, melepas paksa pelukan gadis dengan rambut kemerahan itu. "Kamu sendiri yang meninggalkan ku hari itu. Kau tahu? Bagaimana menderitanya aku selama ini dan sekarang dengan gampangnya kau minta maaf. Tidak lunar, tidak segampang itu kau ingin kembali. Aku sudah menikah dan aku sangat mencintai istriku."


"Bohong, kau belum menikah kau berbohong. Aku yakin kau hanya ingi memanas-manasiku kan Vano? Dan jika memang kau sudah menikah aku tidak perduli semua itu, intinya aku sudah kembali padamu."


Devan, menutup matanya marah. Lalu membukanya, betapa terkejutnya diambang pintu melihat Riana menatapnya datar.


"Sayang" Panggil Devan. Lunar berbalik menatap gadis yang sama tempo hari.

__ADS_1


'Sayang? Selama aku bersamanya tidak sekali pun dia memanggilku dengan sebutan sayang'


Devan melangkah menghampiri istrinya yang berdiri diambang pintu, sekali terikan gadis itu mendekat hingga menyisahkan hanya beberapa inci jarak mereka.


"Tutup matamu sayang!" Suara Devan seakan menghipnotis Riana dengan mudahnya menurut begitu saja.


"Maafkan aku Riana"


Seiring dengan itu Devan mendaratkan ciumannya ke bibir ranum Riana. Gadis itu seketika membulatkan matanya, dia ingat jika dibelakangnya tadi ada beberapa manager dan satu yang menjadi beban pikiran Riana, yaitu bu Jess.


Lunar menahan amarahnya, tiba-tiba rahangnya mengeras melihat adegan ini.


Devan melepas ciumannya pelan menatap senduh wajah istrinya yang sudah memerah.


"Lunar, keluar dari ruangan ini! Apa kau ingin melihat ku making love dengan istriku?"


Kesal, marah, cemburu sudah menyatu dalam hati Lunar, gadis itu berlalu meninggalkan Ruangan Devan.


......................


Berulang kali dia ingin masuk tapi lagi-lagi keraguan menghantuinya. Apa yang kamu takutkan Riana? Toh yang mencium mu adalah suami mu sendiri.


Satu tarikan nafas Riana meraih gagang pintu ruangan bermaterial kaca itu.


"Riana."


"Pak Rio" Riana, menunduk hormat. Saat ini jantungnya senam arobik didalam sana.


'Pak Rio tau ngga sih kejadian tadi pagi?'


"Kamu kenapa tidak masuk?"


"Ehh.. Ini baru mau masuk pak"

__ADS_1


Sekali dorongan Rio berhasil membuka pintu yang membawa mereka masuk. Sontak kumpulan karyawan yang berkupul di meja Hendry menatap mereka berdua. Tatapan yang tidak bisa diartikan, lain halnya Agus tiba-tiba dia kehilangan keseimbangan tubuhnya.


Rio mengerutkan alisnya tidak mengerti, ada apa dengan mereka? Seperti sedang melihat hantu.


"Kalian kenapa?"


Tidak ada jawaban pandangan mereka fokus ke arah Riana membuat Rio ikut menatap gadis itu yang berdiri tepat dibelakangnya


Hanya senyum kaku yang Riana lemparkan, boleh ka saat ini dia menghilang?


"Apa kalian tidak takut terus menatap wanita milik bos?" Ucap Rio sehingga tatapan penuh tanya kembali menghujamnya termkasud tatapan Riana.


"Kenapa? Apa kalian baru mengetahuinya jika gadis ini istri pak Devan?"


"Memang pak Rio tau?" Ucap Dion menyelidik


"Iya, setiap pagi aku melihatnya Riana dan pak Devan kekantor bersama" Rio, menatap Riana yang sudah membulat sempurnah


Malu itulah saat ini Riana rasakan, tunggu! Apa pak Rio juga melihat mereka sedang...? Ahhhhh...


"Terus pak Rio kok tidak bilang sih? Mana tadi aku suruh nyonya Muda bawa laporan mingguan tadi" Agus, terlihatt lesu mendudukkan dirinya diatas kursi.


Riana memilih duduk dikursinya, pokoknya ini semua salah Devan. Apa seisi kantor ini tau jika tadi pagi mereka berciuman?


"Gus, gua ngga pernah jahatkan sama Riana? Gimana kalau dia mecat kita Gus?" Bisik Dion


"Jangan tanya gua Yon, mungkin besok gua udah ngga dikantor ini. Gua paling sering nyuruh-nyuruh Riana Yon. Mana cicilan motor gua masih ada setengah lagi." Agus, menghembuskan nafasnya berat seakan ada beban yang memopang ikut keluar bersama hembusan nafasnya.


"Ini semua gara-gara si sipit itu. Coba dari awal dia bilang kau Riana istri bos kita ngga bakal seperti ini Gus." Kedua pria itu langsung menatap Hendry yang sejak tadi pura-pura menyibukkan dirinya dengan benda segi empat didepannya.


"Enaknya diapain tu si sipit Yon?"


"Gantung di pohon asem Gus."

__ADS_1


Bersambung*...


......................


__ADS_2