
Melihat Riana sudah tenang mereka berdua berjalan menuju area parkir rumah sakit, sesekali gadis berambut pendek itu melirik jam di peregelangan tangannya.
"Ri, gua antar lo pulang! Setelah itu gua langsung ke bandara."
"Hem? Nggak usah biar gua pulang naik taksi aja!"
"Huss... Diem nggak! Pake sabuk pengaman lo!" Riana menurut begitu saja, karena jika mata momo sudah membulat sempurnah artinya gadis itu tidak terbantahkan lagi.
"Gadis manis" Ucapnya lembut
Belum juga beberapa meter Momo menginjak pedal gas mobilnya, emosinya kembali mencuat saat melihat pria yang dulunya selalu mempermainkan hati dan perasaan gadis itu, baru saja turun dari mobilnya
"Miko? Oke gua akan bales dia saat ini juga" Ucapnya sudah berapi-api.
"Mo! Udah biarin katanya udah move on dari dia."
"Setidaknya untuk hari ini saja gua balas cowok bren*ek itu."
Momo yang sudah tidak bisa menahan kekasalannya sudah mengambil ancang-ancang utnuk turun bahkan gadis itu lupa jika pintu mobilnya terkunci. Namun, suatu pemandangan menyurutkan emosi Momo. Perempuan yang sedang hamil besar baru saja turun dari mobil, dia ingat jelas jika gadis itu adalah selingkuhan Miko saat mereka bersama.
"Mo, dia akan jadi ayah"
"Hemm..." Air mata Momo keluar tanpa permisih lagi. Riana membawa gadis itu kepelukannya.
"Ri, pada akhirnya gua yang kalah Ri."
"Hey, lo bilang apa sih? Emang lo kalah apa? Kalah ngedapatin si Miko?" Momo terdiam "Itu namanya bukan jodoh Mo, bukan kalah. Kita nggak tau yang namanya jodoh itu rahasia Tuhan Mo. Dan bukannya lo bilang mau jadi ipar gua?"
"Apasih? Gua becanda kali, emang abang Ar mau sama kremesan rengginan kaya gua?"
"Nggak papa kremesan rengginan kalau pakai emas. Mari kita coba"
__ADS_1
"Hahah... *Siska khol."
Momo menginjak pedal gasnya meninggalkan area rumah sakit, bersama dengan itu dia membuang jauh sisa kepingan hatinya.
*
"Ri, gua masih ada waktu sejam lebih nih baru kebandara, lo mau sesuatu?"
Tanya Momo tanpa mengalihkan pandangannya ke arah jalanan.
Riana langsung memutar kepalnya menatap Momo.
"Bilang aja! Mumpung kita masih di luat nih. "
"Hemm.. Mo, gua mau es kopi, tapi yang didekat kantor Devan."
"Siap nyonya muda." Momo langsung memutar arah mobilnya.
Momo tersenyum tulus "Apa sih nggak buat bumil gua? kalau perlu kita kebangkok kalau lo mau"
"Ha? Boong baget, bukannya lo mau ketemu sam si Taeyung, siapa sih gua nggak tau?"
"V aja V. Ampir aja gua lupa, lain kali boleh ya untuk hari ini biar gua ketemu ama pujaan hati gua." Riana menggeleng tidak mengerti dengan temannya itu, bisa-bisa dia begitu sangat menyukai pria asal negeri Ginseng itu.
Senyum Riana yang sejak tadi bertengger di wajahnya langsung redup begitu saja. Lagi-lagi Devan membuatnya naik pitam.
"Ri, bukannya itu Devan dan gadis itu mantannya"
Kali ini reaksi Riana tidak bisa ditebak, wajahnya datar seperti tembok.
"Ayo turun, aku ingin mendapatkan kopiku." Ucapnya, Momo hanya menurut mengikuti Riana.
__ADS_1
Devan yang baru keluar dari kafe kopi dibuat kaget melihat potret Riana berjalan ke arahnya. Diluar dugaan Devan pikir Riana akan menamparnya, atau memakinya gadis itu malah melewatinya begitu saja.
Tanpa pikir panjang lagi Devan langsung menyusul Riana. Sejenak dia melirik Momo yang sejak tadi memberikanya isyarat yang Devan tidak mengerti.
"Aku akan membayarnya!" Potong Devan
Riana memutar badannya menatap Devan "Tidak perlu tuan Devan, saya juga punya uang"
Devan menatap penuh tanya istrinya, iblis apa lagi yang memasuki macan betina ini hingga membuatnya begitu dingin. Bulu kuduk Devan meremang dia takut, ini lebih horor dibanding Riana marah-marah padanya.
"Saya permisi tuan Devan." Ucap Riana sembari melangkah tapi, Devan lebih dulu menahannya.
"Aku akan mengantarmu" Devan memberi kode oada Momo agar gadis itu pergi.
"Ahh iya Ri, gua langsung kebandara ya! Ntar sampai disana gua bakal kabarin lo."
"Ahh.. Hati-hati" Lambaian dan senyum Riana sedikit menenangkan hati Devan. Nmaun, tidak berlangsung lama saat wajah gadis itu kembali datar.
Sepanjang perjalanan Devan sesekali menatap Riana yang masih menapakkan wajah datar.
Kenapa begitu tenang?
"Sayang, aku dengan Lunar tidak sengaja bertemu, dia meminta tumpangan karena mobilnya mogok." Riana masih diam, manatap lurus kedepan. "Disana bukan hanya kami berdua disana juga ada sepupu Lunar namanya Mia.
Riana langsung menatap kearah Devan. "Bahkan dia tau nama sepupu gadis itu. Dasar" Riana membuang wajahnya keluar jendela, entah hari ini dia malas berdebat dengan Devan.
Devan merasa frustasi karena keanehan istrinya yang sejak tadi mendiaminya, tanpa pokir panjang lagi dia menepikan mobilnya.
"Riana lihat aku!" Devan menarik lengan Riana lembut hingga mau tidak mau gadis itu berbalik menatapnya. Pandangan keduanya saling beradu seketika hening menyelimuti mereka berdua
......................
__ADS_1