Promise

Promise
46


__ADS_3

*


"Lunar kembali Van" Ucap Arrian menatap tajam wajah sahabat sekaligus adik iparnya itu. Devan tersenyum tipis.


"Memang kenapa Jika dia kembali? Apa lo pikir gua akan kembali padanya dan meninggal kan Riana?" Ucap Devan. Tak ada jawaban dari Arrian namun sorot matanya mengiyakan apa yang Devan katakan


"Ar, apa lo pikir gua nikahin Riana hanya karena keadaan lo sekarang? Lo salah kalau berpikir seperti itu. Gua sayang Riana, apa pun yang terjadi gua ngga bakalan ngelepasin dia Ar. Soal Lunar, Gua udah ngga peduli Ar dia hanya masa lalu gua." Devan menekan ucapannya.


"Gua pegang kata-kata lo Van, sampai lo nyakitin Riana gua ngga bakal tinggal diam. Gua akan menymbunyiin adik gua dari lo." Ancam Arrian.


"Nda gua nggak biaran itu terjadi."


Perbincangan kedua pria dewasa itu baru berakhir saat jam menunjukkan pukul dua dini hari. Devan yang terlebih dahulu keluar mendapati istrinya yang sudah tertidur pulas di ruang keluarga. Sekali hentakan Devan membopong tubuh Riana menuju kamar gadis itu lalu membaringkannya diatas tempat tidur.


Devan menutup matanya dibawah guyuran air hangat saat ini ada sesuatu yang mengganjal hatinya, ya dia Lunar. Bukan karena Devan masih menyukai mantan kekasihnya itu, hanya saja dia takut jika Lunar berbuat sesutu pada Riana. Devan mengingat kembali saat lunar hampir menabrak adik kelasanya saat mereka masih bersama hanya karena gadis itu memberi Devan sebuah coklat.


Cukup lama Devan menenggelamkan dirinya di bilik kamar mandi. Perlahan dia menghampiri istrinya lalu ikut membaringkan tubuhnya diatas kasur.


Devan menarik tubuh Riana dalam dekapannya. Aroma khas ini selalu Devan rindukan. Ia memandang wajah polos istrinya lalu mengecup keningnya.


"Tidurlah, ini sudah larut" Ucap Riana dengan suara seraknya dia juga membalas pelukan suaminya.


"Sayang..." Ucap Devan dengan suara yang tertahan.


"Hemm..."

__ADS_1


"Apa kau tidak ingin melakukan sesuatu malam ini?" Ucap Devan sambil menatap mata gadis yang masih tertutup rapat itu.


"Hemm... Kita lakukan besok, aku sangat mengantuk Kak." Ucap Riana semakin mengeratkan pelukannya "Tidur lah besok aku akan melakukannya" Imbuh Riana, mungkin gadis itu tidak sadar mengatakan sesuatu yang membuat pria dalam pelukannya itu tidak sabar menunggu hari esok.


...*...


Cahaya surya pagi seakan mengintip melalui celah-celah gorden yang berayun dihempas semilir angin dipagi hari membut Riana mengerjabkan matanya.


Sembari mengumpulkan puing-puing kesadarannya Riana tersenyum menatap wajah tampan suminya. Alis tebal, hidung mancung bahkan bulu mata itu sangat menggoda. Cukup lama Riana menikmati wajah suaminya, Riana ingin beranjak namun tangan Devan menariknya kembali sehingga posisi Riana saat ini berada diatas Devan.


"Kak Devan, sejak kapan kakak bangun?" Ucap Riana yang masih terkejud karena ulah suaminya itu


"Hemm... Sejak kamu memperhatikan wajah gantengku." Ucap Devan dengan pedenya. Riana membenarkan ucapan Devan tapi, demi menjaga harga dirinya gadis itu bereaksi seakan membatah apa yang barusan Devan ucapakan


"Kenapa? Apa aku salah? Buktinya semenjak kau bangun matamu ini terus memandang wajahku."


"Tidak. Ada sesuatu yang harus kita selesaikan pagi ini." Ucap Devan menatap lekat wajah sanvlg istri. Riana mengerutkan alisnya tidak mengerti.


"Apaan sih? Kak Devan jangan mian-main lagi! Ini sudah siang kaka harus kekantor." Riana kembali meemberontak


"Aku tidak main-main Riana." Nafas Devan sudah memburu.


"Ri, aku menginginkanmu" Ucap Devan. Gejolaknya sudah tak terbendung lagi. Riana mulai merasakan milik suaminya mengeras dibawah sana.


Riana memberikan senyum, pikirnya mungkin ini saatnya dia menyerahkan hal paling berharga miliknya pada suaminya, pria yang sudah berhasil mencuri seluruh hatinya.

__ADS_1


Devan yang ingin mendaratkan ciumannya lagi-lagi harus gagal karena seseorang mengetuk pintu dari luar.


Ada apa ini? Kenapa setiap Devan ingin melakukannya selalu ada pengganggu? Sekarang Devan mengerti mengapa papa selalu mengajak mama bulan madu. Setelah menemui penganggu diluar sana Devan akan membawa Riana ketempat dimana hanya ada mereka berdua jaih dari pengganggi disekitarnya.


Amarah Devan membuncah saat melihat siapa penganggu itu. Felix merasakan bulu kuduknya berdiri saat Devan mengeraskan rahangnya


Mati gua... Batin Felix


"Selamat pagi pak, maaf menganggu tidur anda." Ucap Felix, berusaha setenang mungkin didepan pria yang sudah siap menerkamnya.


"Saya hanya ingin mengingatkan !Sejam lagi jadwal pemberangkatan anda ke Malaysia." Ucap Felix. Devan menutup matanya, bagaimana bisa dia lupa hari ini dia harus ke luar negeri.


Riana yang baru keluar dari bilik kamar mandi menatap heran suaminya yang tertunduk lemas di sisi tempat tidur.


"Kenapa? Apa ada masalah di kantor?" Tanya Riana juga ikut mendudukkan dirinya didekat Devan


"Tidak. Tapi, hari ini aku harus ke Malaysia." Devan mengangkat kepalanya menatap lekat wajah tanpa make up istrinya.


"Lalu kenapa tidak siap-siap?" Ucap Riana.


Jawaban apa itu? Bahkan Riana tidak menunjukkan kesedihan diwajahnya. Apa gadis itu baik-baik saja sat Devan melakukan perjalaann bisnis? Apa dia tidak takut jika suaminya ini digoda oleh wanita diluar sana? Gadis ini benar-benar membuat mood Devan semakin berantakan


"Kenapa? Apa ada masalah lagi?" Ucap Riana dengan wajah polosnya. Bukan jawaban yang Riana dapatkan malah wajah masam sang suami. Pria itu melangkah kekamar mandi dengan perasaan yang kesal. Riana menautkan alisnya tidak mengerti


"Apa aku salah ngomong? Atau pria juga mengalami yang namanya datang bulan. Aneh"

__ADS_1


Iya Riana kamu salah. Seharusnya tadi itu kamu sedih walau hanya pura-pura demi menyenangkan hati pria yang sudah tergila-gila padamu.


......................


__ADS_2