Promise

Promise
Promise Eps 26


__ADS_3

1 bulan kemudian.


"bagaimana bayimu eum? ibu sangat tidak sabar melihat cucu ibu"


tepat sekali, hari ini ibu datang berkunjung setelah terakhir kali waktu itu. ayah tidak ikut karena urusan kantor yang begitu banyak membuatnya harus lembur. aku bersyukur karena ibu akan menginap selama dua hari setidaknya Jimin tak akan memukulku selama dua hari kedepan.


ibu banyak membantuku, menjagaku dengan baik dan menyayangiku seperti anak perempuannya sendiri. aku sangat beruntung telah mendapatkan ibu mertua sebaik dia. ku lihat Jimin duduk diruang tamu dengan tatapan tak biasa padaku. selama ini dia baik hanya dihadapan ibu tapi aku yakin dalam hatinya ia sangat ingin membunuhku.


"dia baik Bu, ibu sabar yaa tinggal menunggu waktu saja. dokter bilang sudah tidak akan lama lagi"


"Hyerin, ibu bersyukur ternyata kau yang menjadi istri Jimin. jika Anna yang menjadi istrinya mungkin dia hanya akan mementingkan karirnya. sejak dulu ibu tidak begitu ingin Jimin menikah dengan Anna, justru ibu suka denganmu"


ku lihat Jimin menatap kearahku sangat tajam, aku yakin dia mendengar semua perkataan ibu barusan. ia mengepal kuat hingga urat tangannya sedikit terlihat. aku tau jika ibu tidak ada maka aku mungkin bisa saja tak bernyawa.


"kenapa ibu bicara begitu"


"Hyerin, Anna adalah wanita karir. jika menikah dengan Jimin belum tentu langsung hamil. dia pasti akan menundanya dan membuat ibu menunggu lebih lama. umurku sudah tidak muda lagi"


aku hanya tersenyum menanggapinya, ibu senang mengelus perutku dan berbicara dengan aegi. aku sama sekali tak berani menatap Jimin. aku berharap ibu bisa tinggal bersama kami tapi faktanya, Jimin selalu menolak dan ingin tinggal berdua dengan alasan, agar bisa bermesraan.


yang dia maksud bermesraan adalah memukuliku sampai puas.


"ibu harap anakmu laki-laki agar keluarga Park memilih ahli waris seorang laki-laki "


"iya Bu, Hyerin juga berharap begitu"


"oh iya, ibu dengar Astrid ikut ke Milan karena Miranda ada disana"


"iya betul, ibu tau darimana"


"heumm sudah ku duga, wanita itu pasti mengikuti kalian ke Milan. sejak dulu Astrid menyukai Jimin semua cara ia lakukan tapi semua gagal. Anna tau soal itu tapi tak menghentikannya, aku tau itu mungkin karena Astrid adalah kakaknya" ternyata ibu mengetahui hal ini juga.


"Hyerin, kau harus berhati-hati dengan Astrid dia itu jahat, dia akan mencelakaimu dan bayimu nantinya. kau harus hati-hati. ibu akan menyuruh Jimin agar menjagamu dengan baik"

__ADS_1


"terimakasih Bu, aku akan berhati-hati "


sangat terlihat dari raut wajah ibu mertuaku ini, dia begitu senang saat tau kami kembali ke Korea. ia selalu menanyakan kabarku dan anakku. dia sering berkunjung sekarang secara tiba-tiba. hal ini lumayan baik, setidaknya Jimin tidak akan meninggalkan banyak bekas memar ditubuhku karena ibu sering berkunjung.


ku harap suatu saat nanti pria ini bisa mencintaiku dengan tulus, bisa melihat kasih sayang dan cintaku padanya. semuanya bukanlah main-main aku benar-benar mencintainya sebagai suami dan ayah dari anakku.


ku lihat Jimin masih berdiri dan bersandar disana. aku tidak berani menatapnya bahkan meliriknya. ibu menyinggung perasaannya dengan membandingkanku dan Anna. setelah ibu pulang besok, dia pasti akan melakukan sesuatu padaku.


"ibu, apa ibu akan menginap?"


"tentu saja, ibu akan menginap beberapa hari disini. besok mungkin ibu akan pulang karena harus mengurus ayahmu juga. kasihan jika dia sendirian"


aku lega, aku pikir ibu tidak jadi menginap. meskipun hari ini aku akan baik-baik saja tapi besok belum tentu. malam ini aku akan tidur dengan Jimin karena ada ibu dirumah. Jimin juga tak mungkin menolak karena nantinya akan terjadi perdebatan.


ntahlah, hatiku sangat tidak tenang sekalipun ibu ada disini. bisa saja saat malam hari nanti Jimin menghajarku tanpa sepengetahuan ibu.


"kalian harus bahagia, kau gadis baik. Jimin seharusnya beruntung bisa menikah denganmu. kau hampir mirip dengan Anna, hanya berbeda status sosial saja"


aku tersenyum menanggapinya, iya benar. status sosial kami sangat jauh berbeda. wajar jika Jimin merasa benci padaku. selain status yang buruk aku juga penyebab kematian Anna. membuatnya meninggal dalam keadaan buta.


"ahh dimana Jimin?" aku melirik kearahnya yang langsung berjalan mendekatiku dan ibu.


"Jimin disini"


"ahh Jimin sayang, duduklah disini. lihatlah bayi kalian katanya jika anak masih dalam kandungan harus sering diajak bicara oleh ayahnya. dia akan mirip denganmu nantinya" ucap ibu senang.


ia mengubah posisi dan berpindah agar Jimin duduk disampingku. mengarahkan tangannya untuk menyentuh dan mengelus perutku yang buncit itu.


meskipun terlihat tidak senang tapi Jimin tetap melakukannya.


"ehh dia merespon, dia bergerak. kau lihat? dia baru saja menendang. masih dalam kandungan sudah sangat pintar yaa.. dia tau kalau yang menyentuhnya adalah ayahnya.." ucap Ibu senang.


aku dan Jimin hanya bertatapan dengan tatapan yang sama-sama dalam. hanya saja dia menatapku dengan kebencian yang mendalam, sedangkan aku menatapnya dengan cinta yang mendalam.

__ADS_1


"aduuhh ibu ke toilet sebentar kalian lanjutkanlah.. yaa, dia meresponmu Jim " ibu sangat senang kemudian berlalu ke arah dapur.


aku merasakan sedikit pergerakan di perutku. ini pertama kalinya dia bergerak dalam waktu yang cukup lama dari biasanya. dia terus menendang dari sisi kanan ke kiri mengikuti tangan Jimin yang mengelusnya.


batinnya sangat kuat, dia tau bahwa ayahnya sedang menyentuhnya.


"dia terlihat sangat bahagia, selama ini baru kali ini dia bergerak dengan cepat saat di elus" Gumamku pelan, aku tau Jimin pasti mendengarnya.


"dia tau bahwa ayahnya sedang menyentuhnya.. dia sangat senang makanya meresponmu begitu cepat"


"apa kau merasakan bahwa dia bergerak?" aku menoleh melihat Jimin dengan senyuman, berharap dia menjawab ku dengan kalimat yang baik tapi ekspetasi ku terlalu tinggi.


"sebaiknya tidak usah melakukan drama dihadapanku Hyerin! bayi itu memang sudah waktunya merespon seseorang yang mengelusnya. kau saja yang terlalu berlebihan!"


Jimin menjauh dariku setelah mengatakan kata-kata yang diluar ekspektasi ku sendiri.


"Jim, selama ini aegi tidak pernah merespon dengan gesit seperti ini. dia tak pernah merespon orang dalam jangka waktu yang lama. tapi saat kau menyentuhnya dia bergerak cepat dan sangat senang. aku merasakannya Jim, apa kau tidak?"


Jimin menatapku tajam dan detik berikutnya dia berdiri dihadapanku dan sedikit membungkuk untuk menatapku.


"Hyerin, ingatlah satu hal bahwa kau akan menyerahkan dirimu padaku setelah anak ini lahir. aku tak akan menyakiti anak kita tapi kau harus dihancurkan sehancur mungkin. agar kau merasakan apa yang di rasakan oleh Anna"


mataku berkaca-kaca setelah mendengar ucapannya, aku sendiri yang berkata begitu demi anakku agar dia tidak terluka. ternyata Jimin akan melakukannya sungguhan.


"aku ingat Jim aku sudah berjanji padamu. aku akan menyerahkan diriku untuk dipukuli olehmu setiap hari asalkan anakku baik-baik saja"


bibirku bergetar saat mengatakannya, sangat sakit tapi aku sudah berjanji padanya dan pada diriku sendiri.


"bagus.. gadis pintar!"


dia berbisik kemudian pergi begitu saja meninggalkan ku tanpa menoleh sedikitpun.


"aegi sayang.. nanti jika kau sudah lahir, kau harus bahagia ya sayang.."

__ADS_1


tak tahan lagi, air mataku mulai mengalir. sakit rasanya tapi jujur aku tak bisa melakukan apapun. bahkan jika lari dari sini sekalipun, Jimin akan tetap menemukanku dan menyeretku kembali kesamping nya.


__ADS_2