Promise

Promise
89 (P6)


__ADS_3

"Cihh... Gara-gara tiket ini aku begadang semalaman demi mendapatkannya, dan sialnya pemilik tiket ini tidak jadi hadir karena hari ini dia tunangan." Gerutu Angga kesal mengingat perjuangannya mendapatkan tiket ini.


"Hemmm..." Momo mulai mendekatkan ke arah Angga "Permisi pak Dokter yang baik hati, apa kau ingin hadir di konser itu? Maksudku apa pemiliknya benar-benar tidak bisa hadir?"


Angga menaikkan satu alisnya "Iya dia tidak akan hadir."


"Assah.." Sorak Momo senang "Ahh maaf! Bagaimana denganmu apa kau ingin pergi?" Tanyanya lagi.


"Tidak."


"Serius?"


"Hem? Kenapa?"


Tanpa aba-aba Momo menarik tangan Angga lalu menggenngamnya. "Kalau begitu jual padaku tiket itu."


Sejenak Angga dibuat membatu, jantungnya tidak karuan segera dia menarik tangannya. "Ambilah jika kau sangat menginginkannya."

__ADS_1


Tanpa ada rasa canggung dan malu Momo mengambil tiket itu dari tangan anda. "Serius? Wah, thanks pak dokter" Saking bahagiany Momo memeluk Angga, pria itu seakan terhipnotis dan membatu.


"Ah.. Maafkan aku pak Dokter.'" Ucap Momo seraya melepaskan pelukannya. "Kalau begitu aku pergi dulu! Jangan lupa kirim aku pesan nomor rekeningmu." Ucap Momo sembari melangkah bahagia.


Sedang Angga masih diam dengan debaran jantung tidak menentu. "Ada apa denganku? Wahhh."


...***...


Berulang kali Riana menghembuskan nafasnya tepat didepan kamar inap Devan, untuk kesekian kalianya dia menarik tangannya dari gagang pintu . Takut, Riana takut jika harus kecewa lagi sudah cukup selama ini dia menderita.


Riana tercengang menatap gadis itu, dia terus mengingat siapa gerangan wanita cantik yang menganalnya? Gadis itu melangkah kearah Riana.


"Akhirnya aku bisa bertemu langsung denganmu. Aku tidak menyangka jika kau lebih cantik dari apa yang Dev gambarkan tentangmu padaku." Ucapnya masih dengan senyum menawan. "Ahh.. Aku hampir lupa, kenalkan aku Scarlite teman dari suami mu Devano Andreas." Tuturnya


"Devan?"


"Iya, Devan suamimu. Dia begitu cerewet aku jadi penasaran bagaimana bisa kau menghadipnya selama ini?"

__ADS_1


Air mata Riana tak bisa terbendung lagi, bibirnya bergetar sangat susah mengeluarkan sepatah kata.


"Aaa... Apa dia baik-baik saja?"


Scarlite mengangguk. "Ya dia semakin membaik, dia juga sangat gigih untuk pulih kembali demi menemuimu."


Riana menghapus air matanya. "Memeng selama ini apa yang dia derita?"


"Saat pertama kali aku menemukannya di rumah sakit, keadaannya begitu kritis. Tulangnya kakinya patah, dan beberapa bagian tubunya terkena luka bakar serius karena sebuah ledakan." Ucap Scrlite. "Untung saja tidak ada luka bakar dibagian wajahnya, jika tidak mungkin aku sudah menerbangkan puluhan dokter untuk mengembalikan wajahnya."


Riana menghela nafasnya legah, setidaknya dia tahu saat ini Devan masih hidup.


"Kalau begitu aku permisi Riana, masuklah pria cerewet itu sejak tadi sudah menunggumu." Scarlite berdiri dan meninggaljan Riana dilorong sepi itu.


Riana kembali mendekat pada pintu itu, jantungnya berdebar kecang karena dia tahu jika dia balik pintu itu ada seseorang yang selama ini dia rindukan. Kenapa hanya membuka pintu tangannya bergetar dan keringat dingin? Riana mendorong pelan pintu kamar itu berharap dia benar menemukan Devan atau ternyata semua ini hanya mimpi dan ilusi Riana saja.


"Riana..."

__ADS_1


__ADS_2