
beberapa Minggu kemudian,
Hyerin POV,
rumah yang luas, halaman yang menyerupai hamparan sawah yang ditanami padi. berbagai macam bunga dan tanaman obat yang tertanam mengelilingi
mansion ini.
sudah hampir 4 Minggu kami menempati mansion ini. Jimin dia begitu sibuk sejak 2 Minggu terakhir, dan Ahri ini dia sedang libur. tapi Jimin selalu membaca buku diruang baca. ada banyak ruangan dimansion mewah ini.
ada dua ruang makan, 5 kamar utama dan 10 kamar tamu serta kamar mandi dimasing-masing kamar, ada ruang baca, ruang kerja, perpustakaan yang berisi buku tentang ramuan-ramuan herbal, ruang desain, ruang tamu, ruang keluarga dan brankas uang.
rumah ini adalah rumah yang mirip dengan rumah-rumah di televisi.
sore itu aku duduk dihalaman depan, lebih tepatnya di taman yang dipenuhi berbagai jenis bunga mawar. aromanya bercampur-camlur dan wanginya benar-benar menenangkan hati. ada 1 pelayan yang menemaniku ditaman itu.
"nyonya, apa nyonya menyukai Anwar merah?"
namanya Bibi Jinna, dia pelayan utama dimansion ini. dia sangat baik dan perhatian padaku. jika Jimin memukuliku, dia yang selalu membantuku dengan sabar. usianya hampir sama dengan usia ibuku, sekitar 49 tahun-an.
"aku sangat suka bibi, mawar merah dan mawar hitam aku menyukai keduanya"
"kebetulan sekali, kemarin Tuan Jems memesan beberapa bibit bunga mawar, aku akan memintanya untuk membeli bibit mawar hitam" ucapnya antusias.
seperti itulah, dia melakukan banyak hal untukku. dia bilang aku harus bahagia dan menganggapnya sebagai ibuku sendiri. aku senang meskipun hari-hari yang ku jalani terasa sama, setidaknya ada satu orang yang menyayangiku disini.
"terimakasih Bibi, kau tidak perlu melakukannya. dua bulan lagi kami akan kembali dan mansion ini akan kosong"
"nyonya.. setidaknya jika nanti Bayi mungil Anda telah lahir, anda harus datang kemari" ucapnya.
__ADS_1
"bibi, kau tau Jimin seperti apa padaku. dia, tidak mungkin membawaku kemari. jikapun dia datang kesini dia tak akan mengajakku apalagi membawa anak kami. bibi sendiri tau bahwa Jimin begitu membenciku"
Semuanya akan berhenti dan tidak akan sesuai dengan harapan. aku juga berharap demikian, aku ingin anak kami lahir di Milan dan tinggal dirumah ini tapi, selamanya hal itu tak akan pernah terjadi.
Bibi Jinna menyentuh bahuku Lembut, ia memelukku hangat. rasanya seperti dipeluk oleh seorang ibu. Bibi Jinna sangat tau bahwa aku butuh pelukan untuk saat ini.
"nyonya, aku yakin sekali suatu saat nanti. Tuan muda bisa menerima dan mencintai anda"
"aku juga berharap demikian"
aku sangat ingin mendapatkan hal itu, tapi apakah mungkin? apakah Jimin akan mencintai aku? cintanya hanya terpaku pada Anna dan bukan aku.
ku lihat Jems tengah berdiri disamping taman, ia menunduk hormat seperti memberi sapaan kepada seseorang. aku sempat berfikir Jimin ada ditaman itu tapi ternyata suamiku itu berdiri di balkon ruang baca. Ia menatap kearahku dengan tatapan teduh yang mencekat. aku menatapnya dari bawah sini, ingin sekali memilikinya, memiliki semua cintanya. Anna sangat beruntung, bahkan saat dia sudah tiada Jimin terus menjaga hatinya untuknya.
rintik hujan mulai menetes satu demi satu menjadi butiran besar. dengan sigap, Jems mengambil payung dan memayungiku.
"nyonya, rintik hujan semakin besar. sebaiknya kita masuk sekarang sebelum anda basah. takutnya anda terkena flu" Bibi Jinna membantuku untuk masuk kedalam rumah.
"Jim aku membuatkan kopi Inggris untukmu, minumlah selagi hangat"
aku berucap dengan nada lembut yang aku punya. ini yang paling lembut yang ku ucapkan untuk suamiku. tapi gelas berisi kopi itu oleng dan mengenai tanganku. seketika aku menjatuhkannya dan mengenai semua berkas Jimin yang telah ia cetak.
Jimin masih terdiam menatap berkas yang kotor, aku mencoba menyelamatkan nya mengelapnya dengan tisu, sangking paniknya aku tidak bisa berfikir bahwa itu sebuah kerja bukan lantai. kopi itu sudah membasahi seluruh dokumen dan bahkan laptop Jimin juga terkenal air kopi itu.
Jimin berdiri, menamparku berkali-kali tanpa mengatakan sepatah katapun. ia mengambil gelas kopi itu dan melemparkannya padaku. memohon dan menangis aku rasa percuma karena aku yang membuatnya marah. apalagi dokumen itu adalah dokumen kerjanya yang sangat penting. aku ceroboh dan benar-benar bodoh.
Bukan hanya menampar, Jimin juga memukuliku dengan ikat pinggangnya. melemparkan berbagai macam benda-benda kearahku. dan terakhir ada tongkat bisbol diruangan itu. Jimin mengambilnya dan memukul punggung serta kakiku. cukup dengan 1 pukulan dipunggung dan 3 pukulan di kaki. aku berhasil pingsan saat itu juga, ntah apa yang terjadi padaku. saat aku terbangun aku sudah berada dikamar dengan selang infus yang hampir habis.
hari berikutnya kakiku membengkak dan membiru begitupun dengan punggungku. untungnya ada bibi Jinna, dia yang membantu ku mengoles salep dan mengompres Punggungku. jika tak ada Bibi Jinna aku rasa aku mati terkapar.
__ADS_1
hari ini sudah mereda, bengkaknya sudah lumayan tidak sakit. memarnya semakin membiru tapi sakitnya telah berkurang. meskipun agak pincang aku masih bisa berjalan sendiri.
saat Jimin memukuliku, aku tak bisa melawan sama sekali. aku tidak peduli apapun yang terjadi padaku, asalkan anakku aman. aku menghalangi perutku agar tak mengenai pukulan Jimin.
"nyonya duduklah disini, aku akan membuatkan teh hangat untuk anda"
bibi Jinna buru-buru kedapur untuk membuat segelas teh. hanya ada aku dan Jems diruangan itu.
"Nyonya.."
"eum?"
"apa anda baik-baik saja? Anda butuh sesuatu?"
Jems sangat baik dia memperhatikanku selalu, dia benar-benar menuruti keinginanku maupun bayiku. andai Jimin seperti ini aku pasti tidak akan kesepian. tapi mengingat kata-kata nya, tanpa ijin darinya aku tak akan pernah bisa bahagia.
"aku baik-baik saja Jems, terimakasih tapi aku tak butuh apapun"
"Nyonya, besok dokter akan datang untuk memeriksa bayi anda"
"baik"
"Jems, apakah besok Jimin bekerja?"
"Tuan akan berangkat lebih lambat dari biasanya, Tuan tidak bekerja besok tapi Tuan akan pergi kekasino untuk memenangkan lelang" jelas Jems.
"lelang?"
"benar Nyonya, Ada Golden Kristal dan mutiara langka dari Jerman dan Inggris. dan kabarnya dua benda langka itu akan dilelang di kasino. Dan Tuan tertarik untuk memenangkan lelang itu"
__ADS_1
"eum... baiklah.."
kristal dan mutiara, pasti harganya tidak sedikit. kenapa Jimin ingin mengikuti lelang itu.