
3 hari kemudian,
"hallo Jian sayang, ini ibu nak" Ucap Hyerin sembari memegangi tangan kecil putranya itu.
bibi Kim tersenyum melihatnya, akhir-akhir ini Hyerin terlihat sangat bahagia. meksipun bibi Kim tau hatinya pasti terluka. sudah hari ke 3 Hyerin dirumah sakit tapi sekalipun Jimin tak pernah datang untuk menjenguknya, atau bahkan menanyakannya melalui bibi Kim walaupun sekedar bertanya kabar Hyerin.
Hyerin merasa sedih tapi terakhir kali bibi Kim berkata perusahaan dalam masalah, Hyerin memaklumi nya mungkin Jimin sangat sibuk untuk mengurus perusahaan.
"nyonya apa Anda butuh sesuatu?"
"tidak bibi, cukup melihat Jian aku sudah senang. aku tidak butuh apa-apa" ucap Hyerin.
"silahkan masuk Tuan"
tiba-tiba seseorang datang bersama dokter, dan 2 pengawal dibelakangnya.
"Jimin.."
"bagaimana keadaanmu?" tanya Jimin.
"aku tidak papa, kau tak usah mengkhawatirkan aku" Hyerin menjawab dengan wajah yang tertunduk.
"Hem? kenapa menunduk? dan apa maksud mu berbicara jangan mengkhawatirkanmu? angkat kepalamu! apa begitu caramu berbicara dengan suamimu?"
perlahan Hyerin mengangkat wajahnya dan menatap Jimin. dengan tatapan dingin Jimin terus menatap Hyerin dengan ganas.
"baru 3 hari tidak bertemu denganku apakah langsung lupa bagaimana caranya bersikap dengan suamimu?"
"apa ingin berada lebih lama di rumah sakit ini eum?" Jimin mendekat dan mengambil Jian dari tangan Hyerin.
"t-tidakk.. Jimin k-kembalikan Jian.."
"diam kau!!" bentaknya.
Hyerin langsung terdiam, menatap Jian yang di berikan pada bibi Kim untuk di gendong. matanya berkaca-kaca seakan tak rela jika bayinya jauh darinya.
"Jimin, apa kau datang hanya untuk melampiaskan amarahmu padaku?" Ucap Hyerin memberanikan diri.
"nyonya.." Jems menegur tapi tangan Jimin terlanjur terangkat.
"apa kau bilang? katakan lagi" Jimin mendekat dengan tatapan mata yang tak lepas dari wajah Hyerin.
"a-aku.. aku tidak.. m-maksudku tidak begitu, maaf.. m-maafkan aku Jimin, a-aku benar-benar bersalah tolong m-maafkan aku.."
__ADS_1
"aku rasa kau nyaman berada disini jadi kau ingin ditambah lagi, baiklah.."
Jimin mencengkram erat tangan Hyerin dan memelintirnya sedikit kuat.
"Tu--"
"keluar kalian!" belum sempat bibi Kim berkata mereka telah diusir dari ruangan.
"Tuan tapi nyonya baru akan pulih Tuan muda.."
Jeremy menarik bibi Kim keluar dan Jems menutup pintunya.
"Tungguuu, j-jangan tinggalkan aku. bibi.. bibi Kim tolong hiks tidak..." Jimin menguatkan cengkraman nya dan menatap tajam mata Hyerin.
"Ahh sakit.."
"Ji-Jian tunggu sayang.. hiks bibi Kim.. Jian tolong ibu hikss tidakk.. j-jangan tinggalkan aku hiks.. t-tid-- aaarghhh!! sakit!!"
"Diam!" bentakan yang keras membuat Hyerin membungkam mulutnya sendiri. menangis dan menggeleng kepala dengan kuat. ia memberontak sampai selang infus ditangannya terlepas. berusaha lari tapi dengan cepat Jimin menariknya hingga Hyerin tak bisa bergerak.
"ssstt.. tenanglah Hyerin, tenang.. yaaakk!!"
bugh!!
"m-maaf.. hiks, aku bersalah tolong jangan lagi.." ia memohon dan menangis.
"tenanglah Hyerin tenang.. kenapa kau begitu rusuh, setakut itu kau padaku? setakut ini kau bersamaku hah?!!" Jimin kesal mencengkram pipinya.
"Hyerin tolong menurut lah!! aku tidak berniat melukaimu sungguh tenanglah.." ucapnya mereda.
"tenanglah.. jangan berisik, sstt.. aku tak akan menyakitimu.. tenanglah, okeyy.."
suaranya mereda, Jimin mengelus kepala Hyerin dan membentuknya membenarkan posisi agar duduk. mengelus tangannya yang mungkin sakit karena selang infus terlepas secara paksa.
Hyerin sesegukan karena menahan tangis yang tak bisa ia bendung. sesak rasanya saat menangis dalam keadaan yang sulit diartikan.
"Tenanglah.. tenang"
"hiks.. maafkan aku Jimina.. aku a-aku tidak akan membantahmu lagi, aku tidak akan membuatmu marah tapi jangan pukul aku lagi hiks tolong.."
Jimin menatap mata Hyerin dalam, tangannya mengusap air mata dipipi putihnya dan mengelus Surai rambut panjangnya.
"tenanglah.. aku tidak akan menyakitimu"
__ADS_1
"maaf.. maafkan aku.. hiks.."
Jimin terus menatap wajah Hyerin dengan memelas dan memohon padanya.
DEG,
*Tidak Jim tidak.. j-jangan lakukan lagi hiks tidak, maaf maafkan aku telah membuatmu marah hiks maaf..!! k-kau salah paham kau salah paham dengarkan penjelasanku dulu tolong dengarkan sebentar*
*kau benar-benar membuatku marah Anna! kau pantas mendapatkan semua rasa sakit ini!*
*lihat bagaimana aku akan mematahkan kedua kaki dan tanganmu agar kau tidak bisa pergi kemanapun!! yang hanya bisa kau lakukan akan tidur diatas ranjang dengan organ tubuh yang patah!!!*
BRUAKKK!!
KRAKK!!
*AARRGGHHH TIDAAAKK*
*ini akibatnya jika kau melawanku Anna!!*
*sakit sekali hikss tolong ampuni aku tolong hiks.. sakitt, AAAHHHKKK*
BLAM!
jimin teringat kembali dimana saat dia menyiksa Anna habis-habisan. kaki dan jemari tangannya patah disaat yang sama karena emosinya yang meledak. hingga membuatnya melukai kekasihnya sendiri.
sikap takut yang ditunjukkan oleh Hyerin sama persisi seperti Anna saat itu. matanya dan cara memohon ya benar-benar sama. bahkan ekspresi wajahnya sangat mirip.
*apa karena mata Anna ada pada dirinya, makanya semua bayangan buruk itu kembali lagi?* batin Jimin.
"bukankah kau memiliki janji padaku? aku sedang menagih janjimu kenapa memohon ampun heum? saat kau berkata saat itu apa kau tak memikirkan resikonya akan seperti ini?"
Hyerin terdiam, menatap wajah Jimin dengan ekspresi dingin dan datar. Hyerin memejamkan matanya dan menunduk.
"aku tidak bermaksud untuk mengingkarinya tapi tolong, tolong aku sekali ini saja.." Ucap Hyerin lirih.
"apa kau tidak mencintaiku? apa tidak ada rasa iba untukku? Jimin'aa aku mencintaimu, aku ingin memiliki keluarga sempurna seperti orang lain dicintai dan mencintai pasangan. memiliki rumah tangga yang baik dan harmonis apakah tidak boleh? apakah salah jika aku bermimpi demikian?" ucap Hyerin agak keras tapi masih menundukkan kepala.
"aku mencintaimu Jim aku mencintaimu aku mencintaimu hikss.."
Jimin terdiam, berbalik dan tak berkata sepatah kata apapun. ia memejamkan mata dengan telinga yang terus mendengar Hyerin berkata bahwa ia mencintainya.
"Kau tak sekuat Anna untuk bisa mencintai ku"
__ADS_1