
"Sayang, mama sudah menyiapkan segalanya pesta pernikahan untuk kalian." Ucap Lily penuh kelembutan. "Maafkan mama karena beberapa hal pesta pernikahan kalian harus tertunda."
"Nggak papa ma, aku dan Riana ngerti kok. Ya kan sayang?" Devan menatap Riana, dia tertunduk menyembunyikan kesedihannya.
"Ri, kamu nggak papa kan? Apa ada yang sakit?" Rayt wajah Devan dan Lily berubah cemas
"Nggak, aku hanya inget kak Arrian. Gimana kita menggelar pesta pernikahan yang meriah jika keluarga ku satu-satunya tidak hadir?"
Devan tersenyum legah, membawa Riana kedalam pelukannya. "Dia pasti akan datang sayang."
...***...
"Riana."
Sejenak Riana terpaku saat namanya dipanggul, dia sangat kenal pemilik suara itu. Riana yang sedang di makeup menoleh, dan menemukan kakanya Arrian berdiri dengan gagahnya. Tak terasa air mata rindunya metes begitu saja, akhirnya impiannya menikah dengan pria dia cintai dan disaksikan oleh kakanya.
Meski pernikahan ini baru terlaksana setelah sekian lama setalah akad nikah mereka laksanakan ditambah saat ini gadis itu tengah mengandung. Gaun yang seharusnya pas ditubuhnya harus dibuat longgar agar bayinya dan sang ibu nyaman.
"Kau sangat cantik Riana." Ucap aArrian
Riana masih mengunci wajah kakaknya yang sangat kurus. "Jangan mendekat Arrian Sanders." Ucapnya kemudian. "Aku membenci kakak" Riana langsung memalingkan wajahnya berusaha menahan air matanya
__ADS_1
"Maafkan kakak Riana." Ucapnya penuh sesal.
Riana kembali menatap Arrian, kali ini sang MUA harus ekstta sabara menghadapi mempelai peremupannya. "Apa perkejaan kak Arrian begitu banyak? Sampai-sampai melupakan adikmu satu-satunya didunua ini? Kau tau bagaimana aku sangat merindukan kak Ar selama ini?" Jedahnya "Dan apa ini? Kenapa kak Ar begitu kurus? Riana nggak mau tau cari secepatnya calon istri dan nikahi dia! Agar bisa mengurus kak Arrian"
"Kenapa kau begitu cerewet Riana? Sejak tadi aku juga penasaran kau semakin berisi terutama dibagian perut mu"
Riana tersenyum mentap Arrian sedang tangannya mengelus lembut perutnya yang mulai membuncit. Arrian terbelak berharap filingnya benar.
"Kau...?" Riana mengangguk pelan "Kau tidak berbohong kan? Di dalam sini ada keponakanku?" Tanya Arrian penuh penekanan.
"Iya kaka, akan jadi uncle"
Arria langsung mumunggungi Riana, menumpahkan air mata bahagia yang teramat suara isaknya begitu jelas terdengar.
"Baik lebih baik aku akan menunggu mu diluar." Ucap Ar langsung meninggaljan Riana tanpa berbalik sedikitpun
Riana menahan senyumnya "Ka Ar, apa yang ingin dia sembunyikan? Apa sakah kalau laki-laki menangis?"
***
"Kamu sidah siap sayang?" Tanya Devan menatap kagum wajah cantik istrinya, entah sejak kehamilan Riana gadis itu terlihat sangat bercahaya dan semakin menawan.
__ADS_1
Riana dan Devan berjalan menuju ballroom yang dilapisi karpet merah dan taburan ribuan kelopak bunga, dengan gagahnya Devan menggandeng tangan Riana seakan mengumumkan pada dunia jika dia adalah pemilik gadis cantik itu.
Riana menengok dimana kakanya berada, disana ada Momo dan Arrian tersenyum bahagiaa hingga air matanya menetes.
"Terima kasih kak Arrian." Batin Riana, terus melangkah senada dengan suaminya.
Selama pesta Devan benar-benar harus ekstra sabar menghadapi sikap manja dan keluhan Riana, Devan maklum karena istrinya sedang hamil muda sekarang.
Diujung ruangan Lunar menatap sinis ke arah Devan den Riana. "Maafkan aku Devano, aku tidak bisa membiarkan mu bahagia dengan wanita lain selain aku."
***
"Sayang ini teh manis untuk mu" Devan duduk disamping Riana membantu istrinya meminum secangkir teh yang pelayan berikan tadi.
Baru saja Devan menempelkan gelas itu dibibir Riana, Arrian langsung menyambarnya dan meneguk habis tanpa sisa.
"Kak Ar kau mengagetkan ku" Protes Riana.
"Aaa... Aku sangat haus" Ucapnya terbata
Arrian memalingkan tubuhnya berjalan demi langkah, dia mulai merasakan sesuatu yang lain dari dirinya. Nafasnya begitu sulit untuk keluar, jantungnya seakan tertekan hebat didalam sana hingga beberapa meter berjalan Arrian ambruk.
__ADS_1
Betapa terkejutnya Riana gadis itu langsung berdiri sedang Devan, Angga dan Heri langsung berlari kearah Arrian terjatuh.