
Momo terbangun dengan kaget, saat melihat wajah pria yang selama ini dia cintai kini berada didekatnya tertidur begitu lelap. Sangat pelan dia bangun agar tidak mengganggu tidur Arrian, wajahnya tiba-tiba merona melihat kekacaun di kamar itu. Pakaian berserkan dimana-mana, seprai kasur yang tadinya terpasang dikeempat sisi kasur kini berpidah menyelimuti tubuh Momo yang polos.
Momo mengusap wajahnya yang terasa panas dia malu, sangat malu mengingat kejadian penuh gelora yang baru saja dia alami selama hidupnya.
"Kamu kenapa sayang?" Suara serak Arrian membuat Momo tersentak ditambah pria itu memindahkan kepalaanya di pangkuan Momo.
"Abang, udah bangun? Momo nganggu ya?" Ucapnya.
"Nggak" Ucap Arrian
"Heee? Abang bilang apa? Nggak kedengaran." Momo mendektkan sedikit kepalanya ke bibir Arrian
Arrian langsung mengangkat kepalanya melihat wajah pucat tanpa make up istrinya. "Aku bilang nggak sayang, kamu nggak ganggu abang."
"Ouhh... Aku pikir abang mau seseuatu."
"Hemm... Emang kamu mau kasi kalau abang minta seseuatu?" Tanyanya, Arrian bagun dan duduk sejajar dengan Momo.
Senyum Arrian tiba-tiba tersirat, dia langsung menidih Momo jarak merak yang begitu dekat membuat gadis itu tersipu..
"Aaaa... Abang mau apa?" Tanya Momo sedikit gugup.
"Kamu nggak ngersain itu ya?"
Momo membulatkan matanya saat merasa sesuatu yang mengganjalnya dibawah sana
"Abang? "
"Hemm... Abang minta sekali lagi ya!"
__ADS_1
"Kan udah tadi malam, badan Momo masih pegal. Abang nggak capek gitu?"
"Nggak!"
Arrian kembali mencumbu Momo begitu lembut, menjelajahi setiap inci tubuh molek istrinya dengan bibir. Untuk kesekian kalinya pergulatan panas itu terjadi lagi.
...***...
"Ini semua salah abang!" Gerutu Momo kesal.
"Memang salah abang apa lagi sih? Kita sama mau dan saling mencitai sayang jadi, apa salahnya?" Ucap Arrian, dia tetap fokus mengemudikan mobilnya.
"Ihh bukan itu maksud aku abang. Lihat! Abang lihat leher Momo! Penuh bercak merah." Momo menyondongkan lehernya ke arah Arrian.
"Sini abang tambah."
"Iya maaf! Terus masalahnya apa dengan tanda merah itu?"
"Masalah donk, nggak liat apa tadi mama sama papa sangat khawatir karena aku pake scraf ini. Tapi, Riana..."
"Udah jangan dipikirin, dia lebih pengalaman dari kita sayang. Buktinya Zoya udah ada."
Momo hanya cengoh mendengar jawaban suaminya.
"Udah jangan dipikirin!"
"Bayangin reaksi Riana gue udah malu banget. Ngeliat gue pake scraf di siang bolong gini pasti... Ahhh sudah lah! Siapkan saja mentalmu Monica"
...***...
__ADS_1
"Wah pengantin baru udah dateng nih." Seru Devan saat melihat Arrian dan Momo masuk kerumah.
"Dimana Riana?" Arrian meletakkan bingkisan yang ibu Momo berikan tadi.
"Keluar beli buah, sebentar lagi dia pulang." Ucapnya
Belum juga semenit dibicarakan Riana sudah masuk membawa tiga kantong besar ditangannya.
"Kalian udah datang? Mo, kamu baik-baik aja kan?" Tanya Riana saat matanya tertuju pada Scraf dileher kakak iparnya.
"Hem.. Sangat baik" Ucapnya sedikit gugup.
Sedangkan Devan melirik Arrian menahan tawanyanya.
"Wa, Lo pasti bekerja sangat keras tadi malam Ar. Sampai-sampai istri lo demam kayak gitu." Bisik Devan diselingi tawa.
"Diem nggak lo!" Geram Arrian
Riana berbalik, menatap heran kakak dan sauminya. "Kalian ngomongin apa?"
"Nggak sayang, makan yuk aku udah lapar." Ucapnya sedikit manja.
Mereka berempat menikmati makan siang dengan hangat, sesekali Devan menggoda pengantin baru itu. Momo hanya bisa menunduk malu, tanpa sekalipun membalas candaan Devan dan Arrian.
...***...
Bersambung....
Terima kasih sudah mampir dicerita aku, maaf jika banyak kekurangan.
__ADS_1