
"Dasar perempuan ganjen awas aja kedapatan dia goda suami ku lagi." Gerutu Riana dalam langkahnya.
"Ri..." Suara seorang gadis yang Riana sudah hapal mengehentikan langkahnya.
" Lo ada masalah? Sepanjang lorong gua teriak udah kaya tarsan lo nggak balik-balik. Lo Kenapa?"
"Mo.." Riana menarik tangan Momo membuat gadis itu mengernyitkan dahi. "Gua terima saran lo. Beliin gua gincu merah"
Momo teridam sesaat mencernah apa yang sahabatnya ini minta. "Ahh..." Momo tersenyum jail tanpa menunggu lama dia mengeluarkan sebuah gincu dari kantong celananya.
"Gua tau lo pasti akan minta ini ke gua."
"Thaks Mo, lo emang yang terbaik" Riana kembali melangkah meninggalkan gadis rambut pendek itu.
"Fighting Riana" Teriak Momo.
Riana menaikkan jempolnya sebagai jawaban.
*
Riana sudah selesai dengan semua rekapan laporannya dia melirik jam dipergelangan tangannya, tidak terasa sudah pukul dua siang. Gadis itu kembali menyalakan hpnya yang semalam dia lupa cas. Tidak beberapa lama hp Riana berbunyi dilayar itu tertulis nama kakaknya.
📞 Halo kak Arrian.
^^^^^^📞 Kamu dimana Riana? Sepertinya kau sudah ^^^^^^
^^^melupakan kakakmu ini.^^^
📞 Tidak kak mana mungkin aku melupakan kakak. Aku sekarang di tempat aku magang, kak Ar dimana?
^^^^^^📞 Dirumah, baru saja ^^^^^^
^^^sampai. Kamu kesini^^^
^^^ajak suami mu.^^^
📞 Oke.
Riana menutup telponnya. Lalu melakukan panggilan namun tidak dijawab. Mungkin Devan sibuk pikirnya, jalan terakhir mengirimkan suaminya pesan.
"Hend gua balik diluan ya, bantuin gua bilang sama bu Jess.." Ucap Riana
"Tapi Ri, gua..."
"By Hend baek-baek lo! Medusa gak mood tau." Potong Riana seraya meninggalkan Hendry.
__ADS_1
*
Riana dengan semangat 45 memasuki pekarangan rumahnya dia disambut hangat oleh pekerja disana.
"Kak Ar aku pulang," Teriak Riana
"Selamat datang Nona muda" Sapa bibi Jum dan beberapa pelayan lainnya. Riana yang melihat rumahnya yang sedikit ramai mengerutkan alisnya, bukannya kak Arrian berada dirumah? Tapi kenapa bibi pelayan ini disini? Batinnya
"Bibi, apa kak Ar dirumah?"
"Iya Nona, tuan ada di ruang kerjanya." Ucap bibi Jum. Riana mengangguk sembari menuju arah ruang baca kakanya.
Ceklek... Suara pintu terbuka Riana mencondongkan kepalanya kedalam. Benar saja kak Ar berada didalam dia terlihat sangat serius sedang menelpon. Pelan Riana masuk agar Arrian tidak menyadarinya, baru tiga langkah gadis itu melangkah Arrian berbalik .
"Ada apa denganmu?" Tanya Arrian seraya mematikan panggilannya.
"Kaka... Heheh aku merindukanmu" Riana menghambur dalam pelukan kakanya.
"Bohong, buktinya kau tidak pernah menghibungiku Riana" Arrian menuntun sang adik ntuk duduk
"Iyakah? Perasaan kemarin aku menghubungi kak Ar tapi, ngga diangkat" Ucap Riana. "Kaka kenapa kau sangat kurus? Dan tanganmu sangat dingin, apa kakak sakit?" Riana menyadari perubahan pada diri Arrian.
"Hemm? Tidak aku hanya kecapean. Sebentar lagi sembuh kok"
"Itu makanya kakak menikah lah! Agar ada yang merawat kak Ar. Saat ini aku sudah berkeluarga jadi waktuku kurang merawatmu." Ucap Riana lirih.
"Masih dikantor tapi, aku sudah mengirimnya pesan agar kesini." Ucap Riana.
*
Sedang Devan yang sejak tadi bergelud dengan tumpukan mapnya melirik jam di atas meja ternyata hampir pukul enam. Saking asiknya bekerja pria itu bahkan melupakan makan siangnya.
Dia meraih hpnya disana ada beberapa pesan dari sang istri
'* Kak Devan, kak Ar dirumah jadi, aku pulang lebih dulu.'
'Kak Devan suadah makan siang?'
'Kakak masih dikantor?'
'Aku masih menggu*'
Semua pesan Riana membuat Devan tersenyum tipis "Kapan dia bethenti memanggilku dengan sebutan kakak?"
Wajah Devan seketika berubah datar saat dia membuka pesan dari nomotr baru.
__ADS_1
'Hay Vano, kamu baik-baik saja kan? Aku merindukan mu, aku ingin bertemu dengan mu. Lunar'
Setelah membaca pesan itu Devan menghapusnya. Entah ada angin apa belakangan ini mantan kekasihnya itu terus mengiriminya pesan.
*
Sudah hampir waktu makan malan Devan belum juga datang, Riana menghubunginya namun tidak diangkat. Mood Riana mulai tak karuan , baru saja dia ingin kekamar namun langkahnya terhenti saat mendengar deru mobil Devan.
Riana segera berlari menuju pintu utama. Benar saja pria yang sejak tadi dia tunggu kini berada didepannya. Dan apa ini? wajahnya acak-acakan tapi, dia semakin tampan. Riana mengembangkan senyumnya. Perasaan jengkel kesal pada pria itu sekan sudah menjadi buih ditengah lautan
"Kenapa lama sekali baru pulang?" Ucap Riana seraya mengambil jas suaminya yang bertengger di bahunya.
"Kenapa? Apa kamu sudah merindukan ku?" Devan sedikit membungkukkan badannya mengabsen setiap inci wajah polos istrinya. Hudung mancung dan bibir kecil itu adalah favorit Devan.
"Ttti... Tidak, hanya saja aku menunggu kak Devan. Itu saja" Ucap Riana. Devan menyunggingkan senyum melihat sikap malu-malu istrinya sangat jelas pipi gadis itu merona. Timbul kejahilan pria itu ingin menggoda gadisnya lebih. Pelan dia mendekatkan wajahnya ke wajah Riana.
"Aaaaa... Apa yang ingin kak Devan lakukan?" Wajah gadis itu memerah
"Apa lagi? Aku ingin ...."
"Kak Devan..." Geram Riana
"Apa? Aku hanya ingin ini. Ummaccch" Devan mencium pipi Riana yang sudah merona sejak tadi. "Itu milikku" Baru saja Riana ingin protes namun Devan lebih dulu melangkah masuk.
Riana mematung memegang pipinya, dia langsung berlari menyusul suaminya.
Tanpa Riana sadari sedari tadi Adam terus mengawasi mereka berdua. Pria itu hanya diam dalam kensunyian malam, hatinya seakan tenggelam dalam lautan penyesalan.
*
"Van, gua mau ngomong serius sama lo" Ucap Arrian tangganya dia tumpuhkan pada kedua lututnya
"Soal apa?"
"Lunar kembali Van" Ucap Arrian menatap tajam wajah sahabat sekaligus adik iparnya itu.
......................
Devan
Arrian
__ADS_1
Riana