
Jimin duduk diruang tamu, dengan tab ditangannya sepertinya dia sedang bekerja. Hyerin melangkah masuk dengan menggendong bayinya. Jimin melirik sekilas kemudian fokus lagi pada tabnya.
*apakah aku harus bertanya? apa aku harus mengatakan padanya kalau aku sudah tau siapa dia?* Batin Hyerin.
ia melangkah untuk mendekati Jimin dan duduk disampingnya. belum sampai ia duduk Jimin menutup tab ditangannya dan menoleh.
"ada apa? butuh sesuatu?" ucap Jimin.
"Tidak.. aku, aku ingin bicara denganmu"
"soal apa?"
Hyerin menatap Jimin meksipun pria ini tidak melihatnya.
"kenapa menatapku? cepat katakan apa yang ingin kau katakan, aku masih harus bekerja" ketus Jimin.
"Jimin.. boleh aku bertanya sesuatu?"
"tanyakan saja" ucap Jimin tanpa menatap Hyerin.
"dulu saat Anna dibawa ke Amerika untuk menjalani pengobatan setelah kecelakaan, apakah itu benar kecelakaan?" ucap Anna.
Jimin melirik dan menoleh kearah Hyerin. wajahnya terlihat sendu dan mata sedikit sembab khas habis menangis.
"kenapa? kenapa tiba-tiba menanyakan hal itu?" tatapannya berubah seketika.
Hyerin mulai goyah, ia menggendong bayinya dan mendekap cukup erat.
"Jim..."
"kau sudah tau siapa aku? apa ingin memastikan kebenaran?" ucap Jimin melempar tabnya diatas meja.
"jawab"
"Jimin, a-aku.. aku.."
ia mengerutkan dahinya dan menatap Hyerin semakin dalam. tatapan yang menurutnya biasa saja tapi mampu membuat Hyerin ketakutan.
"Bibi Kim!"
dengan tergesa-gesa bibi Kim datang dari dapur dengan tangan yang masih basah setelah mencuci piring.
"iya Tuan muda.."
"bawa aegi ke kakamar, aku ingin bicara dengan ibunya" suruh Jimin.
"baik.."
bibi Kim mengambil putra mereka dan membawanya kekamar. Hyerin terdiam, dia menunduk tak berani menatap Jimin.
__ADS_1
"kau sudah tau ya? pasti bibi Kim yang memberitahunya kan?" suaranya lirih, ia mendekati Hyerin.
"benar begitu Hyerin?"
"iya.."
Hyerin menjawab lirih, tangannya berkeringat dingin dan basah. Hyerin ketakutan setengah mati saat Jimin mendekatkan wajahnya dan menatapnya.
"Hyerin.. jawab aku, apa kau sudah tau siapa aku?"
"Jimin.. aku.." Hyerin mengangguk kaku mengiyakan pertanyaan Jimin.
perlahan tangannya mengangkat dagu Hyerin, menatap kedua bola matanya dengan lekat tanpa berkedip sedikitpun.
"kalau kau sudah tau, itu bagus sekali.. aku tak perlu menjelaskan banyak hal. bibi Kim pasti sudah memberitahumu semuanya terutama saat Anna di bawa ke Amerika" ucap Jimin.
"kau akan bernasib sama seperti Anna jika kau berani macam-macam denganku. aku tidak akan menyakitimu dengan 1 syarat"
Hyerin akhirnya memberanikan diri menatap Jimin. mungkin ini kesempatannya untuk mendapatkan sedikit kebebasan.
"syarat..?"
"mata ini... jagalah dengan baik, jika kau melukai mata Anna atau mata ini sampai rusak karena ulahmu maka aku akan menghabisimu!"
"putraku, aku pikir aku tidak akan menganggapnya tapi dia satu-satunya ahli waris keluarga Park jika dia terluka sedikit saja kau yang akan menanggung semuanya"
"dan yang terakhir.. dilarang membuka identitas ku pada orang lain termasuk ayah dan ibu, jika hal itu diketahui oleh mereka maka aku tidak akan segan-segan menyakitimu" bisiknya sambil menatap Hyerin dengan tatapan rendah.
"i-iyaa.. a-aku paham.." Hyerin menjawab dengan terbata-bata ia mencoba menghindari tatapan Jimin tapi, pria ini begitu tajam menatapnya.
"gadis pintar..."
cup!
mata Hyerin membola, satu kecupan mendarat dibibir tipisnya. membuat Hyerin tak percaya akan hal itu tak percaya bahwa Jimin akan mengecupnya dengan lembut.
"kau bisa pergi, kau sudah tau sekarang. aku tak perlu lagi menyembunyikan hal ini"
Jimin kembali mengambil tabnya diatas meja dan membukanya kembali. Hyerin berdiri dengan kaki lemah. ia menatap Jimin sekilas dan melangkah pergi. tapi baru beberapa langkah Hyerin terhenti dan berbalik.
"Jimin.."
"hemm.."
"itu.. apakah aku boleh sedikit bahagia?" Hyerin ragu untuk menanyakan ini tapi ia benar-benar ingin tau apakah dirinya berhak bahagia.
*semua orang berhak bahagia, apakah aku tetap tidak boleh?*
"Hyerin.. selain yang aku katakan tadi, pertanyaan ini sangat jauh dengan apa yang kita bahas jadi menurutmu bagaimana?" ucap Jimin tanpa melihat Hyerin.
__ADS_1
wanita cantik ini hanya tersenyum pahit setelah mendengar jawaban sang suami.
*benar, ini tidak ada hubungannya dengan yang ia bahas tadi. kenapa aku masih berani bertanya*
"aku paham.."
"kau bisa kekamarku malam ini"
"baik"
Hyerin langsung melangkah pergi dan menuju kamar putra kecilnya. baru akan membuka pintu ia mendengar su kecil menangis dengan jeritan yang kuat. bayi mungil itu sangat lapar.
"astaga.. ada apa bibi.?"
"nyonya, sepertinya dia lapar.."
"baiklah, biar aku susui dulu.."
"baik.."
Hyerin mengambil alih si kecil dan menyusuinya. senyuman cerah terpancar di wajahnya menatap putra kecilnya yang langsung tenang saat itu.
"ibu disini sayang, maaf yaa.. kau menunggu lama.. kau harus minum susu sampai kenyang.."
Hyerin menimang dan bersenandu untuk mengiringi si kecil tidur dengan tenang. bibi Kim tersenyum berkat hadirnya bayi mungil ini Hyerin dan begitu terlihat sedih.
"semua ini akan berakhir singkat sayang, ibu.. akan tetap menepati janji ibu pada ayahmu.." gumam Hyerin lirih.
"bibi.. malam ini tolong jaga dia dengan baik, aku mungkin tidak bisa menemaninya malam ini.. aku akan memompa ASI untuknya agar saat dia menangis bibi langsung berikan saja.." ucap Hyerin tanpa sadar air matanya menetes.
ia berbicara tanpa melihat bibi Kim dan memegangi tangan mungil putra kecilnya.
"nyonya anda akan pergi kemana?"
"aku dirumah.. tapi aku sudah memiliki janji pada Jimin sebelum melahirkan" jawab Hyerin.
"nyonya.."
"tidak apa-apa, dia tidak akan sampai membunuhku.." ucapnya tersenyum.
"nyonya tapi setelah melahirkan kondisi anda masih belum stabil, jika terjadi sesuatu pada anda maka ASI yang dihasilkan kurang. Bayi anda masih membutuhkan banyak ASI untuk saat ini. kurang makan, tidur dan istirahat akan membuat anda kekurangan cairan dan vitamin anda akan jatuh sakit nantinya" jelas bibi Kim mencoba mencegah Hyerin.
"bibi... maka dari itu hari ini aku akan makan banyak dan memompa banyak ASI untuknya.. karena kedepannya aku belum tentu menghasilkan ASI yang sehat" Balas Hyerin lembut.
"Nyonya Hyerin..."
matanya berkaca-kaca menatap Hyerin dengan banyak luka dipunggungnya. memikul beban berat di bahunya. detik berikutnya Bibi Kim memberikan pelukan hangat untuk Hyerin.
"Nyonya aku berjanji akan selalu ada disisi anda dan menjaga kalian berdua. aku berjanji pada anda dan nona Anna"
__ADS_1
"terimakasih Bibi.."