
seminggu kemudian,
"mata ini, kapan baru akan sembuh.. Minggu depan sudah akan kembali ke Kota tapi kenapa mataku masih membiru seperti ini" ucap Hyerin berdiri didepan cermin besar.
"aegi sayang.. apa menurutmu mata ibu akan sembuh sebelum pulang?"
"jika nenekmu lihat nanti harus bagaimana.."
Jimin mendengarnya saat keluar dari kamar mandi, ia melihat punggung Hyerin yang terpampang jelas disana. dengan pakaian tidurnya yang terbuka itu, punggung putihnya sangat nyata terpampang dihadapan Jimin.
"ibu akan meminta tolong pada paman Jems untuk mencari obat"
"kau harus cepat besar, kau harus menemani ibu yaa.."
"Hyerin"
suara Jimin memanggilnya, membuat Hyerin yang awalnya tersenyum kini terdiam dan perlahan menoleh.
"i-iya Jim.."
"kemari" ucap Jimin datar.
Hyerin mendekat, ia berdiri tepat dibelakang Jimin karena posisinya, pria ini sedang duduk dengan sebuah buku yang dibacanya.
"berdiri dihadapanku, bukan di belakangku"
Hyerin berpindah dan berdiri dihadapan Jimin. pria ini tidak merespon Hyerin sama sekali, Hyerin tidak tau harus bagaimana. ia benar-benar canggung dengan situasi ini.
"berhentilah berbicara dengan bayimu, dia tak akan mengerti. sebaiknya tutup mulutmu daripada terus berbicara random yang tidak berguna" ucap Jimin tanpa menatap Hyerin.
"maafkan aku, aku hanya menghibur diriku sendiri. setidaknya aku punya alasan untuk bicara sendiri" ucap Hyerin lirih.
plak!
Jimin menutup bukunya dan berdiri seketika. karena Hyerin lebih pendek darinya, Jimin sedikit membungkuk untuk menyamakan tingginya dengan Hyerin.
"saat ada aku, kau tidak boleh bicara dengan bayimu! itu benar-benar menggangguku Hyerin! kau boleh bicara ketika aku tidak ada" bisiknya.
"jika tidak menurut maka aku akan.."
tiba-tiba tangan kanan Jimin meraba perut Hyerin dengan lembut dan seketika meremasnya dengan kuat. sedangkan tangan kirinya ia kaitkan dipinggang Hyerin dan menekannya.
__ADS_1
"Jim.. s-sakit.."
"akan seperti itu rasanya Jika kau tidak menurut denganku, bahkan aku bisa membuatmu mendapatkan rasa sakit lebih dari ini! paham?!!"
Hyerin mengangguk cepat, sebelum melepaskanya Jimin menekannya sangat kuat dan mendorong Hyerin hingga terjatuh.
Jimin kembali duduk, membuka buku yang ia baca tadi.
"kau bisa pergi" ucapnya tanpa menoleh kearah Hyerin.
perlahan ia bangkit dan berjalan pergi. sesekali menoleh kearah Jimin tapi ternyata pria ini benar-benar tidak peduli dengannya.
Hyerin berjalan ke balkon, ia selalu duduk disana dan memandangi hamparan laut yang luas. Jimin memutuskan untuk menetap selama 3 bukan kedepan. ia sudah membeli mansion pinggir kota yang jaraknya dekat dengan perusahaan Fashion.
besok mereka akan pindah ke mansion itu. Jimin juga sudah mencari 3 pembantu dan 2 pengawal tambahan untuk membantu Jems.
drrtt.. drrtt...
Jimin📱: hallo?
Jems📱: Tuan muda, semuanya sudah siap. besok bisa langsung pindah ke mansion. pelayan dan dua pengawal sudah siap.
Jimin📱: heemm, utus mereka untuk kemarin membawa barang kesana.
tutt tutt tutt..
tok tok tok
"ahh siapa lagi ini!" gerutu Jimin.
ia berdiri dan membuka pintunya, itu Hoseok dia datang kekamar Jimin untuk sekedar berkunjung. seminggu lagi akan ada acara tahunan dikapal pesiar yang diadakan oleh penyelenggara negara. Jimin dan Hoseok tentu saja di undang karena mereka juga merupakan salah satu pengaruh besar di Milan.
"ada apa?"
"hanya berkunjung untuk membahas acara tahunan Milan"
"masuklah,"
Hoseok masuk kedalam kamar itu, matanya tertuju pada wanita yang berdiri dibalkon. rambutnya diterpa angin yang mengobrak abrikan rambut panjang nya. dress yang ia gunakan sangat cantik saat ia gunakan.
"istri mu kenapa?"
__ADS_1
Jimin ikut menoleh kearah Hyerin dan menatapnya. mereka berdua memiliki pandangan yang sama tentang Hyerin.
"dia memang begitu, biarkan saja" ucap Jimin acuh.
"Jim.. sebenarnya apa yang kau lakukan pada istrimu?" tanya Hoseok tiba-tiba.
"melakukan apa?"
"Jim, maaf tapi aku tidak sengaja melihat matanya memerah dan lebam membiru. apa yang kau lakukan padanya?"
"memukulinya" ucap Jimin santai.
"apa? Jim kau gila?" ucap Hoseok spontan.
"dulu saat kau bertanya apa hobiku aku tak bisa menjawab, sekarang akan ku beritahu apa hobiku" ucap Jimin menatap Hoseok.
Hoseok mengerutkan dahinya, ia mengangkat satu alisnya menunggu jawaban.
"apa maksudmu?"
Jimin menunjuk Hyerin, ia tersenyum miring yang ingin menelen Hyerin.
"memukulinya. itu hobiku" ucap Jimin, ia menatap Hoseok sebentar kemudian beralih pada ponselnya.
Hoseok menatap Jimin yang tidak merasa menyesal ataupun bersalah. ia menatap Hyerin lagi dari atas sampai bawah. Hoseok baru menyadarinya bahwa kaki Hyerin penuh dengan memar dan luka cambukan. sedikit dari tangannya yang terlihat juga terdapat tanda membiru disana.
"sebenarnya wanita itu harus dikasihani, aku yakin dia benar-benar menderita tapi ia tidak bisa melakukan apapun" batin Hoseok.
"kau tak berniat untuk belajar mencintainya?" tanya Hoseok.
"tidak"
"Jim dia istrimu, pikirkan lagi soal perasaannya. lihatlah penampilannya. kau tak bisa mengajaknya ke acara tahunan dalam keadaan seperti itu" ucap Hoseok.
"kasihan dia Jim, dia butuh kasih sayang sedikit darimu" tambahnya.
"dia tak boleh bahagia, semua penderitaan Anna harus dia bayar" ucap Jimin.
"Jim.."
"karena dia Anna ku meninggal Jung, karena wanita sial*an itu Anna tiada.. " ucap Jimin benci.
__ADS_1
Hoseok terdiam, ia sangat paham apa yang ada dalam hati Jimin. ia juga pernah kehilangan jadi Hoseok sangat tau bagaimana rasanya.
"haahhh ya sudahlah.." Hoseok pasrah ia menghela nafas panjang sambil menatap Hyerin. sangat kasihan melihatnya dalam keadaan yang sangat miris seperti itu.