
*
*
Riana mengangguk mengerti, dia tidak perduli apapun sekarang yang terpenting suaminya saat ini sudah berada disampingnya.
"Jadi, bisa kita lanjutkan yang tadi malam?"
Devan dengan jailnya menarik selimut yang melekat ditubuh Riana.
"Kak Devan... Kau sudah mendapatkannya tadi malam, apa kakak tidak capek ha? bahkan kakak melakukannya lebih dari dua kali."
"Tidak, aku baru mendapatkan setelah empat bulan pernikahan kita dan kau bertanya apa aku tidak capek? Jawabnnya tidak. Bahkan seharian aku masih sanggup"
"DEVAN..." Geram Riana.
Tanpa pikir panjang lagi Devan melonjak menjauhi gadis yang sebentar lagi berubah menjadi singa betina. Menjaili istrinya dipagi hari akan menjadi hobi baru pria dewasa itu. Gadis itu jika marah semakin cantik.
"Aku mencintaimu Riana."
...*...
Sedangkan dibawah sana Hery dan Lily baru saja tiba dikediamannya. Dengan langkah sedikit berlari Lily memasuki Rumahya.
"Dasar anak nakal, setelah kembali dari kematian dia tidak menghbungi ibunya." Gumam Lily.
"Selamat datang nyonya besar." Sapa Lastri yang baru saja selesai menyiapkan sarapan.
"Lastri Devan dimana? Apa dia sudah kekantor?"
"Tuan muda masih ada dia..." Lily melanjutkan langkahnya sebelum si gadis kepang dua itu menyelesaikan ucapannya.
Tak... Tak... Suara sepatu helss Lily saling bersautan menapaki setiap anak tangga. Hilang sudah sikap anggunya selama ini, emosinya sebentar lagi akan meledak. Lily menghentikan langkahnya tepat didepan pintu kamar Devan. Pergerakan tangannya terhenti ketika terdengar suara dari dalam.
__ADS_1
"Kak Devan, kamu menyakitiku jika seperti ini."
Lily semakin mendatkan kupingnya.
"Aku sudah pelan sayang, tahan sedikit! Aku hampir selesai"
Wajah Lily mengukir senyum bahagia, entah kemana semua luapan emosinya tadi? Hari ini hatinya penuh kebahagiaan dan harapan. Pelan dia meninggalkan area kamar anaknya, agar kehadirannya tidak menganggu pembuatan proyek penting didalam sana.
Hery yang melihat tingka istrinya bak pencuri menatap heran.
"Sayang ada apa?" Ucap Heri tentu membuat Lily tersentak
"Huss..." Lily menarik tangan Heri turun kebawah.
Sedangkan didalam kamar itu Devan menjongkok di depan Riana gadis itu memakai kemeja milik Devan rambutnya terurai berantakan semakin menambah kecantikannya. Devan sangat hati-hati mengolesi minyak dilutut Riana yang terluka.
"Kenapa kau sangat ceroboh sih? Memangnya apa yang coba kau tutupi dengan selimut ini? Aku sudah melihat dan merasakan setiap inci tubuhmu Riana. Lihat kau sampai terluka! Bagaimana jika persedian ini patah? Kau tau betapa berharganya dirimu bagiku?." Riana tersenyum melihat tingkah berlebihan suaminya. Jadi seperti ini diperhatikan dan dikhawatirkan oleh orang yang kita cintai?
"Kenapa tersenyum? Apa kau pikir aku sedang melawak?" Devan mulai kesal. Riana mengamgguk dengan wajah tanpa berdosah, suskses memancing emosi Devan.
"Iya sayang, aku disini" Ucap Riana, mengukir senyum diwajah Devan. Ini pertama kalinya Riana memanggil dengan sebutan 'sayang'
"Kau memanggilku apa tadi." Devan semakin mendekatkan dirinya entah kemana perginya amarah yang sudah bergekolak tadi. Tangan kekarnya mengunci tubuh Riana.
"Apa sih? Kak Devan aku mau mandi" Riana berusaha mendorong tubuh Devan.
"Panggil aku dengan sebutan tadi ! Baru kita mandi "
"Iya, sayang."
"Apa? Aku tidak dengar" Riana memutar bola matanya jengah. Hey, tuan Devano itu hanya akal-akalanmu bagaiman bisa kau tidak dengar? Sedangkan jarak kita hanya menyisahkan beberapa inci.
"Sayang, aku mau mandi kumohon lepaskan aku." Ucap Riana lembut.
__ADS_1
Mendengar itu Devan bersemu, luar biasa daya tarik istrinya hanya dengan sebutan sayang gairah kelakiannya kembali bergejolok. Iseng, dia menuntun tangan Riana ke arah tubuh bagian bawahnya membuat mata Riana membulat. Riana melepaskan tangannya, lalu membuang muka yang sudah memerah
"Sayang, seterusnya panggil aku dengan sebutan itu" Devan menangkup kedua pipi mulus istrinya. Devan mengecup lembut bibir ranum itu.
"Apa aku sudah bisa keluar dari penjara mu tuan Devan? Aku ingin mandi"
Devan tersenyum jail, dengan sekali hentakan dia mengangkat tubuh istrinya ala bride stily
"Aw... Apa yang kamu lakukan? Turunkan aku!"
"Bukannya kau ingin mandi sayangku? Jadi, aku membantumu kekamar mandi."
Devan melangkah kearah kamar mandi, Riana pasrah mengikuti keinginan suaminya.
Riana menatap Devan tengah menunggu bathtub penuh dengan air. Pahatan tubuh suaminya benar-benar sempurna, terlebih perut abisnya. Demi apapun, mata Riana lumpuh tak berkedip sedikit pun. Riana menggelengkan kepalanya menbuang jauh pikiran liarnya.
"Kenapa masih disini?"
"Aku ingin membantumu, sekalian kita mandi bersama"
Otak Rian seketika lumpuh mendengar kata mandi bersama. Itu artinya? Riana mendongak menatap wajah datar Devan.
"Tidak, aku tidak mau." Mandi bersama, yang benar saja? Kilasan kejadian semalam terlintas begitu saja di benaknya. Kulit mereka saling meyatu, cumbuan panas, dan ah?
Platak... Devan menyentil kening Riana
"Apa yang ada didalam pikiran mu ha? Aku hanya ingin mandi, lihat! Punggungku sangat kotor beberpa hari ini aku tidak mandi dengan benar."
"Iya.. Iya ayok mandi"
Dengan polosnya Riana mengiyakan keinginan pria dewasa itu. Jauh didalam lubuk hati Devan, benar dia ingin melakukannya lagi. Tapi, dia tidak ingin egois ini pertama kalinya untuk istrinya dia tidak ingin Riana terluka. Sungguh cintanya ini lebih besar dibanding hasratnya.
......................
__ADS_1