
sore itu setelah puas melukai Hyerin, Jimin kembali menyalakan sebatang rokok dan duduk di balkon kamar. menatap langit biru dan membiarkan angin dingin menerpa wajah tampannya. memejamkan matanya dan merasakan sedikit tetes air jatuh diwajahnya.
"Anna... kau sedang apa sayang, apa kau tidak merindukanku? bahkan datang di mimpiku juga sangat sulit" gumam Jimin.
"kau harus bahagia disana sayang, aku akan membalas perbuatan Hyerin yang membuatmu meninggal dalam keadaan buta.. "tambahnya.
Hyerin mendengar semua ucapan Jimin dari balik tirai pintu antara kamar dan balkon. ia terdiam, berdiri dengan kaki gemetar.
"Jimin sudah mengetahuinya Ann, tapi video itu belum sampai ditangannya. dia salah paham terhadap janjiku padamu. dia mengira akulah penyebab semuanya, jika dipikir Jimin memang benar. aku benalu dalam hidupmu" gumam Hyerin lirih tanpa sadar air matanya ikut mengalir.
"aku sudah berjanji padamu untuk memberikan video itu, tunggu hari baik maka aku akan memberikan rekaman itu"
Hyerin menatap Jimin dari belakang, ingin sekali bersandar pada tubuh kekarnya. jangankan memeluknya, tak sengaja menyentuhnya maka Hyerin akan di hajar habis-habisan.
Hyerin berbalik dan berniat kembali masuk untuk beristirahat tapi tiba-tiba merasakan sebuah kontraksi dari perutnya.
"aegi sayang, kau kenapa.. a-aduuhh.."
Hyerin memegangi perutnya dan bersandar ketembok karena reaksi dari perutnya membuat kakinya gemetaran.
"a-aduuhh sakit sekali... A-aegii sayang, aaahhh"
rintihan Hyerin terdengar oleh Jimin, ia membuang rokoknya dan menoleh melihat Hyerin dan bersiap untuk marah tapi saat melihat Hyerin meringis kesakitan ia langsung menghampirinya.
"Jimin tolong.. perutku sakit sekali.. ahh"
"ada apa? kenapa bisa sakit?"
"tolong, sepertinya aku akan melahirkan hiks.. sakit tolong aku.."
tanpa banyak bicara Jimin langsung membopong Hyerin dan segera membawanya kerumah sakit.
langkah panjang Jimin terlihat jelas bahwa ia sedikit gugup dan panik. langsung menyuruh Jeremy menyediakan mobil dan segera kerumah sakit.
jarak antara rumah dan rumah sakit cukup jauh, membuat Hyerin semakin kesakitan. ia menggenggam tangan Jimin dengan erat seakan tak ingin melepaskannya.
"Jeremy kau bisa menyetir atau tidak!! kenapa lama sekali!" bentak Jimin.
"maaf Tuan, jalanan agak macet" Jeremy ikut gugup dan panik, jika terjadi sesuatu pada Hyerin maka bukan Jimin yang membunuhnya melainkan ibu Jimin yang akan menghabisinya.
"sial!!! percepat mobilnya!!"
"baik Tuan.."
dua mobil yang mengikuti Jimin dari belakang berpindah maju ke depan untuk membuka jalan.
"Jimin tolong, sakit sekali aku sudah tidak kuat"
"sebentar lagi kita sampai, tenanglah.."
__ADS_1
"sakit sekali.. aegii sabar sayang... sabar.." Hyerin menarik nafas dan membuangnya secara kasar karena sakit yang ia rasakan.
keringat bercucuran genggaman tangan mereka basah dan semakin erat Hyerin menggenggam tangan Jimin. pria ini bisa melihat bagaimana Hyerin kesakitan bahkan saat ia menghajarnya Hyerin tak pernah berekspresi seperti ini.
demi buah hatinya Hyerin mempertaruhkan nyawa yang hanya satu ia miliki.
setelah hampir 30 menit mereka sampai dirumah sakit, langsung memangggil dokter bersalin dan segera melakukan penanganan.
"aku tidak mau dokter pria!! berikan dokter wanita untuk melayani istriku!!"
"baik Tuan"
salah satu suster langsung memanggil dokter wanita untuk membantu persalinan Hyerin.
"Tuan silahkan masuk untuk menemani istrinya" ucap dokter.
"apa? kenapa?"
"Tuan, istri anda akan lebih nyaman dan bersemangat untuk melahirkan jika didampingi suami.." ujar dokter lembut.
"ck, cepatlah aku ikut masuk sekarang! jangan membuang-buang waktu lagi!" ucap Jimin.
ia ikut masuk keruang bersalin, Hyerin sama sekali tak melepaskan genggaman tangannya pada tangan Jimin.
"Jimin sakit..."
"tapi sakit sekali, Jimina... ugh"
perlahan tangan kekar itu menyentuh dahi Hyerin, mengelusnya dan tiba-tiba mengecupnya.
"lahirkan anak kita dengan selamat, ini hanya sebentar aku ada disini untuk menemanimu" bisik Jimin.
"baik, ibu tarik nafas dalam-dalam dan keluarkan lakukan secara berulang-ulang dan lakukan dengan tenang. dalam hitungan ketiga dorong pelan-pelan. kami membantu nyonya dari sini.. kita mulai"
"1..2...3..."
Hyerin sedikit mengejan mendorong sedikit lebih keras agar buah hati mereka segera hadir didunia.
"sedikit lagi, lakukan secara berulang-ulang" dokter terus memberi instruksi dengan tegas.
"kau pasti bisa.. lahirkan anak kita dengan baik" bisik Jimin terus mengelus kepala Hyerin.
"Jimin'aa.. sakit sekali.."
"kau bisa.. kau pasti bisaa, ayo lakukan bersama... genggam tanganku sekuat yang kau bisa, berjuang sedikit lebih keras demi anak kita Hyerin.. kau pasti bisa.."
"aku tidak kuat.. haaahh... Jimin'aa..." Hyerin mulai melemah, mulai tak mendengar ucapan dokter yang memberi instruksi.
dengan terpaksa Jimin menampar Hyerin cukup keras agar tetap sadar.
__ADS_1
"Hyerin!! bangun!!"
"nyonyaa sadarlah, sedikit lagi bayi anda akan lahir.." suster membantu menyadarkan Hyerin.
"dok bagaimana ini, sang bayi belum bisa keluar tapi ibunya sudah melemah" ucap suster.
"Hyerin! lahirkan anakku dengan baik!!!" Jimin menggenggam tangan Hyerin menggoyang pipinya dan membuatnya sedikit sadar.
"Hyerin berjuanglah sedikit lebih keras!!" tatapan Jimin membuat Hyerin takut, tatapan dingin dan kejamnya muncul disaat seperti ini. genggaman tangannya menjadi lebih kuat terhadap Hyerin.
"Dok.."
"tidak ada cara lain, apa kita harus lakukan operasi?" tanya suster pada dokter.
"ada masalah apa? kenapa bayinya belum keluar?! istriku sudah sampai seperti ini kenapa kalian diam saja!! apa mau membunuh orang ha!!!" ucap Jimin kesal.
"Tuan.. tenang kami akan terus berusaha agar persalinan lancar" ucap dokter.
"aku masih bisa, aku bisa melahirkan anakku.." Hyerin mulai lagi dengan nafas yang masih menderu.
"Jimin'aa.. tolong, tolong lihat anak kita.... aku akan berusaha keras untuk melahirkan dia.."
Hyerin melepaskan genggaman tangan Jimin dan memintanya untuk membantunya.
"tolong aku Park Jimin.."
sangat terlihat jelas dalam puppies matanya bahwa Jimin sangat kasihan pada Hyerin. ia menatap perut Hyerin dan sedikit darah yang terlihat. ia mengulurkan tangannya dan menyentuh perut Hyerin.
"Aegi sayang, ini ayah.. anak baik dan tangguh keluarlah dengan lembut dan manis, jangan membuat ibumu kesakitan atau ayah akan menghukum mu" ucapan Jimin mendapatkan respon besar dari sang bayi.
tak sampai 5 detik bayi yang tadinya sulit untuk dikeluarkan akhirnya dengan satu kali tarikan nafas Hyerin berhasil melahirkannya. tangisan bayi memecahkan suasana tegang diruang bersalin. dokter dan suster sangat senang akhirnya apa yang mereka pikirkan tidak akan terjadi. tadinya dokter akan melakukan operasi caesar jika bayi tetap tak bisa keluar.
"terimakasih.." ujar Hyerin tersenyum pada Jimin.
"terimakasih kembali" jawab Jimin.
"suatu saat, ketika dia sudah dewasa sepertinya dia akan lebih menuruti ucapan ayahnya.." Ucap Hyerin.
"kau harus mendidiknya sedikit lebih keras agar tidak lemah sepertimu. pewaris keluarga Park harus kuat dan tangguh" ucap Jimin.
"aku paham.."
Hyerin meraih jari kelingking Jimin dan ingin mengenggamnya. ini pertama kalinya Jimin tidak menepis dan tidak menolaknya.
tatapan mereka bertemu satu sama lain dan sulit mengartikan arti dari tatapan ini. Jimin mendekat mengelus kepala Hyerin dan mengecupnya.
"selamat, kau berhasil melahirkan bayi kita"
"terimakasih Jim.. terimakasih telah mengerti.."
__ADS_1