Promise

Promise
81


__ADS_3

"Devan? Apa yang kau lakukan? Apa salahku?" Teriak Lunar menggema di dalam gedung tua itu.


Devan tersenyum sinis melihat wajah lunar penuh dengan lebam dan kringat. "Berhenti berpura-pura Lunar! Itu membuatku jijik."


"Aku benar- benat tidak..."


Ucapan Lunar terpotong saat tangan kekarnya mencekik kuat leher Lunar, wajah gadis itu memerah dia buttuh oksigen.


Lunar memkul kuatt tangan Devan agar melepaskan cengkramannya. "Lllllllll... aaaa..."


Lunar mendingak dengan mata memerah saat Devan melepas cekramannya. Gadis itu tersenyum licik "Bagaiman keadaan istrumu Devano? Sial, padahal sedikit lagi aku membunuhnya. Kau hanya milikku Devano Andreas, gadis itu hanya gadis murahan yang mengincar hartamu tidak ada seorang pun didunia ini mencintaimu begitu tulus selain aku Vano. Selama ini aku memerhatikanmu terpuruk karena aku meninggalkanmu, aku bahagia tapi gadis jalang itu datang mengambilmu dariku. Jalan satu-satunya membuatmu mencintaiku lagi adalah melenyapkannya Vano tapi sial Arrian meminum obat itu."


Sorot mata Devan begitu tajam, matanya memerah menahan amarah. "Vano kembali lah bersama ku tinggalkan perempuan jalang itu."


Plak... Felix menampar kuat pipi Lunar hingga gadis itu tersungkur di atas tana.


"Kenapa bukan kamu yang menamparku sayang? Aku benar-benar rindu sentuhan mu." Ucap Lunar

__ADS_1


Devan menjongkok dengan tablet di tangannya. "Kau tau Lunar, aku adalah pria pendendam bukan hal susah melenyapkan mu. Tapi, permain tidak menarik jika aku langsung memecahkan kepalamu disini itu membosankan." Ucap Devan dengan nada tenang, jari telunjuk terus gencar mencari susatu yang menarik didalam sana.


Lunar membulatkan matanya saat bagan dana rahasia perusahaan ayahnya kini ada ditangan Devan.


Dalam sekejab wajah tenaang Lunar lenyap begitu saja, dia mulai panik memlihat semua yang ada dalam tab itu.


"Awalnya aku sangat penasaran darimana kalian mendapat dana begitu besar dalam pembangunan proyek pulau J sedang infestor kalian hanya membayar empat puluh persen dari kesepakatan. Hingga suatu hari aku berhasil membobol data base perusahaan mu dan sialnya begitu susah memecah sandinya." Devan berdiri membuat Lunar mendongak.


"Jadi aku memanfaatkan mu Lunar."


"Apa maksdumu?"


"Vano, jangan lakukan itu! Keluargaku akan hancur jika aku memberinya pada polisi. Bunuh saja aku Vano! Aku mohon." Suara Lunar mulai bergetar ketakutan. "Vano kumohon!"


Tanpa mengucap sepatah kata Devan menekan tombol ente**r pada tombol keyboard neet booknya file dana perusahaan milik ayah Lunar tersebar di internet.


Lunat membukatkan matanya geram. "Sialan kau Vano, kau akan menyesalinya "

__ADS_1


Tanpa diketahui Devan, Lunar telah memasang peledak di dalam tubuhnya. "Kita akan mati bersama di tempat terkutuk ini Devano." Belum sempat Felix merebut tombol peledak itu Lunar menekannya.


"Aku mencintai mu Devano."


Sebuah ledakan hebat terjadii di ujung kota. tidak ada yang tersisa hanya puing-puing bebatuan dari pabrik itu.


Heri dan Angga segera kelokasi kejadian berharap dia masih bisa menemukan putranya disana. Sedangkan Lily mendengar kabar itu terjatuh pingsan saat ini berada di rumah sakit.


"Bagaimana? apa diantara mayat itu ada mayat Devan?" Tanya Hendry pada pihak kepolisian yang bertugas.


"Maaf Tuan Heri kami tidak menemukan jasad Tuan Devan , menurut penyelidikan kami tubuhnya hangus terbakar hanya ada delapan korban yang bisa kami identifikasi saat ini."


Heri sudah tidak mampu menahan beban tubuhnya, Angga dengan siggap menahan tubuh yang sudah renta itu. Air mata Heri terjatuh begitu deras, dia sudah tidak bisa lagi membendungnya.


...****************...


Devano

__ADS_1



__ADS_2