Promise

Promise
87 (P4)


__ADS_3

Devan melihat ribuan bintang dilangit malam ini, matanya tertuju pada bintang yang peling terang, dia tersenyum tapi menteskan air mata. Sama halnya seperti malam sebelumnya dai seperti ini karena menahan rindu yang teramat pada seseorang.


Dia menghembuskan nafasnya berat, berusaha bengkit dari kursi roda yang selama ini membantunya.


Bruk...


Devan terjatuh sebelum dia memulai langkahnya.


"Ahhhkk..." Teriaknya frustasi"Aku tidak bisa menemui mu sayang jika keadaanku seperti ini."


"Devan, apa yang kau lakukan?" Tanya seorang wanita panik.


"Maria... Maria... Dimana kamu?" Teriaknya membuat seorang berpakaian perawat segera menghampirinya.


"Apa yang kau lakukan ha? Aku sudah katakan perlahan saja jangan memaksakan dirimu." Devan terdiam, mengalihkan pandangannya keluar jendela.


"Maria, aku membayarmu khusus tidak hanya untuk merawatnya saja. Bukannya kita sudah membicarakan ini sebelumnya?"


"Maafkan saya Nyonya Scarlite."


Gadis itu meninggalkan ruangan Devan begitu saja.


...***...


"Dimana Riana?" Tanya Momo pada beberapa staf yang masih sibuk menyiapkan segala keperluan fashion show untuk pagi nanti.

__ADS_1


"Dia menuju hotel tempatnya menginap Mo, dia melupakan salah satu gaun yang akan dia pamerkan nanti." Ucap Gauri.


Momo langsung meraih kunci motor diatas meja. "Teo, aku meminjam motormu." Pria itu mengacungkan jempol kearah Momo.


Momo segera berlari ke area parkir, dijam dini hari sangat susah mencari taksi. Untung saja dia pintar membawa sepeda motor.


Selang beberapa menit Riana tiba dia Aula pusat acara. "Dingin... Aku tidak suka cuaca dingin." Gerutunya


"Riana, kau tidak bertemu dengan Momo?" Ucap Gauri mengambil gaun yang bergelantungan di lengan Riana.


"Momo? Tidak, memang ada apa?"


"Aku tidak tau, dia sangat buru-buru tadi menyusulmu."


"Hmm... Lanjutkan kerjaan mu waktu kita sisa beberapa jam lagi Gauri.!" Gauri mengangguk meninggalkan RiNa seorang diri


Fashion show Riana impikan selama ini berjalan dengan lancar, tidak sedikit memuji rancangan busannya. Senyum terus terukir diwajah cantiknya.


"Tok.. Tok..." Riana berbalik kearah pintu. "Hay cantik selamat atas pertujukan mu hari ini." Ucap Zacky seraya melangkah kearah Riana.


"Terima kasih Zack. Bagaimana bisa kau disini?" Riana mengambil buket bunga mawar cukup besar dari tangan Zacky


"Apa lagi? Aku datang untuk menyaksikan pertunjukanmu." Ucapnya


"Sepertinya kau tidak melihat pertunjukan ku tadi?" Suara Riana seperti meledek.

__ADS_1


Zacky menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maafkan aku Riana, seorang gadis membuatku susah tadi makanya aku terlambat."


"Seorang gadis? Siapa dia? Apa dia cantik? Matanya seperti apa? Wah... Setauku gadis disini semua cantik-cantik. Apa kau tidak meminta nomornya?" Zacky menaikkan satu alisnya melihat Riana begitu cerewet hari ini.


"Kenapa kau diam?"


Baru saja Zacky ingin bersua, dobrakan pintu begitu keras membuat perhatian mereka tertuju pada pintu.


Riana mengerutkan alisnya bingung, menatap mata Momo begitu sembab. Riana makin heran saat Momo memeluknya begitu erat dan menangis kencang. Zacky yang tdinya duduk santai di sofa bergegas mendekat.


"Ada apa?" Tanya Zacky


Riana menggeleng tidak tau. "Mo, lo kenapa sih? Lo ada masalah atau ada yang ngejahatin lo?


Momo masih menangis dalam pulukan Riana. " Mo, please cerita sama gue lo kenapa? Jangan buat gue cemas Mo!"


"Ri. Devan. Ri..." Isak Momo berusaha mengatur nafasnya.


Riana membeku saat Momo mengucap nama yang selama ini dia Rindukan. Zacky kian menatap heran saat Riana ikut meneteskan air matanya.


"Zack... Maafin aku tapi bisa nggak tinggalin aku dan Momo!" Ucap Riana, bibirnya terasa kelu.


...****************...


Maaf banget baru UP... Author belakangan ini nggak enak badan... Makasih banget t

__ADS_1


atas dukungan kalian. Jangan lupa jaga kesehatan kalian semua.


__ADS_2