Promise

Promise
48


__ADS_3

*


Sudah kesekian kalinya Hendry melirik jam tangan Rolex Submariner seharga 97 juta yang melingkar dipergelangan tangannya.


"Lo kenapa Hend? Apa lo takut uang lo ngga cukup karena makan gua sama Momo sebanyak ini?"


Riana meletakkan sumpit yang sejak tadi bertengger di jari lentiknya.


"Bukan itu, bahkan kalau lo mau makan semua menu di resto ini duit gua ngga bakalan habis" Riana dan Momo memutar bola matanya, yaya itu tidak masalah bagi seorang Hendry pewaris tunggal salah satu firma hukum terbesar di kota ini.


"Terus apaan dong?" Timpal Momo.


"Gua ada audisi hari ini."


"Audisi? Lo ngga ada kapoknya ya masih ikut audisi, lo ngga inget tahun lalu? Lo kedapetan ikut audisi terus papa lo ngebekuin atm dan ngambil fasilitas yang lo punya. Ujung-ujungnya lo nyusain gua sama Riana. Sebulan Hen lo numoang idup kekita berdua." Tatapan Momo sekan ingin menerkam Hendry.


"Maka dari itu, gua ngajak kalian makan sebelum atm gua dibekuin lagi. Heheheh, kann kalau dibekuin gua bisa minta uang gua sama lo." Hendry menaik turunkan alisnya.


"Wah... Pantesan dia baik banget hari ini Mo"


"Hemm" Angguk Momo.


Disinilah Hendry, didepan empat juri dan beberapa peserta menunggu. Satu tarikan nafas membuatnya sedikit rileks, Hendry memulai menggesekkan biolanya hingga merangkai sebuah melodi klasik. Standing applause diberikan keempat juri didepan Hendry, tapi bukan itu menjadi perhatian Hendry melainkan kedua gadis yang sedang memegang baliho besar dibelakang sana.


"Hendry... Hendry... Hendry... Hendry..." Teriak kedua gadis itu


"Yeeaaa semangat Hendry. kamu pasti lolos." Teriak Momo. Tentu mengundang perhatian semua orang di aula itu.


Malu-maluin banget ya tu anak, emang mereka pikir ini konser dandutan apa?


"Sepertinya kau sudah memiliki fans tuan Hendry" Ucap Juri A.

__ADS_1


"Iya mereka memang sangat mengidolakan saya. Mereka teman baik saya"


"Waw... Kau memiliki dua teman cantik dan sangat peduli padamu. Ini tiket untuk audsi selanjutnya" Hendry melangkah maju mengambil tiketnya. "Jangan lupa traktir mereka makanan tuan Hendry" Hendry menganggukkan kepalanya, lalu mengangkat tiket itu agar kedua sahabatnya bisa melihat kalau kali ini dia berhasil.



*


Riana kembali kerumah suaminya, sungguh hari ini sangat melelahkan untuk Riana. Dia membaringkan tubuhnya diatas pembaringan super nyaman menurut versinya. Riana melirik hpnya ada beberapa panggilan tak terjawab dari Arrian. Riana menatap langit-langit kamar yang jaih diatasnya, seperti ada yang hilang semenjak Devan meninggalkan rumah.


"Wah, aku sudah merindukannya" Tutur Riana. Dia mencoba menghubungi Devam namun nomornya diluar jangkauan.


"Mungkin dia sedang sibuk."


Saking lelahnya, entah sejak kapan Riana berlayar ke dunia mimpi. Belum lama Riana tertidur seperti ada seseorang yang menggucang tubuhnya. Riana berusah mengumpulkan kesadarannya. didepannya sudah ada Kak Arrian, wajahnya menampakkan guratan kecemasan.


"Kak Ar. Kakak ngapain disini?" Ucap Riana kembali membaringakan tubuhnya setelah tadi Arrian memaksanya bangun.


Deg...


Berita yang Arrian bawa seperti guntur yang digerakkan badai. Andai dia beridiri mungkin gadis itu tersungkur bak dihantam halilintar.


"Saat ini aku dan Angga masih menunggu kabar selanjutnya dari pihak maskapai."


"Ar..." Angga mendekat ke arah mereka berdua, sangat jelas wajahnya menggambarkan kekawatiran. "Ar... Puing pesawatnya ditemukan."


Tutur Angga, Jantung Riana seakan berhenti berdetak sepertinya oksigen disektiranya telah habis. Air matanya sudah tak terbendung lagi lolos begitu saja dari pelupuk matanya.


"Kak Ar.." Lirihnya


"Kamu tunggu disini, aku dan Angga sendiri mengeceknya pada pihak maskapai." Batu saja Arrian melangkah tangan Riana menahannya.

__ADS_1


"Aku ikut kak."


"Ri, kamu tunggu dirumah aku tid..."


"Kak, dia suami aku kak. apapun berita yang aku dengar nanti aku siap ka, setidaknya biarkan aku berusaha mencari tau keadaannya kak" Arrian tak bisa mencegah Riana lagi.


Angga dan Arrian sedikit berlari memasuki lobi gedung serbah putih itu diikuti Riana dibelakangnya. Ternyata disana sudah ada puluhan keluarga korban yang menunggu kabar selanjutnya. Hati Riana seakan ter-iris, dia juga salah satu dari mereka yang berharap semua akan baik-baik saja.


Diriktur maskapai dan beberapa petinggi lainnya menyambut kedatangan Arrian.


"Selamat datang Mr. Arrian" Ucap Direktur maskpai seraya membungkukkan kepalanya


"Bagaimana? Apa kalian telah menemukan keberadaan adik iparku?"


"Maaf Mr. Arrian, untuk saat ini tim kami baru menemukan sepuluh korban dan itu bukan tuan Devano Andreas." Ucap pak Direktur.


Seketika persendian bagian bawah Riana melemas, gadis itu terduduk dengan buliran air mata yang sudah mengalir.


Arrian menjongkok menahan tubuh adiknya.


"Riana, semua akan baik-baik saja. Percaya sama kakak!" Arrian mencoba menenangkan adiknya. Riana mendongak menatap wajah Arrian penuh kesedihan. Sungguh hal ini paling dia benci melihat sang adik sedih seperti ini. Baru kali ini Arrian tidak bisa berbuat apa-apa hal ini diluar kesanggupannya.


"Kakak apapun yang terjadi kumohon bawa dia padaku, meski sumiku sudah tak bernyawa lagi! Kumohon kakak" Ucap Riana dalam isaknya. Arrian mendekap tubuh adiknya air matanya pun lolos begitu saja.


*


Riana menyandarkan dirinya didinding kamar gadis itu memeluk erat lututnya yan sudah basah dengan air mata. Secepat ini kah Tuhan mengambil Devan darinya? Baru saja kebahagiaan menyapa namun badai seketika menghempasnya begitu saja.


Larut dalam kesedihan Riana tertidur diatas lantai masih beersidekap dengan lututnya. Dia tertidur namun air matanya terus mengalir hawa dingim malam ini begitu menusuk sampai ketulang tapi, tubuhnya seakan tak merasakan apa-apa dia menangis hingga air matanya seakan kering.


......................

__ADS_1



__ADS_2