Promise

Promise
Promise Eps 23


__ADS_3

"Kita sudah melewati banyak hal sayang, ibu harap kau cepat besar agar kau tidak merasakan sakit saat ibu dipukul ayahmu. ibu tidak mau kau kesakitan. kau harus bertahan untuk beberapa bulan kedepan" ucap Hyerin.


hari semakin sore, sejak kejadian pagi tadi Hyerin tidak bertemu Jimin lagi dan ntah pergi kemana pria itu. ia hanya duduk di jendela kamar dan menatap keluar, tangan gemetarnya senantiasa mengelus perutnya. seluruh tubuhnya memar dan lebam. wajah cantiknya juga memiliki luka yang sama.


jika tidak memperdulikan kandungannya Hyerin tidak akan makan hari itu, buah dan cemilan tersedia disana. sesekali ia memakannya demi anak yang ia kandung.


"ini enak, kau suka? ibu akan makan lebih banyak".


tok tok


pintu terbuka dan bibi Jinna masuk dengan nampan makanan ditangannya.


"nyonya, makanlah.. aku membuatkan sup dan jamur untuk anda"


"terimakasih"


Hyerin langsung membenarkan duduknya dan makan. tiba-tiba ia terhenti dan menatap bibi Jinna.


"bibi.."


"iya Nyonya?"


"bulan depan aku akan pulang kekorea. apakah bibi ikut? atau tetap disini?" tanya Hyerin. tatapan matany sangat berharap bahwa Bibi Jinna bisa ikut ke Korea.


"nyonya... Tuan muda menyuruhku menjaga mansion ini dan tinggal disini. jika aku ikut kesana itu tidak mungkin" ucap Bibi Jinna.

__ADS_1


"sudah ku duga.."


Hyerin melanjutkan makannya tapi rasanya sangat sulit ditelan. Hyerin berharap bibi jinna bisa ikut, jika tidak ada orang lain diapartement, Hyerin akan kesepian. ia tak bisa melakukan banyak hal apalagi saat hamil besar. belum lagi jika Jimin memukulnya, Hyerin tak bisa meminta tolong pada siapapun.


"aku ingin anakku cepat lahir agar aku tidak kesepian, agar saat Jimin memukulku dia tak akan merasakan sakit dalam perutku. aku sangat takut jika dia terluka bahkan sebelum dia lahir" ucap Hyerin.


"nyonya, aku yakin anda akan baik-baik saja, Tuan muda kecil juga akan baik-baik saja" ucap Bibi jinna menenangkan.


"Jimin, dia dimana?"


"Tuan muda diruang baca, ia sedang menenangkan diri dengan membaca buku"


"suatu saat jika bayiku lahir, aku tidak akan merasa kesepian lagi"


bibi Jinna terlihat iba pada majikannya ini tubuhnya yang penuh luka membuat bib Jinna teringat masa lalunya.


BRUAK!!


pintu terbuka dengan kasar. Jimin masuk kedalam dan tiba-tiba memukul Hyerin dengan keras hingga ia terjatuh dari kursinya.


"J-jimin..."


"bagus sekali kau duduk dan makan dengan santai disini. apa kau tuli?! ha?!" Jimin membentak Hyerin dan langsung menamparnya berkali-kali.


"aku memanggilmu sampai tenggorokanku kering dan kau hanya duduk disini sambil menikmati makanan?!! bagus sekali!!"

__ADS_1


wajahnya memerah dan matanya sangat tajam. Jimin mengambil buku tebal diatas meja Hyerin dan melemparnya pada sang istri.


Bibi jinna ingin melindungi Hyerin tapi Jems menariknya untuk menjauh.


"jika bibi terluka tak akan ada yang mengurus kau dan Nyonya nantinya.." ucap Jems.


"jadi maksudmu aku harus membiarkan Nyonya terluka begitu? dia sedang hamil Jems" bantah bibi jinna tak terima.


"kita semua tau jika nyonya hamil, tapi dengan sekali pukulan kau akan pingsan Bi, Jika kau terluka maka tidak akan ada yang mengurus nyonya saat dia terluka" jelas Jems.


bibi Jinna mengerti maksudnya dan menurut. tapi ia benar-benar tak bisa terus-terusan hanya melihat Hyerin tersakiti. bayangan kelam yang gelap yang pernah dialami Bibi Jinna seakan terjadi lagi.


"Jimin.. m-maafkan aku, a-aku benar-benar tidak tau" ucap Hyerin gemetar.


"kau sengaja kan?!" ucap Jimin kesal.


"t-tidak Jim tidak.. a-aku tidak sengaja demi apapun aku tidak sengaja tolong maafkan aku, m-maafkan aku maaf"


tubuhnya semakin gemetar, Hyerin berlutut dengan tumpuan kaki yang gemetaran. ia menyatukan kedua tangannya memohon pada sang suami agar berhenti memukulnya.


"sekali lagi jika hal ini terulang, kau akan tau akibatnya" ucap Jimin.


"i-iyaa iyaa.. tidak akan lagi, aku janji.. t-terimakasih.."


"ikut aku sekarang!!"

__ADS_1


Jimin menarik Hyerin untuk ikut bersama dan membawa Hyerin kekamarnya. jujur saja Hyerin takut jika suaminya itu menyiksanya lebih kejam saat setelah sampai dikamar. dengan langkah yang sedikit susah Hyerin mencoba menyeimbangi langkah Jimin.


__ADS_2