Promise

Promise
39


__ADS_3

Riana menghempaskan tubuhnya diatas pembaringan tubuh seakan remuk setelah seharian menemani mama mertuanya belanja walau barang itu semua milik. "Ahh... Nyamannya kalau lagi rebahan" Ucap Riana. Baru saja gadis itu ingin memejamkan mata namun gagal.


Prang... Suara kaca pecah terdengar dari arah luar, Riana melirik jam didinding pukul 09.00 malam. Apa Devan? Tapi tadi suaminya mengirim pesan karena ada pertemuan dengan rekan bisnisnya.


Dengan seluruh keberanian yang Riana miliki, gadis itu beranjak dari tempat tidur sangat hati-hati dia membuka pintu kanarnya. Gelap, perasaan Riana tidak mematikan lampunya tadi. Jari lentiknya meraih Vas bunga diatas meja sebagai senjata.


Benar saja di ruang tamunya ada seseorang berapakaian serbah hitam memakai topeng baru saja. Sungguh Riana bingun harus berbuat apa? Dia meraih ponsel di sakuna, saat in jantung gadis itu berdegub kencang bahkan dia tida bisa bernafas dengan baik.


📞 Halo kenapa Ri...?


Ucap Devan melalui sambungan telpon.


"Aaaa..." Pekik Riana sontak membuat Devan menepikan mobilnya.


📞 Halo Ri...? Kamu kenapa? Ri...!


Devan menginjak pedal gas kecepatan penuh, rahangnya mengeras, manik abunya menajam menahan amarah disana. Jika sesuatu terjadi pada wanitanya dia akan menghacurkan orang itu sampai kelembuluh darah.


Sedangkan di apartemen Devan, Riana tidak bisa melakukan apa-apa selain pasrah, sekali saja dia bergerak lehernya akan robek oleh pisau yang ditodongkan si penjahat.


"Ambil semua berharang berharga di rumah ini!" Perintah pria yang menodongkan pisau keleher Riana, sedangkan rekannya sibuk mengobrak abrik seluruh isi apartemen.


"Kalian boleh mengambil apa saja dirumah ini tapi kumohon jauhkan pisau ini?" Ucap Riana. Entah dari mana keberaniannya itu, setidaknya dia bisa mengulur waktu sampai Devan tiba atau ada celah agar dia bisa kabur dari kedua pencuri ini

__ADS_1


"Diam!" Bentak si-pencuri A. "Sekali lagi kamu bicara pisau ini akan merobek kulit lehermu"


Seketika Riana membatu, keberaniannya kini hilang.


Brak... Devan mendobrak pintu apartemennya, tatapannya hanya tertuju pada Riana yang sudah berurai air mata. Devan mengepalkan tangannya menahan amarah saat melihat leher Riana tergores.


"Jangan mendekat atau aku akan memutuska urat leher gadis ini" Ancam si-pencuri yang sejak tadi mencengkram. Riana dapat merasakan jika pria di belakangnya ini gemetar ketakutan.


Kecepatan tangan Devan tidak diragukan lagi, entah sejak kapan dia meraih asbak dan Brukk... Devan melempar kewajah si pencuri. Kesempatan untuk kabur Riana tidak sia-siakan kini Riana mendekap erat tubuh kekar Devan tangisnya dia tumpahkan sampai kemeja putih pria itu basah.



"Tidak apa, aku disini sekarang" Bisik Devan. Kini tatapan tajamnya menatap kedua pria yang berani sekali menyentuh miliknya.


Perkelahian tak bisa dihindari lagi Devan menyerang kedua pria yang berani sekali ber-urusan dengannya.


Riana masih ketakutan wajahnya terus menunduk menahan tangisnya. Tak ada percakapan diantara mereka Devan sangat serius membersihkan luka istrinya untung saja hanya goresan jadi Riana tidak perlu ke rumah sakit.


"Selesai" Ucap Devan seraya mendongak menatap wajah istrinya yang sudah berlinang air mata.


"Uaaa..." Tangis Riana pecah dia menatap wajah Devan yang terlihat kaget.


Disaat seperti ini bukannya iba Devan malah menahan tawanya "Sudah aku disini sekarang aku tidak akan meninggalkan mu lagi."

__ADS_1


"Apa kak Devan tidak melihat nya tadi ? Pria itu hampir membunuhku sedikit saja aku bergerak pisau itu sudah merobek lehereku. Hiksss... Hiksss... Aku pikir hari ini aku akan mati dan tidak akan melihatmu lagi" Ucap Riana yang masik terisak.


Devan menatap senduh wajah cantik istrinya rasa penyesalan terbesit jauh di relung hatinya. Andai dia tidak cepat datang entah apa yang kedua pria itu lakukan pada istrinya. Devan menarik Riana kedalam dekapannya.


"Maafkan aku" Ucapnya "Maafkan aku tidak bisa menjagamu dengan baik" sambungnya. Riana membalas pelukan yang terasa nyaman dan hangat.


"Apa mereka melakukan sesuatu padamu?"


"Tidak, mereka hanya menodongkan pisau dan terus berteriak padaku." Ucap Riana seraya melepaskan pelukannya.


"Andai tadi pisau itu tidak dileherku, aku akan membalas teriakan mereka jauh lebih keras lagi." Ucap Riana. Mendengar itu Devan menahan tawanya, ada apa dengan istrinya ini ? Tadi tangisannya hampir mambangunkan penghuni apartemen ini dan sekarang malah bercanada.


"Kau, masih sempatnya bercanda setelah membuat ku hampir tidak bernafas tadi?" Ucap Devan kesal.


"Untung Tuhan menciptakan kata 'hampir' hingga kakak masih bernafas dan menolongku tadi. Terim..."


Cup.. Devan mencium bibir istrinya kali ini hanya kecupan biasa.


"Berhenti mengucapkan terima kasih, sudah kewajibanku melindungimu Riana, kau istriku" Ucap Devan dengan suara beratnya.


"Malam ini kita tidur dirumah mama. Besok aku akan memperbaiki semua keamanan disini."


Devan kembali menarik tubuh Riana kedalam pelukannya, rasa bersalah terbesit di hatinya.

__ADS_1


Maafkan aku tidak bisa menjagamu Riana, aku janji hari ini tidak akan terulang lagi.


......................


__ADS_2