Promise

Promise
69


__ADS_3

"Ini demi lo gua nunda keberangkatan gua ke negara K. Ri, lo tau kan ini pertama kalinya gua menang tiket fansing BTS setelah tuju purnama." Gerutu Momo sepanjang koridor rumah sakit


"Ya kan fansing-nya lusa Mo."


"Hey gua mau perawatan dulu sebelum ketemu mereka. Enak aja gua kucel kaya babu malu lah. Lagian lo ngajakin gua check up ginian, kenapa nggak sama suami lo sih."


"Gua nggak mau Devan kecewa sama hasilnya Mo, selama ini dia selalu berharap gua hamil." Momo tersenyum sambil merangkul Riana agar sahabatnya terhibur.


"Gua yakin kali ini gol" Ucapnya semangat membuat kedua gadian itu menjadi pust perhatian. "Come baby, selesaikan misi ini lalu gua menemuin belahan jiwa gua."


"Gua yakin lo bakal jadi perawan tua kalau gini terus." Riana mempercepat langkahnya menginggalkan Momo dibelakang.


"Ihh gua nggak bakal jadi perawan tua, tau rasa kalu gua jadi ipar lo nanti."


"Ogah"


*


Riana masih menunggu hasil tesnya dengan debaran jantung hampir meledak, sesekali dia menghembuskannya nafasannya gusar. Momo menahan senyumnya ini pertama kaliny dia melihat Riana se-gelisa ini.


Seorang perawat yang mengambil urine-nya tadi mempersilahkan Riana kembali masuk ke ruangan dokter. Sekilas dia melirik Momo meminta dukungan


"Udah, semua akan baik-baik aja."


Pelan Riana duduk didepan dokter yang menanganinya. Dokter itu tersenyum kecil menyambutnya.


"Selamat bu Riana." Ucap dokter Hermawan membuart Riana terheran.


"Selamat?"

__ADS_1


"Iya bu Riana, berdasarkan pemeriksaan hari ini ibu positif hamil."


Riana sejekan terdiam memastikan jika ini benar-benar nyata. "Saya hamil, Dok?" Ucapnya ragu, air matanya jatuh tanpa permisi, sekali lagi jantungnya berdetak kencang.


Dokter Hermawan mengangguk "Benar bu Riana, anda saat ini sedang mengandung empat minggu. Selamat ya bu, jadi saya harap ibu menjaga kesehatan jangan terlalu letih dan stres!"


Momo menyambut Riana yang baru saja keluar, gadis itu masih menangis. "Sabar Ri, mungkin belum rezeki lo" Ucapnya berusaha mengibur Riana dengan pelukannya.


"Mo... Gua positif"


"Iya, sabar Ri gua yakin Tuhan punya rencana untuk lo dengan Devan." Momo masih belum menyadari ucapan Riana.


"Mo.. Gua positif hamil Mo." Riana mencengkram kuat bahu gadis berambut pendek yang membuat telinganya panas.


"Ah? Seriu lo hamil?" Riana mengangguk "Ahh. Di dalam sini ada ponakan gua?"


"Iya Mo, gua hamil."


"Bentar gua telpon Si Hend dulu pasti dia seneng banget."


Raut wajah Riana seketika berubah. "Mo.." Lirih Riana. "Hendri udah nggak ada Mo"


"Lo benner Ri, dia undah nggak ada." Air mata kedua gadia itu kembali tumpah "Tapi rasanya dia masih ada di sekitar kita Ri." Riana mengangguk pelan


"Udah kita nggak udah sedih-sedihan gini, di atas sana pasti dia juga senneng akhirnya lo bahagia , kebayang nggak siih dia bakal lompat-lompat nggak jelas didepan kita."


"Hemm, dia selalu gitu kalau lagi senneng"


"Oh, iya Ri lo udah ngabarin suami lo nggak, soal kabar bahagia ini?"

__ADS_1


"Belum Mo, ntar gua bikin suprise untuk dia"


"Hmm..." Angguknya mengerti "Kalau aban Ar udah? Pasti dia senneng banget bentar lagi jadi om."


Mendengar nama kakaknya Riana langsung mencegat tangan Momo.


"Kenapa?"


"Mo, udah beberapa bulan ini gua nggak tau kak Ar dimana."


"Hemm? Maksud lo?"


Riana menuntun Momo untuk duduk di kursi taman Rumah sakit. "Iya Mi, setiap kali gua hubungin nomornya nggak pernah kejawab."


"Lo udah tanya Devan, soal abag Ar?"


"Udah Mo, Devan selalu jawab kalau dia mungkin sibuk."


"Ya kali dia sibuk Ri."


"Ihh Momo dengerin gua dulu.! Sesibuk apapun kak Ar dia pasti ngehubungin gua Mo. Semenjak gua nikah dia benar-benar ilang tau nggak."


Momo menggenggam kuat tangan Riana sebagai obat penenang gadis itu


"Ri, lo nggak usah pijir yang aneh-aneh!" Momo mengelus lembut perut Riana yang masih rata. "Ada kehidupan baru didalam sini yang harus lo lindungin. Setau gua orang hamil tu nggak boleh stres Ri."


Riana menghembuskan nafasnya panjang.


"Gua yakin abang Ar, baik-baik aja" Seutas senyum penuh kelegaan mengambang diawah Riana, sejenak dia hampir lupa jika saat ini ada segumpal darah yang hidup didalam tubuhnya.

__ADS_1


......................


__ADS_2