Promise

Promise
74


__ADS_3

Devan terpaksa harus bangun dari tidurnya karena mendengar kegaduhan didalam kamarnya. Siapa lagi kalai bukan Riana pelakunya, dia mengetuk pintu berulang kali namun tidak ada jawaban. Kenapa juga dia membuang waktu mengetuk pintu sedang dibalik kamar mandi itu adalah istrinya. Karena kekawatiran yang tak menenutu tanpa pikir lagi Devan membukanya.


"Sayang, kamu kenapa?" Devan begitu khawatir saat mendapati Riana duduk lemas bersadar pada buthup, wajahnya pucat, tubuhnya lemas sudah tak bertenaga lagi.


Tapi itu tidak berlangsung lama saat Riana kembali berdiri didepan wastafel menumpahkan semua isi perutnya tanpa sisa.


Tanpa bertanya lagi Devan langsung menggedong Riana yang sudah lemas tak bertenaga, pikirannya hanya berpusat pada calon bayinya.


"Kita mau kemana Van?" Tanya Riana lemas


"Rumah sakit sayang, sebentar lagi kita sampai. Kamu sabar ya!"


Kini mereka berdua berada di rumah sakit, sialnya ahli kandungan rumah sakit ini sedang mengoprasi pasien lain. Karena sudah tidak kuat lagi menahan beban tubuhnya, Riana memilih tidur di pangkuan Devan.


Sedikit lagi Devan akan menghancurkan rumah sakit ini membuatnya menunggu selama sejam. Untung saja suster langsung memanggilnya masuk.


Begitu memasuki ruangan konsul, dokter didalam sana menyambutnya dengan senyum bersahabat ke arah Devan. Lain halnya Devan, dia malah membalas dengan tatapan ingin mencengkram.


"Devan. Kau Devano Andreas kan?" Tanyanya


Devan masih menatap datar, tapi didalam benaknya dia terus mengingat siapa pria didepannya ini.


"Ahh??? Jordan, bagaimana bisah?"


"Yah, apa yang tidak mungkin didunia ini Devan.?"

__ADS_1


Jordan melirik Riana sesaat, seakan menilai lalu kembali menatap Devan. "Wah, hebat juga lo mencari istri Van, Cantik amat. Masih ada nggak cewek secantik dia kenalin sama gua donk, kasian gua udah hampir jadi bujang lapuk."


Riana berusaha menahan tawanya. "Iya dia istri gua, urusan cewek bisa diatur. Sekarang periksa dulu keadaan istri dan calon anak gua." Ucap Devan langsung ke intinya, dia takut jika meladeni cerita Jordan itu tidak akan selesai seharian.


Jordan langsung memeriksa keadaan Riana, kemudian menjelaskannya pada Devan jika keadaan Riana ini sangat wajar pada trismeter pertama bagi ibu hamil.


"Ibu Riana, saya akan menresepkan obat agar mual anda berkurang. Tidak ada perlu dikhawatirkan janin anda baik-baik saja." Riana menghelai nafas legah.


"Kalau ibu tidak memeliki alergi dengan susu baiknya anda mengkomsumsinya, perbanyak makan buah ya itu sangat baik untuk perkembangan janin." Riana mengangguk kecil dengan senyum diwajah.


"Dan untuk Devan, lo harus peka dengan keadaan istri lo untuk saat ini janinnya masih rentang keguguran jangan


buaat dia kecapeaam, sters atau semacamnya yang buat dia lelah, lo juga jangan fokus kerja terus sayang-sayang sama istri lo. Tau lo udah buat kebaikan apa sih di kehidupan sebelumnya sampai dapat istri secantik ini?" Devan mengangguk mengerti.


"Sayang, kamu baik-baik saja kan? Apa kau ingin sesuatu?"


Riana melirik Devan seakan menahan sesuatu, dia peka langsung menepikan mobilnya . Belum juga Riana sempat membuka pintu muntahnya kembali tumpah. Tanpa disuruh Devan memijat tekut Riana dengan lembut.


"Maaf kan aku mengotori mobil mu" Ucap Riana penuh rasa bersalahn


"Husss... Jangan minta maaf Riana, ini bukan kemauan mu sayang" Devan menyentuh lembut perut rata Istrinya "Tapi kemauan anak kita. Jadi berhenti menyalahkan dirimu ini hanya hal kecil sedang kau memberiku sesuatu yang sangat berharga."


Seutas senyum Riana mengambang diwajah pucatnya.


"Nggak papa kan kalau kita istrihat sebentar didepan sana sekalian bersiin mobil." Riana mengangguk kecil, entah dia juga sangat ingin makan sesuatu yang manis-manis.

__ADS_1


Sepertinya Devan memulai perannya menjadi suami siaga, pria bertubuh jakung itu dengan setia menunggu Riana didepan toilet. Tidak sedikit memandangnya dengan tatapan kagum, siapa gerangan yang berani membuat pria tampan ini berdiiri dideoan toilat dengan tas handbag di lehernya?


"Udah?" Riana mengangguk


"Ahh... Aku ingi membeli sesuatu yank, boleh?


" Apa sih yang nggak buat calon ibu dari anak-anakku?"


"Gombal." Ucapanya dengan nada meledek.


Mata Riana berbinar melihat setumpuk coklat yang sengaja di susun rapi berbentuk piramida, seketika mual dan pusingnya entah pergi kemana.


"Nona Riana?"


Riana langsung berbalik saat namanya dipanggil. " Alia kan? Adiknya pak Adam?" Ucap Riana meyakinkan.


"Ahh.. Saya pikir Nona Riana melupakanku. Hampir tiga tahun kita tidak bertemu."


"Bagaiman bisa aku melupaknamu? Kau teman baikku. Bagaimana keadaanmu?"


"Semua berkat Nona Riana sa..."


"Berhenti memanggilku dengan sebutan Nona!" Potong Riana. Saking asiknya berbincang dengan Alia Riana bahkan tidak sadar saat ini Devan berada dibelakangnya.


"Sayang..."

__ADS_1


__ADS_2