Promise

Promise
Promise Eps 36


__ADS_3

malam harinya.


"nyonya.. makanlah sedikit jika tidak asi anda tidak akan keluar" ucap Bibi Kim.


"bibi, aku tidak lapar..."


bibi Kim menghela nafas dan meletakan makanan diatas meja. ia menatap Hyerin yang terus menangis dalam diam. sudah ribuan kali tangannya mengusap air mata. ia menghibur dirinya dengan bermain dengan putra kecilnya.


"ohh.. anak ibu tersenyum yaa,, kenapa? kau senang?' ucap Hyerin mengelus tangan mungil itu.


cup,


"cepatlah dewasa Jian.." gumam Hyerin sembari menciumi Jian.


Jimin duduk disana dengan ponsel ditangannya, sesekali melirik Hyerin yang mengusap air matanya. tak ada reaksi apapun saat melihat Hyerin tak ingin makan.


"Hyerin.." panggil Jimin tiba-tiba


"iya Jim?"


"makan makananmu sekarang" ucapnya datar tanpa menoleh ataupun melihat Hyerin.


"tapi aku tidak lapar.." jawab Hyerin lirih.


brak!


Jimin melempar ponselnya kearah brankar Hyerin.


"aku bilang makan itu artinya kau harus makan! jika membantah maka aku akan membuatmu berfikir 1000 kali untuk membantahku!" ucapnya.


Hyerin terdiam, matanya menghitam dan tatapannya sendu ia menatap Jimin penuh kelembutan tapi,


"Jimin.. apa kau tidak mencintaiku?" tanya Hyerin tiba-tiba.


"tidak sama sekali!" jawaban Jimin membuat Hyerin terdiam sejenak.


"apa kau tidak keberatan kalau hanya aku yang mencintaimu?" tanya Hyerin lagi.


"makan makananmu sekarang! tidak perlu bertanya hal-hal yang akan membuatku menghajarmu!" ucap Jimin mengambil ponselnya yang diberikan oleh Jems.


Hyerin terdiam, ia menatap bibi Kim yang mengangguk kecil sambil menyodorkan satu suapan. perlahan Hyerin membuka mulutnya dan memakan makanannya. sesekali Jian menggeliat digendongannya membuat Hyerin tersenyum kecil.


"bibi, Jian pasti lelah di gendong. letakkan saja di box bayi" ucap Hyerin.


"oh? baik Nyonya"

__ADS_1


baru saja diletakkan Jian kembali menangis membuat Jimin kembali menoleh menatap Hyerin diatas tempat tidur.


"bibi, apakah dia haus? dia lapar sepertinya" ucap Hyerin.


"kalau begitu bibi akan ambilkan asi yang sudah di pompa tadi, Nyonya tunggulah disini bibi akan segera kembali" ucap Bibi Kim.


"iya Bi cepatlah"


Hyerin akan turun dari ranjangnya tapi tiba-tiba Jimin berdiri dan menggendong Jian. seketika bayi ini berhenti menangis dan menghadapkan wajahnya ke arah wajah Jimin. matanya yang sipit perlahan terbuka dan tersenyum kecil pada sang ayah.


"kau membuat keributan, diamlah" ucap Jimin membuat Jian semakin tersenyum.


"hei hei hei, jangan tersenyum" Jian menatap Jimin tanpa berkedip. bayi mungil ini berusaha meraih wajah ayahnya yang ia tatap itu.


Hyerin terdiam mematung melihat reaksi Jian ditangan Jimin. sepertinya dia bukan haus ataupun lapar, tapi dia sedang mencari perhatian ayahnya.


"apa yang kau inginkan? mencakar wajahku?" ucap Jimin mendekatkan wajahnya ke tangan Jian.


bibi Kim yang baru saja masuk dengan membawa asi dikejutkan dengan apa yang ia lihat didepan matanya. Jian tertawa girang dalam pelukan Jimin yang seketika membuat bibi Kim ikut tersenyum.


"berhenti tersenyum, susumu sudah datang ayo minum bersama bibi Kim" Jimin memberikan Jian pada bibi Kim untuk di susui tapi tiba-tiba ia menangis keras membuat Jimin membolakan matanya kaget.


"dia terlalu lapar" ucap Jimin.


"Tuan muda, sepertinya Jian tidak mau minum susu denganku. boleh anda membantunya?" Ucap Bibi Kim hati-hati.


"hemm berikan"


Jimin kembali menggendong Jian dan perlahan menyodorkan botol susu itu pada Jian. ia menerimanya dengan baik dan langsung meminumnya.


"baiklah, jadi kau pikir aku adalah pembantumu?" ucap Jimin menatap Jian garang. hal ini tak membuat bayi kecil ini takut dan justru tertawa terbahak-bahak.


"Jimin.. Jian sedang ingin bermanja dengan ayahnya.." ucap Hyerin lirih membuat Jimin menoleh tajam kearahnya dengan tatapan benci yang mendalam.


"aku tak pernah menginginkan seorang anak yang dilahirkan olehmu! tapi Jian adalah kesalahan yang aku buat, darahku mengalir dalam tubuhnya. dia adalah putraku satu-satunya saat ini, dan kau jangan pernah berfikir bahwa aku akan mencintaimu hanya karena hadirnya Jian" ucapnya.


Hyerin mengangguk kecil dan tersenyum pahit. Jimin membelakangi nya dan masih sambil membantu Jian meminum susunya. tak lama dan hampir 30 menitan Jian tertidur. ia meletakan bayi mungil itu di box dan menatap Hyerin yang tak melepaskan pandangannya dari Jian.


"apa yang kau lihat? sudah jam berapa ini? kenapa masih melamun" ucapan Jimin membuat Hyerin agak kaget dan menatapnya.


"ahh itu, aku akan tidur sebentar lagi, hanya memastikan Jian sudah benar-benar tidur dan tidak menangis lagi. takutnya dia akan mencari perhatianmu dan menangis lagi" ucap Hyerin lirih.


"tidurlah, urusan Jian biar aku saja" ketus Jimin sambil memainkan ponselnya kembali.


"baiklah, terimakasih Jim" Hyerin mengatur posisi tidurnya dan bersiap untuk memejamkan matanya.

__ADS_1


Hyerin membelakangi Jimin dan mulai terpejam, belum sampai beberapa detik ada sesuatu yang panas terasa ditelinganya. mata yang tadinya terpejam kini terbuka dan melihat bayangan seseorang didekatnya.


"kenapa belum tidur" bisiknya lembut.


Hyerin merinding dengan suara berat Jimin yang terdengar begitu jelas ditelinganya dan membuatnya terkejut bukan kepalang.


"a-aku tidur, aku akan tidur" Hyerin memaksakan mata terpejam.


"Hyerin.. hidup denganku, selamanya kau tidak akan pernah bisa bahagia",bisik Jimin kembali kemudian menjauh dari Hyerin.


Wanita ini meremas erat selimut yang menutupi tubuhnya, jantungnya berdetak dengan cepat dan tiba-tiba saja air matanya mengalir dengan deras. Isak tangisnya mulai terdengar tapi ia menutup rapat mulutnya dengan kedua tangannya. sesak dan gemetar, Jimin tau bahwa Hyerin sedang menangis tapi ia sama sekali tidak peduli.


*


*


"Nyonya Park sudah bisa pulang hari ini, tolong untuk dikontrol makanannya dan selalu minum vitaminnya" ucap dokter.


"baik dok"


"dan yaa, karena Nyonya dalam masa menyusui aku menyarankan untuk tidak stress dan terlalu banyak beban pikiran. itu semua berpengaruh besar pada bayi anda. apalagi, Tuan kecil ini masih sangat muda" ucap Dokter lagi.


"baik dok, kedepannya akan diperhatikan terimakasih banyak"


bibi Kim membantu membawa barang-barang Hyerin untuk segera pulang kerumah. hari ini Jimin ada rapat dengan klien besar dari Chicago jadi pagi-pagi sekali ia pulang kerumah dan langsung pergi kekantor bersama Jems. hanya Jeremy dan bibi Kim yang membantu Hyerin.


"kita pulang sayang..." ucap Hyerin lembut.


tatapannya tak pernah lepas dari bayi kecilnya itu, selaku ditatap dan dibelai dengan lembut. sesekali ntah kenapa air matanya jatuh begitu saja. Hyerin selaku terbayang-bayang dengan semua yang terjadi dengannya. semuanya berubah dalam satu detik yang langsung merubah hidupnya menjadi 99% berubah drastis.


setelah sampai dirumah mewah itu, Hyerin disambut oleh ibu mertuanya yang sangat bahagia. ia tak tau kejadian yang menimpa menantunya akibat ulah anaknya. yang ia tau Hyerin kekurangan darah saat setelah melahirkan dengan kondisi lemah. selama ini ibu Jimin juga tidak menjenguknya karena Jimin menghalanginya.


"owhh cucu dan menantuku sudah pulang. ayo berikan Jian padaku" ucapnya langsung mengambil Jian dari tangan Hyerin.


"ibu dan ayah kenapa, kalian ada disini?" tanya Hyerin.


"ahh itu, Jimin bilang kau keluar dari rumah sakit setelah dari arisan aku langsung mampir aku pikir kau sudah dirumah ternyata penjaga bilang kau sedang diperjalanan jadi aku tunggu saja" ucapnya sembari bermain dengan Jian.


"benar Hyerin, Jimin bilang kau akan pulang hari ini, bahkan dia selalu melarang kami menjengukmu dirumah sakit" timpal ayah mertua Hyerin.


Hyerin hanya membalas dengan senyuman dan lagi-lagi menjawab dia baik-baik saja.


"baaa.. cucuku sangat pintar, baru berusia beberapa Minggu sudah bisa tersenyum. manis sekali, kau persis seperti ayahmu Jian. semoga tidak keras kepala sepertinya juga" ucapnya pada Jian.


"rasanya seperti melihat Jimin mini" Ucap ayah mertuamu.

__ADS_1


__ADS_2