Promise

Promise
55


__ADS_3

"Tas itu boleh Nona ambil atau anda buang saya sudah membayarnya." Ucap Riana setelah menerima kembali kartu atmmya.


Riana ingin melangkah pergi namun terhenti takkala Lunar manahan pergelangan tangannya.


"Kau pikir aku tidak mampu, membeli tas seperti itu?"


"Kalau begitu buang saja"


"Kau..." Lunar mengeram


"Kenapa? Seharusnya ini belum selesai" Riana, dia marah "Kau, sudah memukul temanku, kau merendahkan harga dirinya didepan orang hanya karena sebuah tas. Apa orang tuamu tidak mengajarkan sopan santun ha? Memang sekaya apa dirimu sehingga seenaknya seperti ini?"


"KAU..?"


"Ha... Melihat penampilan mu Nona kau gadis terpandang dan tepelajar tapi kalakuan mu tidak mencerminkan semua itu."


Lunar meradang sudah cukup dia depermalukan oleh Riana dan sekarang gadis itu juga menginjak harga dirinya. Lunar mengangkat tangannya ingin mendaratkan tamparan ke pipi Riana, namun tangan kekar menahannya. Riana yang sudah siap dengan tamparan itu hanya bisa menutup matanya.


"Devano?." Lirih Lunar. Riana membuka matanya menatap kearah suaminya. Para pegawai disana serentak menunduk hormat kepada sang pemilik mall terbesar di kota ini


"Vano, kau menyakitiku" Lunar, meringis kesakitan cengkraman Devan seakan mematahkan tulang tangannya.


Devan menatap lekat wajah Lunar, wanita yang dulunya dia cintai pergi membawa sepotong hati Devan yang telah usang . Bertahun-tahun hidup dengan luka dan menunggu sesuatu tanpa kepastian dan apa ini dia kembali setalah sekian lama Devan menanti.


Resah apa ini yang bergelut disukama Riana? Tatapan gadis itu terus mengunci Devan tengah menatap tajam gadis didepannya.


'Gadis itu kembali'


"Vano, hay apa kabar? Aku kembali, maafkan aku Vano...!


Lunar menyentuh lengan Devan.


'Pada akhirnya dia memilih cinta peratama nya. Ya aku hanya orang asing disini.'


Diluar dugaan Devan berbalik kearah gadis yang telah membuatnya jatuh cinta. Kasar, dia membuka jas yang telah Lunar sentuh lalu membuangnya ketempat sampah. Riana dibuat kesal bagaimana bisa pria ini membuka jasnya hingga di tempat umum seperti ini? Menampakkan kemeja yang hampir robek karena otot-otot itu? Itu hanya milik Riana.


"Sayang, kau tidak apa? Apa mereka menyakitimu?" Ucap Devan lembut, tangannya mengelus lembut pipi mulus istrinya.


"Kenapa mambuka jasmu?" Bisik Riana? Bahkan jawabnnya tidak kontraks dengan pertanyaa Devan.


"Aku hanya membuang sampah sayang"

__ADS_1


Mereka berdua berdebat hingga melupakan apa yang barusan terjadi.


"Selamat datang Tuan, maaf atas kekacauan ini" Ucap sang manager yang sejak tadi ikut merendahkan Riana.


"Felix, bersihkan sampah ini dari hadapan ku, jangan biarkan mereka menginjakkan di semua mall ku yang ada di negara ini."


Mendengar itu sang menager kegagalapan dan masih tidak mengerti dengan situasinya saat ini.


"Tapi Tuan, apa salah kami?Maafkan saya atas kekacauan ini, saya janji ini tidak akan terjadi lagi." Sang manager itu kini bersimpuh dihadaan Devan


"Aku tidak perduli dengan kekacauan ini, hanya saja kalian membuat istriku menangis. Setetas air matanya keluar itu sama saja kau menentang Devano Andreas.." Tegas Devan. "Gadis yang kalian rendahkan adalah istriku, Riana Andreas."


Lunar tersentak kaget mendengar pengakuan mantan kekasihnya. Bagaimana bisa, gadis ingusan ini istri Vano? Kenapa juga tidak ada satupun media yang menayangkan soal pernikahannya?


'Vano, aku kembali dan kau membuatku terluka karena pengakuan abstrakmu. Bohong aku yakin itu kau hanya ingin memanas-manasiku Vano'


#


Hening menguasa diantara mereka, Riana terus menatap jejeran gendung silih berganti seiring laju mobil Devan.


"Masih marah? Karena mambuka jas ku tadi?" Suara bass devan sedikit serak-serak membuat Riana meliriknya, diam gadis itu sebagai jawab yang Drvan simpulkan jika istrinya sedang marah.


Riana menunduk menahan senyum bahagianya.


"Hemm..."


"Kenapa?"


"Gadis tadi itu... Apa dia...?"


"Hemm... Dia mantan kekasihku Riana." Potong Devan.


Riana melirik Devan yang terus fokus ke arah jalan. Ada apa denagan wajah itu ? Dia tidak canggung sedikitpun ketika Riana menanyakan masa lalunya.


"Kenapa?"


"Hemm... Apa kak Devan akan kembali padanya?"


Pertanyaan Riana sontak memberikan gerakan refleks pada kaki pria itu menginjak pedal rem.


"Kakak kenapa?"

__ADS_1


Tanpa menjawab Devan membawa Riana kedalam pelukannya padahal diluar sana mentari seakan membakar bumi.


"Apa yang kau pikirkan Riana? Aku mencintaimu, kau pikir aku akan meninggalkan mu karena dia kembali?" Anggukan kecil Riana membawa senyum pad bibir pria itu.


"Kau bodoh jika berpikir seperti itu Riana. Dengarkan aku baik-baik! Sampai kapan pun, kau akan tetap milikku kau hanya milikku Riana. Tentang gadis itu hanya masa laluku, dan kamu masa depanku."


"Hem..."


Devan melepas pelukannya lalu turun ke bagian perut rata Riana, mengelus lembut penuh harap.


"Semoga kamu cepat hadir di dalam sana!"


Devan memenjamkan matanya menyilipkan doa dan harapan disetiap helai nafasnya.


*


*


*


Lunar memasuki rumah bergaya eropa klasik, masih dengan suasana hati yang kesal gadis itu melempar tasnya diatas sofa, dan hampir mengenai pria yang sedang asik menatap layar hpnya disana, dia Rey.


"Ishh... Lo ada masalah apa sih? Jangan ngelibatin gua kalau lo ada masalah." Sungut Rey kesal.


"Rey, gau mau nanya! Lo taukan Devano Andreas, CEO group Kingdom?"


"Hem... Mantan kekasihmu dulu kan?


"Ish... Apa bener dia udah nikah?"


Perhatian Rey teralihkan. Dia ingatt betul saat di supermarket Devan memeluk mesra Riana. Apa benar Devan telah menikah? Dan istrinya adalah Riana.


"Rey, jawab donk pertanyaan mbak!"


"Hemm... Nggak tau mbak, kalau iya dia udah nikah mungkin seluruh stasiun tv akan menyiarkannya."


Benar kata Rey, Devano kan bukan orang sembarangan tentu jika dia menikah seluruh negara ini akan tahu. Lunar menarik ujung bibirnya tersenyum lalu pergi begitu saja.


"Aneh, ngapain coba nanya cowok lain sedangkan dia punya suami." Rey kembali fokus ke hpnya, sejak tadi dia terus menatap foto Riana di sosial media.


......................

__ADS_1


__ADS_2