
Cahaya mentari menerobos masuk melalui bilik horden yang terhempas karena ulah semilir angin. Riana membuka matanya dia menatap Devan dengan senyum.
Telunjuknya mulai jail, Riana menyentuh alis hitam pekat lalu turun ke garis hidung Devan. Tidak sampai disitu Riana kembali menyentuh bulu mata lentik suaminya, baru saja Riana kembali ingin menyentuh yang kedua kalinya Devan menangkap pergelangan tangan itu. Sekali hentakan dia menindih tubuh istrinya.
"Apa kau sedang menggodaku nyonya Andreas?"
Devan menatap lekat wajah istrinya "Sentuhan mu itu membangunkan hasratku Riana."
Mata Riana membulat saat merasanya bagian bawah tubuh Devan mengeras menggesek paha mulusnya.
"Kak... Aku lelah"
Bagaiman tidak pria itu terus menjamahnya semalam bahkan gadis itu harus terbangun dua kali demi melayani Devan. Anehnya pria ini tidak ada capekknya sedangkan Riana seluruh tubuhnya pegal dan nyeri. Rasanya dia seperti pancuri yang habis di massa warga sekampung.
Devan tersenyum kembali membaringkan dirinya, memeluk erat tubuh Riana yang hanya berbalut selimut berwarnah putih tulang. Dia tidak ingin egois ini pertama kalinya gadis itu, meski hasratnya mulai berggejolak.
"Aku mencintaimu" Bisik Devan
"Aku juga mencintai mu" Ucap Riana seraya menarik mundur tubuhnya sehingga dia bisa melihat wajah yang beberapa hari ini membuatnya menangis.
"Kak..."
"Riana berhenti memanggilku dengan sebutan 'kak'! Kita sudah pelukan, ciuman bahkan tadi malam kita sudah melakukannya sangat wr
erotis dan kamu masih memanggilku dengan sebutan kakak."
"Jadi suamiku ini maunya dipanggil apa?" Riana menangkup kedua pipi Devan
"Sayang... Panggil aku dengan sebutan itu!"
"Sayang" Suara Riana bahkan hampir tak terdengar, dia malu sangat malu.
*
__ADS_1
#
"Bagai mana bisa kak Devan bisa selamat? Pihak maskapai mengkonfirmasi jika tidak ada penumpang yang selamat"
Riana terduduk ditengah kasur berusaha menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut.
Devan menutup matanya kesal baru saja dia menyuruh gadis ini memanggilnya dengan sebutan sayang tapi apa ini? Dia masih memanggilnya dengan sebutan kakak.
"Riana..."
"Aku belum terbiasa. Pertanyaan Riana belum dijawab kak."
"Karena aku tidak naik di pesawat itu." Ucap Devan entang. Riana mengerutkan alisnya tidak mengerti.
#Flashback
Felix mengemudikan mobilnya sedikit laju wajahnya gelisah, sesekali dia melirik jam melingkar ditangannya. Sedangkan, si biang masalah terlihat lebih santai dan asik chatingan dibelakang sana.
Kikkkk... Felix yang tiba-tiba menginjak rem mendadak membuat tubuh Devan condong kedepan.
"Lo gila Lix? Kalau emang lo mau mati hari ini jangan ajak gua! Gua ngga mau, apa lagi mati sama lo."
"Maaf Pak, mobil didepan kita ini ngerem mendadak." Ucap Felix seraya turun memeriksa keadaan.
Benar saja, ada kecelakaan di depan sana sebuah mobil bus terbalik sehingga menabrak beberapa pengendara lainnya. Felix kembali melirik jamnya lalu segera masuk kemobilnya.
"Kita ambil jalan lain menuju bandara!"
"Tidak. Bandara hanya tersisah beberapa meter dari sini, kalau lo ngambil jalan lain itu sama aja kalau kita nunggu sampai kemacetan ini berakhir. Jadi, gua ngga mau!"
Felix terlihat berfikir, benar juga apa yang dikatakan Devan walau dia mengambil jalan lain pasti juga akan terlambat.
"Bagai mana pun kita udah telat Lix, lo berdoa aja tu pesawat delay." Devan memejamkan matanya berharap dia menikmati kemacetan membuat kesabarannya selalu diuji.
__ADS_1
"Gua heran deh sama lo Van, lo masih bisa santai disaat seperti ini. Lo tau kan kontarak kerja sama ini ? Keuntungan kita bukan lagi miliaran bro tapi triliunan setiap detik." Felix mendeengus kesal.
Mendengar itu Devan membuka matanya, senyumnya bahkan hampir tak terlihat.
"Lix, dengerin gua! Yang namanya rezeki itu ngga bakal lari kok. Mr. Karan menerima kerja sama dengan Kingdom itu karena dia tahu kualitas kita. So, lo ngga usah kawatir! Semua akan baik-baik saja." Devan mengedipkan matanya sebelah.
"Terus kalau bukan rezeki gimana?"
"Ya pulang lah, lo mau tinggal disana? Kalau gua ogah, gua punya bini cantik dirumah nunggu gua pulangan. Ngga kaya lo jomblo ngenes." Ucap Devan.
Kali ini keberuntung tidak berpihak ke mereka, pesawat yang akan mereka naiki sudah lepas landas sekitar sejam yang lalu. Felix menemui pihak bandara menanyakan apa masih ada pesawat yang bisa dia tumpangi saat ini.
Melihat wajah murung Felix, Devan bisa mangmbil kesimpulan jika situasi saat ini tidak baik. Sebagai teman baik Devan mencoba menghibur Felix dengan menepuk pundaknya
"Tenang aja! Gua tetap kasi lo bonus akhir bulan nanti." Felix mendongak menatap tajam wajah Devan,
"Waw..." Devan mengangkat tangannya ke udara
Felix mendsengus kesal iming-iming gajinya akan naik telah sirna seketika bukan hanya dia semua karyawan disana. Benar kata Devan, mungkin bukan rezeki mereka bisa bekerja sama dengan Mr. Karan.
Di ambang keputus asaan ada secercah cahaya harapan, sekertaris Mr. Karan menelpon. Felix mendenarnya sangat serius sesekali mengangguk, Devan yang melihat tingkah laku seekrtarisnya itu hanya menggeleng. "Dia sudah gila".
Felix melangkah mendekati Devan setelah dia menutup telponnya.
"Lets go! Temui pabrik uang kita" Ucap Felix dengan semangat. Devan hanya mengerutkan alisnya tidak mengetri.
Disinilah Devan didalam jet pribadi nan mewah, Devan melirik kearah Felix sekan meminta penjelasan.
"Oke, Mr. Karan mengirim ini untuk kita. Saat ini beliau sedang berduka, subuh tadi ibunya meninggal. Beliau sangat minta maaf karena hal ini! Jadi, beliau mengirim ini agar kita menemuinya." Jelas Felix
Felix tersenyum melihat Devan sudah tertidur, itu karena Felix memberikan obat tidur kedalam minuman Devan. Felix melakukannya karena dia sudah tahu jika Devan pasti tidak setuju jika harus ke Istambul. Devan bukan tipe seperti itu.
#*Flashoof*
__ADS_1
......................